Cerpen “Liefje WIM: Bagian 5”

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA, Jumat (31/07/2026) – Cerpen berjudul “Liefje WIM: Bagian 5” ini merupakan karya tulis Dewi Tri Handayani, S.T., seorang pejuang lingkunganyang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. 

Berita kedatangan Wim setiap empat bulan sekali, selalu yang kutunggu. Sehari sebelum dia mendarat di ibukota, suasana rumah sudah sangat berubah. Kulkas sudah dipenuhi minuman karena dia suka sekali ngobrol dan minum sampai larut malam dan tentunya semua tema pembicaraan akan muncul, entah dari mana asal muasalnya. Terkadang kalau dia lengah, entah sudah berapa puluh kali aku menguap.

Saat itu mobil kami sudah siap menjemput Wim ke Jakarta. Aku enggan ikut karena ritmenya sudah diluar kepalaku. Namun,  ada hal yang sangat mendorongku untuk ikut ke ibukota, ya menjemput dia.

Wim tidak tau aku ada di dalam penjemputannya. Dia pasti turun dari pesawat KLM menjadi orang terakhir dan kami sudah memakluminya. Di dalam pesawat dia bercukur, memakai jas, dan dasinya, tampak neetjes (rapi) sekali. Dari kejauhan dia sudah disambut Willy dan supir kami. Aku menyelinap di kerumunan para penjemput lainnya.

Aku colek Wim dari belakang, “Welkom Wim, Ik wacht al een tijde op je.” (Selamat datang Wim, aku sudah menunggumu sedari tadi)

Wim sudah tidak bisa berkata-kata, tapi dia hanya bilang, “Oo-0ww, Mijn meisje, zorgt altijd voor verrassingen.” (gadis kecilku, kamu selalu bikin kejutan).

Sepanjang perjalanan ke kota kecil kami, tak henti-hentinya dia menatapku dan tersenyum. Wim, wat is het toch makkelijk om je blij te maken (Wim, betapa mudahnya membuat kau bahagia).

Wim Adalah lelaki romantis. Tak pernah sekalipun dia membiarkanku membuka pintu mobil sendiri dan gerakan tangannya selalu refleks menarik kursi kalau terlihat aku mau duduk. Wim, een romantische man.

Kini semua ini hanya tinggal cerita yang sudah kukubur dalam-dalam, sedalam rinduku untuknya. Dia tidak pernah kembali. Aku hanya sempat menyelipkan kata terakhir via telepon rumah kami waktu itu, Ik Zal altijd van je houden. (Wim, sampai kapanpun aku akan selalu menyayangimu) dan Wim hanya menjawab…oooohhh ja, belooft je dat? (janji ya).

Wim, aku masih menyimpan koin Rp 500 yang pernah bertahun-tahun kau simpan di dalam dompet kulitmu. Aku tidak tahu, sejauh mana kau berharap terhadap aku.

Akhir Agustus Aku hanya mendengar, lewat Jan Groosman, sobat karibmu yang selalu mengabarkan semua prosesi pemakamanmu dari sana.  Jan cerita seminggu lamanya kau disemayamkan di rumahmu. Semua teman-teman dan relasimu datang melepas kepergianmu. Jan sempat bertanya lagu apa yang bisa diputar saat kau dikremasi untuk mengenangmu. Aku ingat sekali lagu yang selalu aku nyanyikan dan membuat pipimu bersemu merah, ingat Wm?

Selepas kepergianmu, aku bingung. Semua terasa aneh, seaneh rasa yang hadir saat aku menulis tentangmu.

Wim, waar je nu bent, wacht op mij (Wim, dimanapun kau berada, tunggu aku).

***

Kembali ke bagian 1

Kembali ke bagian 2

Kembali ke bagian 3

Kembali ke bagian 4

Judul: Liefje WIM: Bagian 5

Penulis: Dewi Tri Handayani, S.T.

Editor: JHK

Sekilas tentang Penulis

Dewi Tri Handayani bukanlah orang asli Cimahi. Ia sama sekali tak membayangkan kalau akhirnya akan tinggal di kota ini. Namun, jodohlah yang telah menuntunnya hadir dan menjadi bagian dari kisah yang tumbuh di sini.

Dewi Tri Handayani, penulis – (Sumber: BJN)

Di Kota Cimahi ini, Dewi tidak hanya menemukan rumah, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Selain budaya Sunda yang hangat dan penuh kearifan, ia belajar memahami budaya lain yang turut mewarnai perjalanan hidupnya. Dari sana, ia mengenal bahasa ibu yang berbeda. Bahkan, bahasa Belanda yang pernah begitu dekat dalam kesehariannya.

Waktu berjalan, dan perlahan banyak kenangan tentang Belanda mulai memudar dari ingatan Dewi. Meski demikian, jejak tentang negeri bunga tulip tersebut tetap terukir dalam relung hatinya yang paling dalam. Ada nilai, cerita, dan rasa yang tidak pernah benar-benar hilang, sekalipun jarak dan waktu terus berlalu.

Kini, wanita yang terlihat selalu ceria ini mencintai kedua budaya itu dengan cara yang istimewa. Keduanya telah membentuk cara pandang Dewi, memperkaya jiwanya, dan menjadi bagian dari identitas yang melekat dalam dirinya. Menurutnya, mengenal dua budaya ini sama artinya dengan mengenal dirinya sendiri—lebih dalam, lebih utuh, dan lebih bermakna.

***