Pendidikan Bukan Sekadar Mengisi Bangku Sekolah

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Jumat (31/07/2026) – Artikel berjudul “Pendidikan Bukan Sekadar Mengisi Bangku Sekolah” merupakan karya tulis Ummu Fahhala, S. Pd., seorang Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi yang tinggal di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Awal tahun ajaran 2026 menyisakan potret yang patut menjadi perhatian bersama. Di sejumlah daerah, beberapa sekolah dasar negeri memulai kegiatan belajar dengan jumlah murid baru yang sangat sedikit. Bahkan, terdapat sekolah yang tidak memperoleh peserta didik sama sekali. Di sisi lain, sekolah-sekolah swasta, khususnya yang menawarkan penguatan pendidikan agama dan pembinaan karakter, justru mengalami peningkatan jumlah pendaftar.

Pemerintah menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh penurunan jumlah anak usia sekolah, penuaan struktur penduduk, dan urbanisasi. Sebagai langkah penanganan, pemerintah mempertimbangkan penggabungan atau regrouping beberapa sekolah. Namun, kebijakan itu juga memunculkan tantangan baru karena jarak sekolah menjadi semakin jauh dari lingkungan tempat tinggal masyarakat. (CNNIndonesia.com, 15 Juli 2026)

Setiap orang tua tentu menginginkan pendidikan terbaik bagi anaknya. Oleh karena itu, pilihan mereka terhadap sebuah sekolah tidak lahir secara tiba-tiba. Keputusan tersebut merupakan hasil pertimbangan panjang mengenai lingkungan belajar, pembentukan karakter, keamanan pergaulan, hingga nilai-nilai yang ditanamkan selama proses pendidikan.

Ummu Pahhala
Ummu Pahhala, Penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Fenomena ini layak dibaca sebagai bahan evaluasi bersama. Ketika masyarakat mengubah pilihannya, sesungguhnya mereka sedang menyampaikan aspirasi yang tidak selalu terucapkan melalui kata-kata.

Perubahan demografi memang tidak dapat diabaikan. Menurunnya angka kelahiran menyebabkan jumlah calon peserta didik ikut berkurang. Urbanisasi juga membuat persebaran penduduk semakin tidak merata sehingga sebagian sekolah kehilangan basis peserta didiknya. Namun, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa banyak orang tua rela mengeluarkan biaya lebih besar untuk menyekolahkan anak di sekolah swasta?

Jawabannya tampaknya berkaitan dengan rasa aman. Banyak orang tua berharap sekolah mampu menjadi tempat yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga menjaga akhlak, membiasakan ibadah, mengajarkan adab, serta menghadirkan lingkungan pergaulan yang sehat. Harapan itu muncul seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap berbagai persoalan yang melibatkan anak dan remaja, seperti perundungan, kekerasan, penyalahgunaan media digital, hingga menurunnya etika dalam pergaulan.

Di tengah situasi tersebut, pendidikan agama tidak lagi dipandang sebagai pelengkap. Sebaliknya, ia menjadi kebutuhan yang dianggap mampu memperkuat benteng moral generasi.

Selama bertahun-tahun, berbagai pembaruan kurikulum telah dilakukan. Program pendidikan karakter juga terus diperkenalkan. Berbagai inovasi pembelajaran lahir silih berganti.

Upaya tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, hasil akhirnya tetap perlu dievaluasi secara jujur. Pendidikan karakter tidak cukup dibangun melalui perubahan dokumen kurikulum atau penambahan program seremonial. Karakter tumbuh melalui keteladanan, budaya sekolah, lingkungan yang kondusif, serta nilai yang konsisten diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pembahasan mengenai krisis murid baru semestinya tidak berhenti pada persoalan penggabungan sekolah ataupun distribusi peserta didik. Persoalan ini juga mengajak kita menelaah kembali apakah arah pendidikan benar-benar telah menjawab kebutuhan utama masyarakat, yakni melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak mulia.

Solusi Islam

Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pendidikan. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw. berbunyi, “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (Q.S. Al-‘Alaq: 1). Ayat tersebut menunjukkan bahwa pembangunan peradaban dimulai dari ilmu.

Rasulullah saw. juga bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (H.R. Ibnu Majah No. 224). Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan mendasar setiap manusia. Oleh sebab itu, penyelenggaraan pendidikan yang bermutu menjadi tanggung jawab yang harus dipenuhi secara sungguh-sungguh.

Sejarah Islam memperlihatkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan akhlak. Rasulullah saw. membina para sahabat melalui keteladanan yang menyatukan ilmu, iman, dan amal. Hasilnya, lahirlah generasi yang memiliki integritas tinggi, kecakapan berpikir, dan tanggung jawab sosial.

Tradisi tersebut kemudian dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin. Salah satu contohnya adalah Umar bin Khattab ra., yang dikenal memberi perhatian besar terhadap pengajaran Al-Quran, pembinaan guru, serta penyebaran ilmu ke berbagai wilayah.

Pada masa-masa berikutnya, dunia Islam melahirkan banyak pusat pendidikan, perpustakaan, dan lembaga ilmu pengetahuan yang menjadi rujukan dunia. Hal itu menunjukkan bahwa pembangunan manusia selalu ditempatkan sebagai fondasi kemajuan masyarakat.

Dalam perspektif Islam, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur melalui capaian akademik, tetapi juga melalui lahirnya manusia yang memiliki keimanan, akhlak, kecerdasan, dan kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, sinergi antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara menjadi unsur yang tidak dapat dipisahkan. (Ummu Fahhala).

***

Judul: Pendidikan Bukan Sekadar Mengisi Bangku Sekolah

Penulis: Ummu Fahhala, S. Pd., Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi
Editor: JHK