BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Rabu (22/07/2026) – Artikel berjudul “Wisata sebagai Ruang Belajar Nilai” merupakan karya tulis Ummu Fahhala, S. Pd., seorang Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi yang tinggal di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Pengembangan wisata ramah muslim akan memiliki makna yang lebih mendalam apabila dipahami bukan sekadar sebagai penyedia layanan bagi wisatawan muslim, melainkan sebagai ruang yang menghadirkan pengalaman belajar tentang nilai-nilai Islam.
Dalam konteks ini, destinasi wisata tidak hanya menawarkan keindahan alam atau kemegahan bangunan, tetapi juga memperkenalkan etika, budaya, sejarah, dan karakter masyarakat yang tumbuh dari ajaran Islam. Dengan demikian, wisata menjadi media pembelajaran yang berlangsung secara alami melalui pengalaman langsung.

Pendekatan semacam ini penting karena identitas sebuah daerah tidak hanya dibentuk oleh lanskap geografis, tetapi juga oleh nilai yang hidup di tengah masyarakatnya. Jawa Barat memiliki warisan Islam yang kaya, mulai dari sejarah penyebaran dakwah para ulama, tradisi pesantren, seni bernuansa Islami, arsitektur masjid bersejarah, hingga budaya gotong royong yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.
Kekayaan tersebut merupakan modal budaya yang layak diperkenalkan kepada wisatawan secara edukatif, sehingga mereka tidak hanya membawa pulang foto-foto perjalanan, tetapi juga memperoleh pemahaman baru tentang nilai, sejarah, dan kearifan lokal.
Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, perjalanan bukan hanya aktivitas rekreasi. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia berjalan di muka bumi untuk mengambil pelajaran. Allah Swt. berfirman, “Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, lalu perhatikanlah bagaimana Allah memulai penciptaan.'” (Q.S. Al-‘Ankabūt [29]: 20).
Demikian pula Allah Swt. berfirman, “Maka tidakkah mereka berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami…” (Q.S. Al-Ḥajj [22]: 46).
Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa perjalanan memiliki dimensi intelektual dan spiritual. Wisata menjadi sarana untuk memperluas wawasan, menumbuhkan rasa syukur, memperkuat keimanan, sekaligus mengambil hikmah dari sejarah dan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, konsep wisata ramah muslim akan lebih utuh apabila menghadirkan unsur edukasi di setiap destinasi.
Pengelola dapat menyediakan informasi mengenai sejarah masjid, kisah para ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di daerah tersebut, filosofi arsitektur bangunan, nilai-nilai budaya lokal yang selaras dengan ajaran Islam, hingga praktik pelestarian lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Allah Swt.
Pendekatan ini menjadikan wisata tidak berhenti sebagai aktivitas konsumtif, tetapi berkembang menjadi pengalaman yang memperkaya pengetahuan dan membangun kesadaran.
Lebih jauh lagi, destinasi wisata dapat menjadi ruang dakwah yang bijaksana. Dakwah dalam konteks ini bukanlah ceramah yang memaksa atau menghakimi, melainkan menghadirkan keteladanan melalui pelayanan yang santun, kebersihan yang terjaga, kejujuran dalam transaksi, keramahan kepada tamu, serta kepedulian terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sering kali berbicara lebih kuat daripada kata-kata.
Allah Swt. mengajarkan prinsip dakwah yang penuh hikmah, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik.” (Q.S. An-Naḥl [16]: 125).
Ayat ini mengingatkan bahwa dakwah yang efektif lahir dari kebijaksanaan, kelembutan, dan keteladanan. Karena itu, pelayanan yang berintegritas di kawasan wisata dapat menjadi bentuk dakwah yang dirasakan langsung oleh setiap pengunjung, tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya mereka.
Teladan tersebut tampak dalam kehidupan Rasulullah saw. Beliau dikenal sebagai pribadi yang jujur, amanah, ramah, dan menghormati setiap orang. Bahkan sebelum diangkat menjadi nabi, masyarakat Makkah telah memberi beliau gelar Al-Amīn karena integritasnya.
Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam, memuliakan tetangganya, dan memuliakan tamunya.” (H.R. al-Bukhari No. 6018 dan Muslim No. 47).
Hadis ini memberikan fondasi etika yang sangat relevan bagi pengembangan pariwisata. Memuliakan tamu bukan sekadar memberikan pelayanan yang baik, tetapi juga menciptakan suasana yang aman, nyaman, jujur, dan penuh penghormatan terhadap martabat manusia.
Selain menjadi ruang edukasi dan dakwah yang bijaksana, destinasi wisata juga berperan penting dalam melestarikan budaya Islam yang telah tumbuh di Nusantara. Tradisi kaligrafi, seni baca Al-Quran, arsitektur masjid, naskah kuno, kuliner halal, kerajinan bernuansa Islami, hingga kearifan lokal yang tidak bertentangan dengan syariat merupakan bagian dari warisan peradaban yang patut dijaga.
Pelestarian tersebut tidak hanya memperkuat identitas budaya daerah, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan wajah Islam yang menghargai ilmu pengetahuan, keindahan, kebersihan, dan kemanusiaan.
Dalam kerangka maqāṣid al-syarī’ah, pendekatan ini menghadirkan manfaat yang lebih luas. Wisata tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga menjaga agama melalui penguatan literasi keislaman (ḥifẓ al-dīn), menjaga akal melalui edukasi (ḥifẓ al-‘aql), menjaga harta melalui tata kelola yang jujur (ḥifẓ al-māl), serta menjaga kehidupan sosial melalui pembentukan akhlak yang mulia. Dengan demikian, pembangunan pariwisata benar-benar menjadi bagian dari pembangunan manusia secara utuh.
Penutup
Pada akhirnya, keberhasilan wisata ramah muslim tidak hanya diukur dari banyaknya wisatawan yang datang atau besarnya kontribusi terhadap pendapatan daerah. Keberhasilan yang lebih hakiki adalah ketika setiap destinasi mampu meninggalkan jejak kebaikan dalam diri pengunjung, menguatkan karakter masyarakat, melestarikan warisan budaya Islam, dan menghadirkan nilai-nilai akhlak dalam setiap layanan.
Ketika fungsi-fungsi tersebut berjalan beriringan, wisata tidak lagi sekadar menjadi tempat singgah, melainkan ruang belajar yang menumbuhkan ilmu, adab, dan kesadaran akan pentingnya hidup yang memberi manfaat bagi sesama. (Ummu Fahhala).
***
Judul: Wisata sebagai Ruang Belajar Nilai
Penulis: Ummu Fahhala, S. Pd., Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi
Editor: JHK