BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA, Kamis (23/07/2026) – Artikel berjudul “Wisata Edukasi ke Kampung Adat Cireundeu: Menelusuri Warisan Rasi dan Ketahanan Pangan Lokal” ini merupakan karya tulis Dewi Tri Handayani, S.T., seorang pejuang lingkunganyang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Hari ini sungguh sangat luar biasa bagi kami, ibu-ibu Pendidikan Perempuan Indonesia (PPI) gabungan lintas angkatan yang berjumlah 25 orang. Kami berkesempatan mengikuti perjalanan wisata edukasi ke Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi dengan menggunakan kendaraan bus wisata SAKOCI (Saba Kota Cimahi).
Sejak berangkat hingga perjalanan pulang, suasana di dalam kendaraan begitu meriah. Kami tak henti-hentinya bernyanyi, bercanda, dan bersenda gurau. Tawa riang mengiringi perjalanan, membuat momen kebersamaan terasa begitu hangat dan menyenangkan.

Sesampainya di Kampung Adat Cireundeu, kami disambut oleh Kang Ajat, warga lokal yang dengan ramah menemani kami berkeliling sekaligus berbagi cerita tentang sejarah dan kearifan masyarakat adat Cireundeu. Dari penuturan beliau, kami mengetahui bahwa sejak 1918 masyarakat Cireundeu mulai meninggalkan konsumsi nasi beras sebagai bentuk perlawanan dan protes terhadap penjajahan dengan semangat untuk meraih kemerdekaan.
Menariknya, pada masa itu mereka belum mengonsumsi nasi singkong karena belum mengetahui cara mengolah singkong menjadi makanan pokok. Sebagai gantinya, mereka mengandalkan jagung, hanjeli, talas, dan berbagai umbi-umbian lainnya sebagai sumber pangan.
Barulah pada 1924, sesepuh Cireundeu, Ibu Omah Asnamah, berhasil mengolah singkong menjadi nasi singkong atau sangu sampeu – kini lebih dikenal sebagai rasi (beras singkong). Sejak saat itulah masyarakat adat Cireundeu menjadikan rasi sebagai makanan pokok dan tetap konsisten menjaga warisan leluhur hingga sekarang.

Hal yang paling menarik, Kang Ajat sendiri mengaku hingga saat ini belum pernah merasakan nasi beras. Sebuah bukti nyata bahwa masyarakat adat Cireundeu benar-benar memegang teguh amanat para leluhurnya.
Atas dedikasinya dalam mengembangkan pangan lokal, pada 1964 Ibu Omah Asnamah memperoleh penghargaan dari Wedana Cimahi sebagai Pahlawan Pangan. Bahkan pada masa Orde Baru, ketika pemerintah menggalakkan kebijakan konsumsi beras sebagai makanan pokok nasional, masyarakat adat Cireundeu tetap teguh mempertahankan rasi sebagai identitas pangan mereka. Mereka tidak terpengaruh oleh kebijakan tersebut dan tetap setia pada kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Kisah masyarakat adat Cireundeu memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita. Di tengah ancaman krisis pangan global saat ini, sudah saatnya kita mulai membuka pola pikir tentang pentingnya penganekaragaman pangan.

Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan lokal yang melimpah dan tidak harus selalu bergantung pada beras. Ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” mungkin sudah saatnya kita ubah. Dengan memanfaatkan potensi pangan lokal seperti singkong, jagung, hanjeli, talas, dan berbagai sumber karbohidrat lainnya, kita dapat membangun ketahanan pangan yang lebih kuat sekaligus melestarikan warisan budaya bangsa.
Perjalanan hari ini bukan sekadar wisata, tetapi juga menjadi pengalaman yang membuka wawasan, mengajarkan arti kemandirian pangan, serta mengingatkan bahwa menjaga warisan leluhur adalah bagian penting dari menjaga masa depan.
***
Judul: Wisata Edukasi ke Kampung Adat Cireundeu: Menelusuri Warisan Rasi dan Ketahanan Pangan Lokal
Penulis: Dewi Tri Handayani, S.T.
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Dewi Tri Handayani bukanlah orang asli Cimahi. Ia sama sekali tak membayangkan kalau akhirnya akan tinggal di kota ini. Namun, jodohlah yang telah menuntunnya hadir dan menjadi bagian dari kisah yang tumbuh di sini.

Di Kota Cimahi ini, Dewi tidak hanya menemukan rumah, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Selain budaya Sunda yang hangat dan penuh kearifan, ia belajar memahami budaya lain yang turut mewarnai perjalanan hidupnya. Dari sana, ia mengenal bahasa ibu yang berbeda. Bahkan, bahasa Belanda yang pernah begitu dekat dalam kesehariannya.
Waktu berjalan, dan perlahan banyak kenangan tentang Belanda mulai memudar dari ingatan Dewi. Meski demikian, jejak tentang negeri bunga tulip tersebut tetap terukir dalam relung hatinya yang paling dalam. Ada nilai, cerita, dan rasa yang tidak pernah benar-benar hilang, sekalipun jarak dan waktu terus berlalu.
Kini, wanita yang terlihat selalu ceria ini mencintai kedua budaya itu dengan cara yang istimewa. Keduanya telah membentuk cara pandang Dewi, memperkaya jiwanya, dan menjadi bagian dari identitas yang melekat dalam dirinya. Menurutnya, mengenal dua budaya ini sama artinya dengan mengenal dirinya sendiri—lebih dalam, lebih utuh, dan lebih bermakna.
***