BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA, Kamis (16/07/2026) – Cerpen berjudul “Liefje WIM: Bagian 2” ini merupakan karya tulis Dewi Tri Handayani, S.T., seorang pejuang lingkunganyang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Wim datang tiga bulan sekali. Dua minggu kehadirannya di sini selalu membawa cerita yang berbeda-beda. Terkadang kami tertawa dengan istilah-istilah baru yang lucu. Dia memanggilku Mevrouw de Boer (ibu petani), bukan bermaksud menghina. Ternyata, dibalik itu dia sangat memuliakan latar belakang panggilan itu. Di Belanda, petani dianggap pekerjaan mulia. Ya, tentu saja karena lahan mereka tidak seluas seperti di Indonesia.
Wim mengajak aku dan anak-anak bepergian ke tempat yang baru. Biasanya, selain mengenang zaman kolonial, dia berinteraksi dengan penduduk sekitar dengan membagikan uang. Terkadang bekal yang dia bawa Rp 100 juta atau lebih habis dibagikan kepada orang-orang. Een aardige Wim (Wim si pemurah).
Suatu malam yang sudah cukup larut, kami kedatangan sepasang orang asing. Mereka diarahkan aparat kepolisian ke tempat kami. Kedua orang asing itu cuma membawa secarik kertas bertuliskan Tjibabat. Ternyata mereka sepupu jauh kami, Mariam yang datang dari Itali. Memang dia sudah lama mencari familie di sini lewat program family lost. Ajaib ya.
Wim mengajarkan banyak kosa kata baru. Di tempat belajar Bahasa asing, aku lebih unggul. Ya, bagaimana tidak, bahasa itu setiap hari aku pakai untuk berkomunikasi.
Ujung jalan depan rumah, tempat kami berpisah, sarat cerita. Wim datang biasanya setelah Isya. Dia pasti membawa tas kesayangannya yang tentu saja selain berisi uang. Juga dokumen penting lainnya.
Kami terkadang menghabiskan waktu sampai larut malam dan bercerita tanpa topik yang jelas. Tentu saja kedatangan Wim ke rumah karena rumah Willy kedatangan tamu-tamunya – sudah jadi rahasia umum, siapa Willy. Kapan-kapan kuceritakan tentang Willy.
Wim bercerita tentang isi rumah di sana, bagaimana dia mencintai Indonesia lebih dari negaranya. Mungkin juga karena ada aku dalam cerita seru kehidupannya.
Aku sudah cukup puas membayangkan seandainya suatu saat nanti di dalam hidupku aku pernah datang mengunjunginya, walau kini Wim sudah menjadi debu. Wim tidak sempat pamit padaku. Dia seperti bayang-bayang. Wim selalu hadir dalam mimpi-mimpiku, seperti dulu dia hadir persis seperti janjinya padaku.
Braga straat, tjibabat, dan semua tempat yang pernah kami kunjungi bersama menyimpan cerita bahwa Wim orang baik. Dia pergi di hari yang baik. Wim seorang humanis. Dia tidak mengenal Tuhannya, tapi dia memanusiakan aku selayaknya manusia.
Wim, Ik mis je wat we samen hadden, ik mis je elke dag (Wim, aku merindukanmu, setiap hari)
Kehadiran Wim hanya sebentar. Dia mengubah semuanya: kepercayaan diri yang tidak pernah kupunya, hadir seiiring dengan kehadirannya.
Wim, je betekent zoveel
***
Lihat Cerpen “Liefje WIM: Bagian 1“
Judul: Liefje WIM: Bagian 2
Penulis: Dewi Tri Handayani, S.T.
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Dewi Tri Handayani bukanlah orang asli Cimahi. Ia sama sekali tak membayangkan kalau akhirnya akan tinggal di kota ini. Namun, jodohlah yang telah menuntunnya hadir dan menjadi bagian dari kisah yang tumbuh di sini.

Di Kota Cimahi ini, Dewi tidak hanya menemukan rumah, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Selain budaya Sunda yang hangat dan penuh kearifan, ia belajar memahami budaya lain yang turut mewarnai perjalanan hidupnya. Dari sana, ia mengenal bahasa ibu yang berbeda. Bahkan, bahasa Belanda yang pernah begitu dekat dalam kesehariannya.
Waktu berjalan, dan perlahan banyak kenangan tentang Belanda mulai memudar dari ingatan Dewi. Meski demikian, jejak tentang negeri bunga tulip tersebut tetap terukir dalam relung hatinya yang paling dalam. Ada nilai, cerita, dan rasa yang tidak pernah benar-benar hilang, sekalipun jarak dan waktu terus berlalu.
Kini, wanita yang terlihat selalu ceria ini mencintai kedua budaya itu dengan cara yang istimewa. Keduanya telah membentuk cara pandang Dewi, memperkaya jiwanya, dan menjadi bagian dari identitas yang melekat dalam dirinya. Menurutnya, mengenal dua budaya ini sama artinya dengan mengenal dirinya sendiri—lebih dalam, lebih utuh, dan lebih bermakna.
***