BERITA JABAR NEWS (BJN), Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (22/07/2026) – Maraknya penggunaan gadget di era digital telah mengubah pola pergeseran hiburan pada kalangan anak-anak dan remaja sehingga warisan budaya berupa permainan tradisonal mulai ditinggalkan. Bahkan, banyak di antara mereka yang tidak mengenal sama sekali, padahal jumlahnya banyak dan beragam.
Nama permainan tradisional yang hilang atau terlupakan, bukan saja dari sisi budaya, tetapi juga dari sisi tatanan nilai-nilai sosial yang terkandung di dalam permainan tradisional tersebut. Tidak heran kalau sekarang sangat sulit ditemukan aneka permainan tradisional yang dulu pernah dimainkan oleh orang tua atau kakek nenek mereka zaman dulu.
Sebuah yayasan bernama Yayasan Nararya Nyarita Indonesia berusaha menghidupkan kembali permainan tradisional yang telah punah tersebut dengan menggagas sebuah kegiatan bertajuk “Festival Kaulinan Barudak Manglayang”. Kegiatan yang berlangsung selama Juli-Agustus 2026 ini bertujuan untuk mengingat dan mengenang kembali, serta mempelajari lebih dalam nilai-nilai sosial yang terkandung di dalamnya dengan menggelar wicara, lokakarya, dan festival yang mementaskan ragam permainan tradisional.

Mengawali kegiatan, panitia membuka kegiatan perdana yayasan ini dengan menggelar “Wicara Kaulinan Barudak Manglayang” dengan tema “Nilik ti nu Kapungkur, Ngawangun nu Kiwari” yang menghadirkan dua pemateri dari akademisi dan praktisi yaitu Samson, CMS, S.Sos., M.I.Kom (Dosen Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Padjadjaran) dan Dadan Sutisna dari Yayasan Kebudayaan Rancage.
Kegiatan gelar wicara berlangsung di ruang publik Leuweung Awi, Padaringan, Kelurahan Cisurupan, Kota Bandung yang terletak di puncak kaki Gunung Manglayang. Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai unsur, seperti seniman, pegiat literasi, karang taruna, tokoh masyarakat, dan pegiat Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata).
Dalam pemaparan materinya, Samson menjelaskan bahwa dalam setiap permainan tradisional yang suka dilakukan oleh anak-anak, ada tujuan tertentu dan mengandung nilai-nilai sosial atau dalam istilah sekarang dikenal dengan nilai-nilai integritas.

“Yang namanya permainan tradisional dilakukan oleh lebih dari satu orang anak, tentu jauh beda dengan permainan modern zaman sekarang yang terdapat di gadget, cenderung bersifat individualistik sehingga dinamakannya juga mainan karena dilakukan satu anak saja. Terlihat ramai karena mereka berinteraksi di dunia maya, tanpa harus bersentuhan secara fisik,” ungkap Samson.
Sungguh indah sekali nenek moyang kita dalam menciptakan beragam permainan tradisional. Tentu saja dalam permainan tradisional ini banyak sekali filosofi yang terkandung di dalamnya, bagaimana caranya supaya dari permainan tersebut menyenangkan, melatih jiwa dan raga, serta mendekatkan komunikasi dengan sesama teman.
“Hal tersebut tentu sangat beda sekali dengan zaman sekarang. Coba lihat di warnet atau tempat bermain game online. Mereka asyik dengan dunianya sendiri tanpa menghiraukan temannya yang berada di sampingnya,” tambah Samson.
Perlu kita ketahui bahwa pemainan tradisional ini ada jenis atau temanya, di antaranya terdapat permainan logika, kinestetik, spasial, musikal, dan ketangkasan.
“Semua permainan ini tentu mengandung maksud dan tujuan, tetapi tetap intinya agar kita bisa menjalin silaturahmi dengan sesama, saling kenal dan jauh dari sifat permusuhan, serta terciptanya sifat rukun atau dalam bahasa Sunda disebut guyub dan penuh dengan welas asih (Kasih sayang),” pungkas Samson ketika menutup obrolannya. (Rohman/BJN).
***
Judul: Menghidupkan Kembali Warisan Budaya Melalui Gelar Wicara Kaulinan Barudak Manglayang
Kontributor: Rohman Gumilar
Editor: JHK