Raung Maung #2: Ketika Seni Menjadi Suara bagi Alam yang Terluka

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Minggu (01/11/2026) – Tulisan berjudul “Raung Maung #2: Ketika Seni Menjadi Suara bagi Alam yang Terluka” ini adalah sebuah artikel populer karya Jumari Haryadi atau biasa disingkat J. Haryadi. Ia merupakan seorang dosen, penulis, jurnalis, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni).  

Cuaca di Kota Bandung sedang tidak bersahabat. Langit tidak cerah. Matahari terlihat malu-malu dan enggan menampakkan dirinya. Beberapa butir air sudah mulai menetes ke bumi yang selama ini kering dilanda kemarau.

Hari itu, Rabu, 28 Oktober 2026 adalah hari Sumpah Pemuda. Ini momen penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Pada hari yang sama, ada sebuah perhelatan penting yaitu pameran seni rupa dan desain bertajuk “RAUNG MAUNG #2” yang harus saya hadiri. Acara tersebut digelar oleh para seniman yang tergabung dalam paguyuban “Angkatan Seni Rupa ’98” di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung.

Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung – (Sumber: BJN)

Bagi saya, hujan bukan masalah untuk menghadiri undangan rekan saya: Kang Yoppy Yohana (Ki Ibun), sang Ketua Panitia “RAUNG MAUNG #2”. Ia merupakan alumni Program Studi Pendidikan Seni Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (2021). Selain itu, ia juga bekerja sebagai guru di SMPN 35 Bandung.

Kebetulan istrinya, Dr. Titing Kartika, S.Pd., M.M., M.B.A., Tourism, sudah lama saya kenal sebagai sesama penulis yang tergabung dalam berbagai komunitas kepenulisan di Kota Bandung. Titing juga merupakan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata (STIEPAR) YAPARI Bandung yang mengemban tugas sebagai Wakil Ketua II Bidang Administrasi Umum, Sumber Daya Manusia, Keuangan, dan Kerja Sama di kampus tersebut. 

Di bawah memericik air hujan, saya bergerak dari kediaman saya di daerah Jalan Cihanjuang, Kabupaten Bandung Barat menuju ke lokasi acara pusat Kota Bandung. Saya berangkat mengendarai sepeda motor bersama salah seorang rekan saya, Drs. Moh. Sobirin. Rekan saya ini merupakan seorang pelukis, alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi (ITB) Bandung.

Kendaraan yang kami tumpangi menyusuri jalanan Kota Bandung yang mulai diguyur hujan. Bagi saya, ini merupakan sebuah berkah karena selama ini masyarakat merindukan hujan. Kemarau panjang telah membuat banyak tanaman mati, hutan terbakar, dan bencana asap di mana-mana. Bahkan, tetangga kita Singapura dan Malaysia ikut terkena dampaknya.

Perjalanan kami dari rumah saya menuju Galeri Sanggar Olah Seni (SOS) yang berada di kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung, hanya menempuh waktu sekitar 30 menit. Kebetulan jalanan tidak macet. Rintik hujan berhasil mengurangi kepadatan kendaraan yang selama ini membuat Kota Bandung selalu identik dengan kemacetan.

Saat saya sedang memarkirkan kendaraan di depan Galeri SOS, sebuah mobil Honda Freed hitam berhenti di dekat saya. Jendela mobil terbuka, sambil menyapa saya. Ternyata Kang Deden (Drs. Deden Maulana, A., M.Ds., alumni FSRD ITB). Sebelumnya kami memang sudah janjian untuk sama-sama menghadiri acara pameran ini. Selain sebagai seorang seniman, ia juga merupakan seorang dosen yang saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Desain Komunikasi Visual (FDKV) Universitas Widyatama.

Pembukaan Acara Berlangsung di Tengah Hujan yang Terus Bergulir

Suasana di area acara Pembukaan Pameran Seni Rupa dan Desain bertajuk “RAUNG MAUNG #2” hari itu sudah cukup ramai dipenuhi oleh para seniman dan tamu undangan. Ada beberapa orang yang berdiri sambil mengobrol, sebagian lagi terlihat sedang duduk menikmati secangkir kopi ditemani cemilan  berupa rebusan ubi, pisang, kacang, dan jagung.

Hujan mulai reda. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.40 WIB. Pembawa acara, Titing Kartika, mempersilakan para tamu undangan untuk menempati tempat duduk dari kursi plastik yang sudah disediakan persis di depan Sanggar Olah Seni (SOR) yang menjadi ruang pameran. Mereka pun duduk dengan posisi membentuk setengah lingkaran.

Pembawa Acara Pameran Seni Rupa dan Desain bertajuk “RAUNG MAUNG #2”, Titing Kartika saat memandu jalannya acara – (Sumber: BJN)

Serangkaian acara pembukaan berlangsung dengan lancar di bawah hujan gerimis yang justru membuat suasana menjadi romantis. Tak ada satu pun peserta pameran maupun tamu undangan yang meninggalkan tempat. Mereka setia mengikuti prosesi acara sampai selesai.

Suasana acara pembukaan Pameran Seni Rupa dan Desain bertajuk “RAUNG MAUNG #2” yang berlangsung dalam kondisi hujan gerimis – (Sumber: BJN)

Ketua Panitia, Kang Yoppy mendapat kesempatan pertama menyampaikan kata sambutannya, disusul dengan beberapa seniman dan tokoh lainnya. Ia mengatakan bahwa para peserta pameran ini berjumlah 14 orang, yaitu:

1) Agung Gumbira (Jack), SMPN 45 BANDUNG; 2) Anton Susanto, Griya Seni Popo Iskandar (GSPI); 3) Arief Yuliarso Caturputra (Borip), Bandung fe Institute; 4) Arlagan (Gink), RUAH & PETRA BALI; 5) Asayani, Asayani Batik; 6) Asep Wahyu, SMKN 11 BANDUNG & SMA TARUNA BAKTI; 7. Denny Sassen, SMKN 58 JAKARTA.

8) Donny Hamdani (Boris), SMKN 8 BANDUNG; 9. Ira Rengganis, PGSD UPI; 10) Januar Benthoni Thamrin, Direktorat Kursus dan Pelatihan, Kemendikdasmen; 11) Nurochman, SMAN 3 TEGAL; 12) Rachmat Suhenrawan, SMPN 75 BANDUNG; 13) Taufik Aziz, SMKN 8 BANDUNG, dan; 14) Yoppy Yohana (Ki Ibun), SMPN 35 BANDUNG.

Ketua Pameran Seni Rupa dan Desain “RAUNG MAUNG #2”, Yoppy Yohana saat menyampaikan kata sambutannya – (Sumber: BJN)

Pada kesempatan tersebut Kang Yoppy mengatakan bahwa pilihan tema “RAUNG MAUNG” tersebut bukan tanpa alasan. Tema tersebut diambil dalam rangka merespon kerusakan alam, seperti alih fungsi lahan, penebangan liar, dan kebakaran hutan yang menyebabkan dampak yang signifikan terhadap keberadaan spesies hariman (basa Sunda: maung) yang semakin menurun.

“Sumpah Pemuda dijadikan spirit baru untuk saling mengedukasi antar pemuda-pemudi dan masyarakat secara luas. Para murid dan guru pun bisa dipertemukan bukan hanya di dalam kelas, tetapi bisa di ruang publik, termasuk galeri seni. Jadi, guru bisa membawa muridnya berkunjung ke galeri. Mereka bisa belajar langsung dengan objeknya dan pakarnya,” ungkap Kang Yoppy.

Suasana acara pembukaan Pameran Seni Rupa dan Desain bertajuk “RAUNG MAUNG #2” yang berlangsung di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung – (Sumber: BJN)

Menurut Kang Yoppy, selain melatih kepekaan pada seni, ajang pameran seni rupa dan desain ini sekaligus bisa melatih kepekaan pada alam dan makhluk hidup lainnya.

“Karakter peduli, peka, empati kalau tidak dilatih dan diterapkan langsung tidak akan membekas dan menjadi pembiasaan. Semoga langkah kecil, praktik baik ini bisa menyemai menerapkan nilai-nilai kemanusiaan, ilmu, pengetahuan, penggalaman, mental, dan karakter,” pungkas Kang Yoppy.  

Karya Seni yang Memukau

Saya sebenarnya bukanlah seorang praktisi seni rupa. Namun, perhatian saya terhadap seni rupa sudah berlangsung sejak lama. Saat masih bersekolah di tingkat Sekolah Dasar (SD), saya sudah suka menggambar. Memasuki masa SMP, saya mulai membaca komik yang dipenuhi dengan gambar-gambar. Bahkan, saat membaca buku cerita atau buku sejarah yang di dalamnya sering disertai ilustrasi berupa sketsa atau lukisan, saya selalu menikmatinya.

Jadi, tidak heran kalau melihat karya seni rupa, khususnya lukisan, saya pasti menikmatinya. Tak heran kalau saya sering datang ke acara pameran seni rupa, termasuk pameran seni rupa dan desai yang digagas oleh paguyuban “Angkatan Seni Rupa ’98” di SOS Babakan Siliwangi ini.

Salah seorang pengunjung sedang menikmati lukisan yang dipamerkan di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung – (Sumber: BJN)

Ruang pamer yang tidak terlalu besar ini telah terpajang berbagai karya seni rupa yang bernuansa maung (harimau). Tamu undangan berdesakan memasuki ruangan ini karena mereka semua ingin menikmati karya seni sambil menyelami makna yang tersirat di dalamnya.

Salah satu karya yang dipajang dan cukup menari perhatian saya di antaranya adalah lukisan berjudul “Tapak Maung” karya Asep Wahyu. Menariknya, lukisan ini dibuat di atas triplek dengan bentuk lengkungan yang dinamis mengikuti bidang sisi gambar.

Lukisan berjudul “Tapak Maung” karya Asep Wahyu – (Sumber: BJN)

Objek lukisan ini berupa sang Maharaja Sunda (Raja Maung) yang tampil tenang dan sakral, duduk di singgasana dengan latar terraced landscape Priangan — representasi Maung Lodaya (Panthera Tigris Sondaica) sebagai penjaga tanah dan kearifan leluhur. Ia berkontras dengan sosok Maung Pop di sisi kiri dengan mata melotot dan headphone.

Pada bagian panel bawah, dua terlihat sosok maung yang sedang mengaum di antara lebatnya hutan kota dengan napas yang berubah menjadi asap dan kosmos. Inilah pengingat bahwa maung adalah penjaga ekosistem terakhir.

Melalui fusi gaya realis klasik, pop surrealism, dan street art, Asep Wahyu menegaskan satu pesan “RAUNG MAUNG #2”: tancapkan kembali eksistensi maung dalam pohon kehidupan masa kini.

Karya Seni yang Unik dan Pesan Pelestarian Alam

Sebenarnya banyak karya yang menarik, tapi saya tak sempat untuk mengulasnya semua satu persatu. Karya para peserta tentunya sudak melewati proses kurasi sehingga layak dipamerkan di sini. Namun, ada satu karya lagi yang akan saya kupas yaitu sebuah drawing karya Kang Yoppy berjudul “Maung Butuh Leuweung” (Terjemahan dari bahasa Sunda: Harimau Perlu Hutan). Menariknya, drawing ini dibuat di atas kulit pohon Saeh (Latin: Broussonetia papyrifera Vent).

Drawing di atas kulit kayu Saeh berjudul “Maung Butuh Leuweung” karya Yoppy Yohana – (Sumber: BJN)

Berdasarkan penelusuran yang saya peroleh dari berbagai sumber, Saeh itu pohon dari keluarga Moraceae (keluarga beringin), pohon peninggalan Kerajaan Sunda, tumbuh di Garut, Sumedang, Sulawesi sampai Maluku. Cirinya: batang kenyal, kulit luar lembut, tetapi kulit dalamnya berserat panjang, kuat, bisa dikupas lembaran luas.

Kalau di tatar Sunda, kulit pohon Saeh  inilah yang paling berharga sebagai bahan baku kertas kuno — Daluang. Serat kulit dalam diolah menjadi kertas daluang/kertas saeh. Dulu dipakai untuk menulis naskah kuno, jimat, lontar Sunda, sampai uang. Kertasnya bisa tahan sampai  ratusan tahun.

Foto bersama para panitia Pameran Seni Rupa dan Desain bertajuk “RAUNG MAUNG #2” – (Sumber: BJN)

Kembali menyimak karya Kang Yoppy. Baginya, maung bukan sebagai predator, tetapi sebagai ekosistem itu sendiri. Tubuh Maung Lodaya tersusun dari jalinan akar, sulur, dan dedaunan yang tumbuh dari sebuah tebing yang curam. Ia tidak berdiri di atas alam, ia adalah alam itu sendiri.

Foto bersama para peserta pameran “RAUNG MAUNG #2” dan tamu undangan saat pembukaan pada Rabu, 28 Oktober 2026 di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung – (Sumber: BJN)

Pada bagian belakang terlihat jelas siluet jembatan. Asap-asap tipis yang naik ke awan membentuk napas hutan, menyatu dengan langit. Karya ini adalah visualisasi paling jujur dari tulisan Yoppy sendiri: “Koétkeun Kuku-Kukuna Kana Tangkal Kahirupan” — tancapkan kukumu pada pohon kehidupan.

Maung di sini menancapkan akarnya, bukan kukunya. Ia bertahan dengan menjadi bagian dari tanah, batu, dan pohon. Dibuat dengan teknik pen drawing yang sangat detail dan sabar di atas panel kayu, karya ini menjadi jeda yang tenang di tengah riuhnya warna pameran RAUNG MAUNG #2. Sebuah pengingat: ketika maung punah maka yang hilang bukan hanya harimau, tetapi juga hutan yang menjadi tubuhnya.

***

Judul: Raung Maung #2: Ketika Seni Menjadi Suara bagi Alam yang Terluka

Penulis: Jumari Haryadi

Editor: JHK