Perjalanan Hidup Dr. Titing Kartika: Dari Anak Yatim hingga Menjadi Penjaga Cahaya Pendidikan dan Pariwisata Indonesia

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Senin (27/07/2026) – Tulisan berjudul “Perjalanan Hidup Dr. Titing Kartika: Dari Anak Yatim hingga Menjadi Penjaga Cahaya Pendidikan dan Pariwisata Indonesia” ini adalah sebuah artikel populer karya Jumari Haryadi atau biasa disingkat J. Haryadi. Ia merupakan seorang penulis, jurnalis, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni).

Ada orang-orang yang lahir dengan jalan yang lapang. Ada pula yang harus menempuh hidup melalui jalan berbatu, meniti hari dengan luka. Bahkan, belum sempat mereka pahami ketika masih kanak-kanak. Namun, sejarah sering kali menunjukkan bahwa dari jalan yang paling terjal, justru lahir pribadi-pribadi yang paling tangguh.

Begitulah kisah hidup Dr. Titing Kartika, S.Pd., M.M., M.B.A., Tourism, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata (STIEPAR) YAPARI Bandung yang juga mengemban tugas sebagai Wakil Ketua II Bidang Administrasi Umum, Sumber Daya Manusia, Keuangan, dan Kerja Sama di kampus tersebut.

Pada Jumat, 24 Juli 2026, Wanita kelahiran Ciamis, 20 Oktober 1981 tersebut resmi menyandang gelar doktor dari Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia (FPEB UPI) setelah mempertahankan disertasi berjudul “Model Pengelolaan Desa Wisata Berbasis MTVE (Memorable Tourism Village Experience)” – sebuah gagasan yang menawarkan pendekatan baru dalam membangun desa wisata yang tidak hanya menarik dikunjungi, tetapi juga meninggalkan pengalaman mendalam bagi wisatawan.

Suasana sidang terbuka promosi doktor Program Studi Doktor Manajemen di FPEB UPI Bandung pada Jumat, 24 Juli 2026 – (Sumber: BJN)

Tim penguji terdiri atas Dr. A.H. Galih Kusumah, S.St., M.M. sebagai penguji internal dan Prof. Dr. Bambang Hermanto dari Universitas Padjadjaran sebagai penguji eksternal. Dalam menyelesaikan studi S3 tersebut, Dr. Titing Kartika dibimbing oleh tim promotor yang terdiri atas Prof. Dr. Hurriyati, M.P. sebagai Promotor, didampingi Prof. Dr. Disman dan Dr. Lili Adi Wibowo, S.Pd., S.Sos., M.M. sebagai Ko-promotor.

Dr. Titing Kartika (ketiga dari kanan) bersama tim pembimbing dan para penguji – (Sumber: Dokumen pribadi)

Mimpi yang Jadi Kenyataan

Keberhasilan akademik itu hanyalah puncak gunung es. Di balik toga doktor yang dikenakan Dr. Titing Kartika, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun oleh air mata, kehilangan, kesabaran, dan keyakinan yang nyaris tak pernah padam.

Istri dari Yoppy Yohana, S.Pd., M.Pd. (PNS Guru SMPN 35 Bandung) ini sejak masih remaja harus menerima kenyataan pahit ditinggalkan oleh ayahnya untuk selama-lamanya. Ayahnya wafat pada Senin, 19 April 1993 saat  ia masih berusia belum genap 12 tahun.

Kehilangan seorang ayah pada masa ketika seorang anak masih membutuhkan pelukan dan bimbingan adalah luka yang mungkin tidak pernah benar-benar sembuh. Namun, justru dari ruang kehilangan itulah tumbuh kekuatan yang kelak membentuk karakter Dr. Titing Kartika.

Dr. Titing Kartika (kedua dari kiri) bersama suami dan anak-anaknya – (Sumber: Dokumen pribadi)

Ayahnya, Dana Sukardi adalah seorang Guru dan Kepala Sekolah Dasar Kertamandala, Panjalu, Kabupaten Ciamis. Sosok sederhana yang sepanjang hidupnya percaya bahwa pendidikan merupakan jalan paling mulia untuk mengubah kehidupan manusia. Sebelum berpulang, sang ayah menitipkan sebuah amanat yang sederhana, tetapi begitu dalam maknanya.

“Kelak, semoga ada anak atau keturunanku yang menjadi guru.”

Kalimat itu mungkin hanya terdengar sebagai sebuah harapan seorang ayah. Namun bagi Dr. Titing Kartika, amanat tersebut berubah menjadi kompas kehidupan. Ia tidak sekadar mengejar profesi. Ia sedang menyempurnakan doa orang tuanya.

Almarhum ayah dan ibu: Dana Sukardi dan Mamah – (Sumber: Dokumen pribadi)

Perjalanan menuju cita-cita itu tentu tidak berlangsung singkat. Berasal dari keluarga sederhana membuat pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang mudah diraih. Di banyak keluarga, keterbatasan ekonomi sering menjadi alasan seseorang berhenti bermimpi. Namun, Dr. Titing Kartika justru memilih jalan yang berbeda. Baginya, keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, melainkan alasan untuk bekerja lebih keras.

Kesempatan demi kesempatan ia manfaatkan dengan penuh kesungguhan. Setelah menyelesaikan pendidikan di Universitas Negeri Jakarta pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, ia memperoleh kesempatan emas mengikuti Program Beasiswa Unggulan Kemendiknas Dual Master Degree. Program tersebut membawanya menempuh pendidikan Magister Manajemen Pariwisata di Universitas Sahid Jakarta sekaligus meraih Master of Business Administration (MBA) in Hospitality and Tourism Management di Universiti Utara Malaysia.

Pengalaman belajar lintas negara tersebut memperluas cakrawala berpikir ibu dari Queenaya Delima Nuri (Siswi kelas 1 SMAN 15 Bandung), Glory Mirfat Arumsari (Siswi kelas 1 SMPN 2 Bandung), dan  Shafela Maharani Rucita (Siswi kelas 2 MI Al Inayah Kota Bandung). Dr. Titing Kartika tidak hanya mempelajari teori manajemen dan pariwisata, tetapi juga memahami bahwa sektor pariwisata sesungguhnya berbicara mengenai manusia, budaya, masyarakat, dan keberlanjutan.

Sepulangnya ke Indonesia, Dr. Titing Kartika memilih jalan yang mungkin tidak selalu menawarkan kemewahan materi: menjadi dosen. Pilihan itu bukan kebetulan. Di sanalah amanat ayahnya menemukan rumah.

Sebagai dosen tetap STIEPAR YAPARI Bandung, Dr. Titing Kartika mengabdikan dirinya pada Program Studi Manajemen Pariwisata. Selain mengajar, ia aktif meneliti, menulis buku, menerbitkan artikel ilmiah, membimbing mahasiswa, menjadi narasumber pengembangan desa wisata, serta pernah memimpin Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). Ia juga dikenal aktif dalam pengembangan jurnal ilmiah dan penelitian mengenai manajemen pariwisata, bisnis pariwisata, serta community-based tourism.

Mengajar adalah Amanah dari sang Ayah Tercinta

Bagi sebagian orang, mengajar hanyalah pekerjaan. Namun bagi Dr. Titing Kartika, mengajar adalah cara meneruskan kehidupan ayahnya. Setiap ruang kelas menjadi ruang pengabdian. Setiap mahasiswa adalah harapan baru yang harus disiapkan menjadi manusia yang lebih baik daripada dirinya sendiri.

Perjalanan akademik dari wanita yang memiliki empat kakak ini (Demy Mulyati, Adang Kosasih (alm),  Wawan Darmawan, dan Wety Mulianingsih) pun diwarnai berbagai prestasi. Semasa kuliah, Dr. Titing Kartika pernah memperoleh penghargaan sebagai The Best Student Award di Universitas Negeri Jakarta.

Dr. Titing Kartika (ketiga dari kiri) berfoto bersama kakak-kakak dan adik-adiknya – (Sumber: Dokumen pribadi)

Selain itu, kakak dari Heri Wardiana dan Rifda Fitriyana ini juga pernah menjadi Duta Pariwisata Persahabatan Kota Bekasi, meraih penghargaan sebagai dosen STIEPAR paling produktif menulis di media massa, memperoleh penghargaan dalam forum ilmiah internasional Asian Tourism Forum, hingga mengikuti Short Course Tourism and Hospitality di The Hong Kong Polytechnic University melalui program Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Barangkali prestasi terbesar dalam hidup Dr. Titing Kartika ini bukanlah daftar penghargaan tersebut. Prestasi terbesar itu adalah keberhasilannya mematahkan batas yang selama ini membelenggu keluarganya. Dalam keluarga besarnya, ia merupakan cucu pertama dari Rd. Adi Miharja yang mendapat kesempatan meraih gelar Doktor – sebuah prestasi dan catatan tinta emas bagi sejarah keluarga besarnya.

Foto bersama keluarga Rd. Adi Miharja – (Sumber: Dokumen pribadi)

Dr. Titing Kartika membuka pintu yang sebelumnya belum pernah dibuka siapa pun dalam keluarga besarnya. Ia menjadi bukti bahwa garis keturunan tidak menentukan garis masa depan. Ternyata, anak dari keluarga sederhana pun kalau mau berjuang dan mendapatkan kesempatan, bisa meraih pendidikan akademik tertinggi di perguruan tinggi.

Menjadi Doktor: Sebuah Perjalanan yang Penuh Perjuangan

Perjuangan untuk meraih gelar doktor sendiri bukanlah perjalanan yang ringan. Menyusun disertasi tentang model pengelolaan desa wisata memerlukan riset panjang, pengumpulan data lapangan, pengembangan model konseptual, hingga proses akademik yang penuh dinamika. Pilihan tema tersebut mencerminkan konsistensi Dr. Titing Kartika dalam mengembangkan keilmuan pariwisata, khususnya mengenai pengelolaan desa wisata yang berkelanjutan dan berorientasi pada pengalaman wisatawan.

Konsep Memorable Tourism Village Experience (MTVE) yang dikembangkan Dr. Titing Kartika lahir dari keyakinan bahwa desa wisata tidak cukup hanya memiliki panorama indah. Desa wisata harus mampu menghadirkan pengalaman yang membekas di hati wisatawan sehingga tercipta hubungan emosional antara tamu dan masyarakat lokal.

Di tengah derasnya kompetisi industri pariwisata, pendekatan tersebut menjadi relevan karena menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan pariwisata, bukan sekadar objek pembangunan. Gagasan itu sejatinya juga merefleksikan dari perjalanan hidupnya sendiri. Hidup yang bermakna memang bukan tentang seberapa banyak tempat yang kita kunjungi, melainkan seberapa dalam pengalaman yang kita tinggalkan bagi orang lain.

Hari itu, ketika sidang doktor dinyatakan selesai dan gelar “Doktor” resmi disematkan di depan namanya, mungkin banyak orang hanya melihat sebagai keberhasilan akademik semata. Namun,  sesungguhnya, ada kisah yang jauh lebih besar.

Ada seorang gadis remaja yang dahulu kehilangan pelukan ayahnya. Ada seorang ayah yang menitipkan harapan sederhana. Ada seorang perempuan yang tidak pernah berhenti percaya bahwa pendidikan dapat mengubah nasib. Ada doa yang akhirnya menemukan jawabannya.

Kini, nama Dr. Titing Kartika bukan hanya menjadi kebanggaan STIEPAR YAPARI Bandung atau dunia akademik. Ia menjadi simbol bahwa pendidikan masih memiliki kekuatan untuk memutus rantai keterbatasan bahwa seorang anak dari keluarga sederhana pun dapat berdiri sejajar di panggung akademik tertinggi selama ia menjaga ketekunan, kejujuran, dan kerja keras.

Perjalanan Ini Belum Selesai

Gelar doktor bukan garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ilmu yang dimiliki akan terus diuji melalui karya, pengabdian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam memajukan sektor pariwisata Indonesia yang berkelanjutan.

Dr. Titing Kartika, S.Pd., M.M., M.B.A., Tourism – (Sumber: Dokumen pribadi)

Di balik nama panjang yang kini diawali gelar “Dr.”, tetaplah berdiri sosok perempuan sederhana yang tidak pernah melupakan asal-usulnya. Sebab ia tahu, manusia tidak menjadi besar karena gelarnya. Manusia menjadi besar karena mampu menjaga amanat.

Pada akhirnya, amanat seorang ayah yang dahulu hanya berupa harapan lirih kini telah menjelma kenyataan. Seorang guru telah melahirkan seorang guru. Bahkan lebih dari itu. Seorang guru telah melahirkan seorang doktor yang akan terus menyalakan cahaya pendidikan bagi generasi-generasi berikutnya.

***

Judul: Perjalanan Hidup Dr. Titing Kartika: Dari Anak Yatim hingga Menjadi Penjaga Cahaya Pendidikan dan Pariwisata Indonesia

Penulis: Jumari Haryadi

Editor: JHK