BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA, Senin (20/07/2026) – Cerpen berjudul “Liefje WIM: Bagian 3” ini merupakan karya tulis Dewi Tri Handayani, S.T., seorang pejuang lingkunganyang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Wim komt naar Indonesie 3 keer perjaar (Wim datang ke Indonesia tiga kali setahun). Kedatangannya selalu kami rindukan. Kamar kecilnya dibersihkan. Auto atau mobil kami cuci. Rumah pun kami sterilkan.
Biasanya pada hari pertama kedatangan Wim, dia menukarkan euronya ke rupiah dan aku paling senang mengantarnya ke money changer karena pulangnya aku selalu diajak makan dulu di Braga Permai dan dibelikan buku-buku kesukaanku.
Wim adalah pribadi yang manis. Dia selalu hadir dengan kata-kata baru. Wim Ik mis je erg altublifjft (Wim aku sangat kehilanganmu).
Wim orang pertama yang megucapkan ulang tahun. Dia membangunkan saat saur dan dia tidak pernah absen mengucapkan, “Gelukkige nieuwe jaar Mevrouw de Boer.” (Selamat tahun baru ibu petani).
Wim sosok yang gelisah. Entah apa yang membuat dia seperti berada di dua dunia. Aku selalu berusaha menenangkannya. Aku pikir dengan rumah mewah, anak cakep dan cantik di sana, serta harta yang tak terukur mampu membuatnya tenang dan Bahagia. Namun, ternyata itu semua tidak mampu membuatnya bahagia. Seperti ada sesuatu yang dia inginkan selain itu.
Wim punya dua telpon genggam. Hanya aku yang tahu password-nya. Malam itu dia datang. Kami berbincang sejenak dan entah apa tiba-tiba aku marah karena kata-kata di bahasanya yang salah kuartikan. Sedemikian marahnya aku, hingga Wim beranjak dari duduknya dan aku bilang, “Malam ini kau ke Jakarta dan langsung pulang ke negaramu.”
Lama aku terdiam. Aku buka kamus bahasaku. Seketika aku terpingkal-pingkal tertawa sendiri. Ternyata aku salah mengartikan kata-katanya. Kami berdua akhirnya tertawa bersama. Momen itu selalu kami kenang saat kami ketemu sesudahnya.
Wim, sangat sayang pada anak-anakku. Dia mencoba dekat dengan mereka. Sebaliknya, anak-anakku pun sayang kepadanya. Wim sayang ke binatang dan terlihat jelas kalau adalah sosok yang sangat baik.
Kini Wim sudah tiada. Tujuh hari setelah kematiannya, dia dikremasi menjadi debu. Aku tak sempat membisikkan kata-kata di telinganya, “Wim, rust in eeuwigheid, je bent altijd in het diepste van mijn hart.” (Wim, tidurlah dalam keabadian, kamu selalu ada dalam hatiku yang paling dalam).
Kini, tidak ada lagi dering telepon membangunkanku. Tidak ada lagi pesan singkat sebelum malam bertambah gelap. Kamar itu, persis di ujung jalan depan rumahku sudah kosong dan aku kehilangannya.
***
Kembali ke bagian 1
Kembali ke bagian 2
Judul: Liefje WIM: Bagian 3
Penulis: Dewi Tri Handayani, S.T.
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Dewi Tri Handayani bukanlah orang asli Cimahi. Ia sama sekali tak membayangkan kalau akhirnya akan tinggal di kota ini. Namun, jodohlah yang telah menuntunnya hadir dan menjadi bagian dari kisah yang tumbuh di sini.

Di Kota Cimahi ini, Dewi tidak hanya menemukan rumah, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Selain budaya Sunda yang hangat dan penuh kearifan, ia belajar memahami budaya lain yang turut mewarnai perjalanan hidupnya. Dari sana, ia mengenal bahasa ibu yang berbeda. Bahkan, bahasa Belanda yang pernah begitu dekat dalam kesehariannya.
Waktu berjalan, dan perlahan banyak kenangan tentang Belanda mulai memudar dari ingatan Dewi. Meski demikian, jejak tentang negeri bunga tulip tersebut tetap terukir dalam relung hatinya yang paling dalam. Ada nilai, cerita, dan rasa yang tidak pernah benar-benar hilang, sekalipun jarak dan waktu terus berlalu.
Kini, wanita yang terlihat selalu ceria ini mencintai kedua budaya itu dengan cara yang istimewa. Keduanya telah membentuk cara pandang Dewi, memperkaya jiwanya, dan menjadi bagian dari identitas yang melekat dalam dirinya. Menurutnya, mengenal dua budaya ini sama artinya dengan mengenal dirinya sendiri—lebih dalam, lebih utuh, dan lebih bermakna.
***
