BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Senin (20/07/2026) – Artikel berjudul ArtSpectrum “Keindahan yang Beragam”: Bukan Pameran Seni Rupa Biasa ini merupakan buah karya Jumari Haryadi, atau J. Haryadi, seorang pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia, Komunitas Penulis Cimahi (KOMPENI), dan Pimpinan Redaksi BERITA JABAR NEWS (BJN).
Ada kalanya sebuah pameran seni rupa bukan hanya sekadar peristiwa seni. Ia menjelma menjadi cermin yang memantulkan kembali cara kita memandang manusia. Melalui karya yang terpajang, kita bisa melihat sudut pandang dari para perupa. Mereka berkarya bukan hanya melalui sapuan kuas, cat, dan kanvas, melainkan juga melalui hati nurani.
Galeri Panyawangan, Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, telah menjadi saksi bisu, betapa puluhan lukisan tergantung dengan tenang di dinding, telah mampu menyuarakan pesan kedamaian yang beragam dan penuh warna.

Sepintas, apa yang kita lihat seakan-akan hanyalah perpaduan warna, garis, dan tekstur. Namun, jika pengunjung berhenti sejenak dan mulai mengamati dengan seksama maka di sana akan terlihat betapa setiap kanvas seakan mulai berbicara. Pesannya yang disampaikan bukan tentang keterbatasan, melainkan tentang keberanian. Bukan tentang kekurangan, melainkan tentang kemungkinan.
Lukisan yang terpajang di Galeri Panyawangan, Bale Pare, Kota Baru Parahyangan tersebut merupakan bagian Pameran Seni Rupa Inklusif ARTSPECTRUM bertajuk “Keindahan Yang Beragam”. Pameran ini merupakan hasil kolaborasi YuliRiban Art Class bersama dengan Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI dan Yayasan Parahyangan Satya.

Pameran seni rupa ARTSPECTRUM yang berlangsung pada 18–30 Juli 2026 tersebut digelar dalam rangka Hari Anak Nasional 2026, mengembangkan potensi anak didik, mempersiapkan anak didik menuju dunia seni rupa profesional dan mengajak masyarakat lebih dalam mengapresiasi karya seni yang unik diluar mainstream.
Tidak kurang dari 53 karya dari 21 perupa muda neurodivergen dan penyandang cerebral palsy dipajang di ruang yang refresentatif. Masyarakat bisa langsung datang ke lokasi untuk melihat seni dari sudut pandang yang lebih manusiawi sekaligus memberikan apresiasi terhadap para perupanya.

Pameran Seni Rupa Inklusif ARTSPECTRUM bertajuk “Keindahan Yang Beragam” yang berlangsung di Galeri Panyawangan, Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat – (Sumber: Instagram)
Di tempat inilah seni kehilangan segala labelnya. Tidak ada lukisan “normal” atau “tidak normal”. Semua yang ada dan kita lihat adalah karya yang lahir dari kejujuran jiwa. Karya yang bicara dari batin yang terdalam. Karya yang hadir sebagai jembatan hati nurani yang selama ini terpendam.
Sejak ribuan tahun lalu, manusia menggunakan seni sebagai bahasa pertama sebelum kata-kata menemukan bentuknya. Garis-garis di dinding gua, ukiran batu, hingga kanvas modern selalu menjadi cara manusia menyampaikan sesuatu yang sering kali gagal diucapkan.
Bahasa itulah yang kini digunakan oleh Abell Young Johakartono, Abhiyasa Adhi Pradhanika, Arrayyan Shafy, Azzam Syahidulhaq, Carson Samuel Setiawan, Cut Putri Nur Syifa, Dennis Prabawa, Farel Riza Kurniawan, Fadhil Bahsin, Fay Nalaya Biankayla Permana, Kemal Pasha, Muhammad Ilham, M. Ilham Wibisono, M. Ikhlas Dwi Kurnia, Randy Jeremy Toh, Raissa Amadin, Raphael Jason Immanuel, Sakha Farras Martin, Seto Yudonoto Purnomo, Shawn Darwin Suryawijaya, dan Steven Audric Gui.

Mereka datang dari latar yang berbeda. Juga dengan cara berpikir dan cara memandang dunia yang mungkin tak sama dengan kebanyakan orang. Namun, justru di sanalah letak kekuatan karya-karya mereka.
Mereka tidak melukis untuk menjadi sempurna. Mereka melukis untuk menjadi diri sendiri. Mereka tidak sedang memakai topeng. Mereka justru ingin menunjukkan pada dunia bahwa mereka ada dan mereka bisa berkarya dengan cara mereka sendiri.
Di balik pameran ini berdiri sosok Tri Yuli Prasetyo, S.Pd. atau lebih akrab disapa sebagai Yuli Riban. Selama lebih dari tiga dekade ia mengabdikan hidupnya sebagai pendidik seni rupa dan hampir dua puluh tahun terakhir mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus menemukan suara melalui warna.
Bagi Yuli Riban, pameran ini bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah perjalanan panjang yang dimulai dari ruang terapi.
“Saya bisa menyelenggarakan acara ini karena mereka mengajarkan bahwa keindahan itu beragam. Keindahan dapat hadir dari siapa saja tanpa memandang fisik maupun usia. Seni itu universal, setara, dan absolut. Setiap anak memiliki hak yang sama untuk berkarya,” tutur Yuli Riban.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar dunia seni. Ia berbicara tentang martabat manusia.
Sebagian besar karya yang dipamerkan lahir dari aktivitas terapi seni. Apa yang dahulu dimulai sebagai latihan menggenggam kuas, menggerakkan jemari, melatih koordinasi tubuh, perlahan berkembang menjadi proses kreatif yang utuh. Tanpa disadari, terapi berubah menjadi ekspresi. Ekspresi berkembang menjadi karya. Lalu karya menjelma menjadi identitas.

Berbagai penelitian internasional menunjukkan bahwa seni memang memiliki dampak yang jauh melampaui aspek estetika. Tinjauan sistematis yang diterbitkan UNICEF Innocenti pada 2025 menyimpulkan bahwa program seni dan budaya mampu meningkatkan partisipasi sosial, mengurangi stigma, memperkuat rasa percaya diri, serta membangun hubungan yang lebih inklusif bagi anak-anak penyandang disabilitas.
Hal serupa juga menjadi perhatian UNESCO yang melalui Strategi Inklusi Disabilitas 2026–2029 menegaskan bahwa kebudayaan dan pendidikan harus menjadi ruang yang dapat diakses setiap orang tanpa diskriminasi. Organisasi tersebut menempatkan partisipasi penyandang disabilitas dalam seni dan budaya sebagai bagian penting dari pembangunan masyarakat yang setara.
Dengan demikian, melukis bukan lagi sekadar aktivitas kreatif. Ia menjadi jembatan menuju kemandirian.
Berdasarkan catatan penulis, Galeri Panyawangan atau Bale Seni Barli bukan pertama kalinya membuka pintu bagi para perupa disabilitas. Menurut Epi Gunawan – Pengelola Galeri Panyawangan sekaligus pelaksana harian Yayasan Parahyangan Satya, ini merupakan kali ketiga galeri tersebut menjadi ruang ekspresi bagi para seniman disabilitas.
Menurut Epi, karya-karya yang dipamerkan tidak layak dipandang dengan rasa iba. Namun, hal yang patut diberikan adalah penghargaan.
“Di sini saya melihat teman-teman memiliki bakat, minat, dan hobi yang luar biasa. Mereka menghasilkan karya dengan usaha yang bahkan lebih besar dibandingkan banyak orang,” ujar Epi.
Kalimat itu mengingatkan bahwa setiap lukisan sesungguhnya menyimpan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Ada latihan bertahun-tahun. Ada kesabaran. Ada kegigihan. Tentu saja ada cinta juga di dalamnya.
Kepala Bakamla RI Dukung Pameran Seni Rupa ARTSPECTRUM
Dukungan terhadap dunia inklusi juga datang dari Kepala Badan Keamanan Laut RI, Laksamana Madya TNI Dr. Irvansyah, S.H., M.Tr. Opsla. Beliau dikenal oleh anak-anak binaannya sebagai “Ayah Jenderal”.
Menurut Irvansyah, Indonesia yang inklusif hanya dapat terwujud apabila negara, masyarakat, keluarga, dan komunitas berjalan bersama, “Negara hadir bukan hanya melalui kebijakan, melainkan juga dengan membuka ruang agar setiap anak, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan kreativitas, potensi, dan rasa percaya dirinya.”

Pada pembukaan pameran, Bakamla RI diwakili Deputi Operasi dan Latihan (Dep. Opslat) Bakamla RI, Laksamana Muda TNI Eko Wahjono, S.E., M.M., yang mengajak seluruh orang tua untuk terus membangun generasi penerus bangsa, baik jiwa maupun raganya.
Pesan tersebut selaras dengan semangat global yang saat ini terus didorong Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dua puluh tahun setelah lahirnya Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD), berbagai lembaga internasional menekankan bahwa penyandang disabilitas bukanlah objek belas kasihan, melainkan subjek yang memiliki hak penuh untuk berpartisipasi dalam kehidupan budaya, pendidikan, dan pembangunan masyarakat.

Sudut Pandang Melihat Sebuah Karya
Barangkali yang paling menarik dari pameran ini bukanlah teknik melukisnya, melainkan cara ia mengubah sudut pandang kita. Selama ini masyarakat sering memandang penyandang disabilitas melalui apa yang tidak mereka miliki, padahal pameran ini justru mengajak kita melihat apa yang mereka ciptakan. Perubahan cara pandang itulah yang sesungguhnya menjadi karya terbesar dari ARTSPECTRUM.
Pada akhirnya, seni tidak pernah bertanya siapa pelukisnya. Seni hanya bertanya satu hal, “Apakah ada kejujuran di dalamnya?” Ternyata kejujuran itu hadir pada setiap sapuan warna yang memenuhi dinding Galeri Panyawangan.
Pameran ARTSPECTRUM bertajuk “Keindahan yang Beragam” ini menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia yang inklusif tidak selalu dibangun melalui ruang-ruang sidang atau kebijakan besar. Kadang, ia lahir dari tangan kecil yang memegang kuas dengan penuh kesungguhan. Sebab setiap warna memiliki tempatnya. Setiap anak memiliki panggungnya dan setiap manusia berhak dikenang bukan karena keterbatasannya, melainkan karena karya yang ditinggalkannya.
“See The Art, See The Future.”
***
Judul: ArtSpectrum “Keindahan yang Beragam”: Bukan Pameran Seni Rupa Biasa
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: JHK
