BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA, Kamis (23/07/2026) – Cerpen berjudul “Liefje WIM: Bagian 4” ini merupakan karya tulis Dewi Tri Handayani, S.T., seorang pejuang lingkunganyang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Entah mengapa saat aku ingin menulis mengenai Wim, ada rasa segan dan tidak ada keinginan untuk membuka kembali memori yang sudah delapan tahun kukubur itu. Namun, setiap kubuka kembali laptopku, seperti ada kekuatan entah dari mana datangnya yang mengajak aku kembali membuka lembar demi lembar semua kenangan terhadap Wim.
Wim, weet je dat iedereen had je gehulpt was overladen, herineer je nog over een meisje in het Kleine stadje? (Wim, kamu tahu tidak, kalau orang-orang yang pernah kamu tolong itu sudah wafat, dan masih ingatkah kau seorang gadis kecil di tempat yang kecil itu?)
Wim, Tuhan mencatat semua kebaikanmu, walau kamu tidak pernah ingat semua bantuan yang pernah kau ulurkan itu, padahal itu sangat berarti dan kaupun tak pernah menghitung uang yang sudah kamu keluarkan. Begitu cinta dan rasa kasih yang sudah kauberikan kepada bangsa ini, terutama orang-orangnya, padahal tidak kamu kenal sebelumnya.
Ada momen yang diciptakan saat kejadian di sebuah gubuk yang terletak di tengah sawah. Saat itu tidak ada orang sama sekali. Kita terkejut menemukan pakaian petani dan capingnya, dan wat heb je gezegd? Schatje, Ik ben niet gelukkig,wil hier voor altijd wonen (saya tidak bahagia, ingin rasanya tinggal di sini selamanya)
Jelas itu tidak mungkin.
Wim, sosok yang kukenal dengan usia senja. Setahun sebelum kau tiada, kau makin kurus. Tidak terlihat semangatmu. Bahkan, kita sudah sama-sama merasakan bahwa pertemuan kita menjadi suatu yang berharga. Bahkan, kau tidak punya hak untuk datang ke negeri ini, walau punya segalanya. Kau terbelenggu oleh aturan dan rasa kecurigaan yang tinggi. Wajah Lelah tergambar jelas. Walau cita-cita sesederhana pun tidak bisa kau gapai, sebanyak apapun harta yang kau punya, tidak bisa membeli kebebasanmu.
Wim berpulang setahun kemudian, menjadi hari yang paling tidak bisa kulupakan. Dunia serasa berhenti berputar dan aku sangat bingung. Aku bingung harus bercerita kepada siapa. Siapa lagi yang bisa kupercaya kini?
Sesaat dunia seperti mentertawakanku. Seketika aku lari ke rumah itu. Kubuka kamar Wim, kupastikan bahwa ini hanya mimpi.
Aku melihat tas yang biasa kau bawa masih ada di sudut lemari dan sprey yang rapi seolah menunggu kedatangamu lagi, tapi semua mustahil. Sekuat apapun aku berteriak, Wim takkan kembali.
Wim, ik kan me je niet meer herinneren (Wim, aku tak sanggup lagi mengenangmu).
Tot Ziens, vriendelijke Wim (Sampai bertemu lagi, Wim yang baik).
***
Kembali ke bagian 1
Kembali ke bagian 2
Kembali ke bagian 3
Judul: Liefje WIM: Bagian 4
Penulis: Dewi Tri Handayani, S.T.
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Dewi Tri Handayani bukanlah orang asli Cimahi. Ia sama sekali tak membayangkan kalau akhirnya akan tinggal di kota ini. Namun, jodohlah yang telah menuntunnya hadir dan menjadi bagian dari kisah yang tumbuh di sini.

Di Kota Cimahi ini, Dewi tidak hanya menemukan rumah, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Selain budaya Sunda yang hangat dan penuh kearifan, ia belajar memahami budaya lain yang turut mewarnai perjalanan hidupnya. Dari sana, ia mengenal bahasa ibu yang berbeda. Bahkan, bahasa Belanda yang pernah begitu dekat dalam kesehariannya.
Waktu berjalan, dan perlahan banyak kenangan tentang Belanda mulai memudar dari ingatan Dewi. Meski demikian, jejak tentang negeri bunga tulip tersebut tetap terukir dalam relung hatinya yang paling dalam. Ada nilai, cerita, dan rasa yang tidak pernah benar-benar hilang, sekalipun jarak dan waktu terus berlalu.
Kini, wanita yang terlihat selalu ceria ini mencintai kedua budaya itu dengan cara yang istimewa. Keduanya telah membentuk cara pandang Dewi, memperkaya jiwanya, dan menjadi bagian dari identitas yang melekat dalam dirinya. Menurutnya, mengenal dua budaya ini sama artinya dengan mengenal dirinya sendiri—lebih dalam, lebih utuh, dan lebih bermakna.
***