BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Senin (22/06/2026) – Artikel berjudul “Menumbuhkan Kemandirian Ekologi dari Rumah untuk Cimahi yang Lebih Bersih” ini merupakan karya tulis Dewi Tri Handayani, S.T., seorang pejuang lingkunganyang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh warga kota. Pengalaman kami menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana di rumah masing-masing.
Berangkat dari kegelisahan melihat sampah rumah tangga yang terus meningkat, lahirlah metode magotisasi Sistem Plasma sebagai gerakan kemandirian masyarakat dalam mengelola sampah dari sumbernya.

Saat ini, lebih dari 200 nasabah yang tersebar di seluruh Kota Cimahi telah menjadi bagian dari gerakan ini. Mereka membuktikan bahwa masyarakat mampu menjadi pelaku utama dalam menjaga lingkungan tanpa harus menunggu program atau bantuan dari pihak lain. Sampah yang selama ini dianggap masalah dapat diolah menjadi sumber manfaat, sekaligus mengurangi beban tempat pembuangan akhir dan pencemaran lingkungan.
Refleksi yang kami rasakan adalah bahwa perubahan lingkungan yang berkelanjutan hanya akan terwujud ketika masyarakat memiliki kesadaran, pengetahuan, dan kemauan untuk bertindak. Gerakan ini lahir dari semangat gotong royong, kepedulian, dan keyakinan bahwa setiap rumah dapat menjadi bagian dari solusi. Meskipun upaya ini belum banyak mendapat perhatian maupun apresiasi, semangat para pelaku di lapangan tidak pernah surut karena tujuan utama kami adalah menjaga masa depan lingkungan Kota Cimahi.
Pengalaman ini menjadi inspirasi bahwa kekuatan masyarakat sering kali hadir di ruang-ruang yang tidak terlihat. Dari halaman rumah, dari dapur keluarga, dari komunitas kecil yang bergerak dengan ketulusan, lahir kontribusi nyata bagi kota. Ketika satu rumah berhasil mengurangi sampahnya maka satu titik masalah telah teratasi. Ketika ratusan rumah bergerak bersama maka dampaknya menjadi kekuatan besar bagi lingkungan perkotaan.

Kami mengajak seluruh warga Kota Cimahi untuk turut berpartisipasi dalam gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Tidak perlu menunggu perubahan datang dari atas karena perubahan dapat dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terdekat. Setiap langkah kecil yang dilakukan hari ini akan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.
Harapan kami, Kota Cimahi dapat menjadi contoh kota yang maju dalam bidang ekologi melalui kolaborasi yang setara antara masyarakat, komunitas, dunia usaha, dan pemerintah. Gerakan-gerakan akar rumput seperti magotisasi Sistem Plasma diharapkan tidak hanya terus berkembang, tetapi juga mendapatkan ruang, dukungan, dan pengakuan sebagai bagian penting dari solusi lingkungan. Dengan semangat kebersamaan, kami percaya Cimahi dapat menjadi kota yang lebih bersih, sehat, mandiri, dan berkelanjutan.
“Masyarakat bukan sekadar objek penanganan sampah, tetapi subjek perubahan yang mampu menciptakan solusi nyata bagi kotanya sendiri.”
***
Judul: Menumbuhkan Kemandirian Ekologi dari Rumah untuk Cimahi yang Lebih Bersih
Penulis: Dewi Tri Handayani, S.T.
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Dewi Tri Handayani bukanlah orang asli Cimahi. Ia sama sekali tak membayangkan kalau akhirnya akan tinggal di kota ini. Namun, jodohlah yang telah menuntunnya hadir dan menjadi bagian dari kisah yang tumbuh di sini.

Di Kota Cimahi ini, Dewi tidak hanya menemukan rumah, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Selain budaya Sunda yang hangat dan penuh kearifan, ia belajar memahami budaya lain yang turut mewarnai perjalanan hidupnya. Dari sana, ia mengenal bahasa ibu yang berbeda. Bahkan, bahasa Belanda yang pernah begitu dekat dalam kesehariannya.
Waktu berjalan, dan perlahan banyak kenangan tentang Belanda mulai memudar dari ingatan Dewi. Meski demikian, jejak tentang negeri bunga tulip tersebut tetap terukir dalam relung hatinya yang paling dalam. Ada nilai, cerita, dan rasa yang tidak pernah benar-benar hilang, sekalipun jarak dan waktu terus berlalu.
Kini, wanita yang terlihat selalu ceria ini mencintai kedua budaya itu dengan cara yang istimewa. Keduanya telah membentuk cara pandang Dewi, memperkaya jiwanya, dan menjadi bagian dari identitas yang melekat dalam dirinya. Menurutnya, mengenal dua budaya ini sama artinya dengan mengenal dirinya sendiri—lebih dalam, lebih utuh, dan lebih bermakna.
***