BERITA JABAR NEWS (BJN) ─ Rubrik ARTIKEL/FEATURE, MInggu (21/06/2026) ─ Artikel bertajuk “25 Tahun Kota Cimahi: Menumbuhkan Budaya Literasi Intergenerasi untuk Membangun Peradaban” iniadalah hasil tulisan Febri Satria Yazid, seorang pengusaha, penulis, dan pemerhati sosial yang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Tanggal 21 Juni 2026 menjadi momentum istimewa bagi Kota Cimahi. Pada usia yang ke-25 tahun, kota yang dikenal sebagai kota kreatif dan kota pendidikan ini terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dalam berbagai bidang pembangunan. Di antara berbagai capaian tersebut, kemajuan budaya literasi masyarakat menjadi salah satu fondasi penting yang patut mendapat perhatian.
Pembangunan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh kemegahan infrastruktur fisik, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya. Jalan yang lebar, gedung yang tinggi, dan fasilitas publik yang modern memang penting. Namun, semua itu akan memberikan manfaat yang lebih besar apabila didukung oleh masyarakat yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan kemampuan berpikir yang baik. Di sinilah literasi memegang peranan yang sangat penting.

Data menunjukkan bahwa perkembangan literasi di Kota Cimahi bergerak ke arah yang positif. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kota Cimahi mencapai angka 72,82 dan berada pada kategori sedang dengan kecenderungan terus meningkat. Sementara itu, kemampuan literasi akademis siswa tingkat SMP mencapai rata-rata 91,62. Berbagai program digitalisasi perpustakaan serta pemanfaatan teknologi informasi juga semakin memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan dan sumber pengetahuan.
Namun, literasi sesungguhnya tidak hanya berarti kemampuan membaca dan menulis. Dalam pemahaman modern, literasi adalah kemampuan seseorang untuk mengakses, memahami, mengolah, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijaksana dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi mencakup berbagai aspek kehidupan. Ada literasi baca tulis yang menjadi dasar pembelajaran, literasi digital yang membantu masyarakat memanfaatkan teknologi secara bijak, literasi finansial yang mengajarkan pengelolaan keuangan, literasi kesehatan yang mendukung pola hidup sehat, literasi budaya dan kewargaan yang memperkuat identitas bangsa, serta literasi sains dan media yang membantu masyarakat memahami berbagai perkembangan zaman.
Masyarakat yang literat bukan hanya masyarakat yang rajin membaca buku. Mereka juga mampu berpikir kritis, menyaring informasi, membedakan fakta dan opini, mengambil keputusan secara rasional, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan lingkungan sekitarnya. Kemampuan seperti ini menjadi semakin penting di era digital ketika informasi datang begitu cepat dari berbagai arah.
Saat ini, tantangan terbesar bukan lagi kekurangan informasi, melainkan banjir informasi. Setiap hari masyarakat menerima berbagai berita melalui media sosial, aplikasi pesan singkat, maupun berbagai platform digital lainnya. Di tengah derasnya arus informasi tersebut, kemampuan untuk memilah fakta dari hoaks menjadi kebutuhan yang sangat penting. Literasi menjadi benteng yang membantu masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
Pemerintah Kota Cimahi selama beberapa tahun terakhir telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam memperkuat budaya literasi. Berbagai program telah dilaksanakan, mulai dari pengembangan perpustakaan digital melalui aplikasi e-Library, penguatan perpustakaan sekolah dan perpustakaan masyarakat, penyelenggaraan perpustakaan keliling, kampanye literasi anak dan keluarga, hingga berbagai lomba literasi dan konten kreatif berbasis digital.

Berbagai upaya tersebut menunjukkan bahwa pembangunan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada sarana fisik, tetapi juga pada pembangunan infrastruktur pengetahuan. Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah kota sangat ditentukan oleh kualitas manusianya.
Memasuki usia perak, Cimahi memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu kota literasi terbaik di Indonesia. Potensi tersebut dapat diwujudkan melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, dunia usaha, dan seluruh lapisan masyarakat.
Gerakan satu rumah satu pojok baca, dapat menjadi langkah sederhana namun berdampak besar dalam menumbuhkan budaya membaca di lingkungan keluarga. Sebuah rak kecil berisi buku di sudut rumah dapat menjadi awal lahirnya generasi pembelajar yang gemar membaca dan mencari pengetahuan.

Di tingkat masyarakat, pengembangan Kampung Literasi berbasis RW dapat menjadi ruang bersama untuk belajar, berdiskusi, berbagi pengalaman, dan menghasilkan karya-karya kreatif. Sementara itu, Festival Literasi Tahunan Kota Cimahi dapat menjadi wadah apresiasi bagi para penulis, pegiat literasi, guru, pustakawan, serta pelaku industri kreatif yang telah berkontribusi dalam membangun budaya baca masyarakat.
Program Literasi Keluarga dan Literasi Lansia juga penting untuk terus dikembangkan. Literasi bukan hanya milik anak-anak atau pelajar, melainkan hak seluruh warga sepanjang hayat. Semangat belajar harus tetap tumbuh pada setiap usia.
Salah satu tantangan besar yang perlu mendapat perhatian adalah literasi antar generasi. Anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan digital yang serba cepat dan dinamis. Orang tua lebih banyak mengenal budaya membaca buku cetak dan pengalaman belajar konvensional. Sementara para lansia menyimpan berbagai pengalaman hidup yang sangat berharga, namun sering kali belum terdokumentasikan dengan baik.
Budaya literasi antar generasi, perlu dibangun dengan cara melakukan proses saling belajar dan berbagi pengetahuan antara anak, orang tua, dan kakek-nenek. Anak-anak dapat mengenalkan teknologi digital kepada orang tua dan lansia. Sebaliknya, para orang tua dan lansia dapat mewariskan nilai-nilai kehidupan, pengalaman, sejarah keluarga, serta kearifan lokal yang mereka miliki sehingga terjadi komunikasi dua arah.
Melalui proses tersebut, literasi tidak lagi sekadar aktivitas membaca buku, tetapi menjadi sarana mempererat hubungan keluarga, memperkaya wawasan, dan menjaga kesinambungan pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Nilai utama literasi bukan terletak pada angka statistik semata. Literasi adalah jembatan pengetahuan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Literasi membantu masyarakat memahami warisan sejarah, menghadapi tantangan zaman, dan menyiapkan generasi yang lebih baik untuk masa depan.
Kota yang maju tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau banyaknya pembangunan fisik. Kota yang maju adalah kota yang masyarakatnya gemar belajar, terbuka terhadap pengetahuan, berpikir kritis, dan terus bertumbuh menjadi lebih baik.
Semoga Hari Jadi Kota Cimahi ke-25 menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi di setiap rumah, sekolah, komunitas, dan ruang publik. Sebab ketika budaya literasi tumbuh dan mengakar dalam kehidupan masyarakat, sesungguhnya sebuah peradaban sedang dibangun.
Selamat Hari Jadi Kota Cimahi ke-25.
“Membangun jalan menghubungkan wilayah, membangun literasi menghubungkan masa depan.” (Febri Satria Yazid /BJN).
***
Judul: 25 Tahun Kota Cimahi: Menumbuhkan Budaya Literasi Intergenerasi untuk Membangun Peradaban
Penulis: Febri Satria Yazid, Ketua Forum TBM Kota Cimahi
Editor: Jumari Haryadi
Catatan: Tulisan-tulisan yang mengangkat isu-isu sosial dari Febri Satria Yazid bisa Anda baca di blog pribadi penulis ”Febrisatriayazid.blogspot.com”.