BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Minggu (21/06/2026) – Artikel “Refleksi 25 Tahun Pemajuan Budaya di Kota Cimahi: Cimahi Tempat Berpikir” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Dua puluh lima tahun adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk menakar arah sebuah kota dalam memajukan budaya. Cimahi, kota yang sering dianggap sebagai ruang transit antara Bandung dan Jakarta, sesungguhnya menyimpan denyut kebudayaan yang khas. Ia bukan sekadar tempat singgah, melainkan tempat berpikir—ruang di mana gagasan, tradisi, dan modernitas saling berkelindan.

Pemajuan budaya di Cimahi dapat dibaca melalui jejak festival, lomba, dan kegiatan literasi yang tumbuh di sekolah maupun komunitas. Gedung-gedung bersejarah, permainan tradisional, hingga cerita rakyat menjadi bahan baku yang terus diolah. Namun, pertanyaan mendasar tetap menggema: apakah semua ini telah membawa Cimahi naik kelas, atau justru masih berputar di lingkaran yang sama?
Sebagai kota yang relatif muda, Cimahi menghadapi tantangan besar dalam menjaga identitas. Modernisasi sering kali menekan ruang tradisi, sementara kebijakan budaya kadang berhenti pada seremoni. Di sinilah refleksi menjadi penting: budaya bukan sekadar acara tahunan, melainkan proses panjang yang menuntut konsistensi. Cimahi harus berani menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan, bukan sekadar pelengkap.
Cimahi tempat berpikir berarti kota ini harus menjadi laboratorium gagasan. Anak-anak muda diberi ruang untuk menulis, mendongeng, dan mencipta. Para guru dan budayawan diberi kesempatan untuk menghidupkan kembali nilai silih asah, silih asih, silih asuh dalam konteks kekinian. Dengan begitu, kebudayaan tidak hanya dipamerkan, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Refleksi 25 tahun ini seharusnya menjadi momentum untuk menegaskan bahwa Cimahi bukan kota yang berjalan di tempat. Ia adalah kota yang sedang belajar, merangkai ingatan, dan menyiapkan masa depan. Budaya di Cimahi bukan sekadar warisan, melainkan energi berpikir yang menuntun warganya untuk lebih manusiawi, lebih kreatif, dan lebih berakar pada tanah yang mereka pijak.
***
Judul: Refleksi 25 Tahun Pemajuan Budaya di Kota Cimahi: Cimahi Tempat Berpikir
Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.
Editor: JHK
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.
Aktifitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***