Surat Terbuka Didin Tulus untuk Bu Diah

BERITA JABAR NEWS (BJN)Kolom OPINI, Senin (25/05/2026) – Artikel “Surat Terbuka  Didin Tulus untuk Bu Diah” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Yth. Ibu Diah,

Salam literasi, Bu. Semoga Ibu senantiasa dalam keadaan sehat dan semangatnya tetap membara seperti api unggun di tengah dinginnya Kota Cimahi di malam hari.

Perkenalkan, saya salah satu warga Kota Cimahi yang belakangan ini sering merasa “gatal” kalau tidak menulis soal kota tercinta kita ini. Sebagai seseorang yang kesehariannya bergelut dengan buku dan dunia penerbitan, saya mengamati perkembangan literasi di Kota Cimahi ini ibarat sebuah sinetron—penuh drama, kadang mengharukan, tapi seringkali bikin kita geleng-geleng kepala.

Mari kita bicara jujur, Bu. Literasi di Kota Cimahi ini sebenarnya sudah punya potensi yang luar biasa. Kita punya segudang pegiat literasi yang kalau dikumpulkan, mungkin bisa bikin perpustakaan dadakan di setiap sudut kelurahan. Namun, entah mengapa, saat kita berbicara soal anggaran atau perhatian pemerintah, rasanya kok seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami.

Apakah literasi kita ini dianggap kurang “seksi” dibandingkan pembangunan infrastruktur jalan? Mungkin perlu kita ajukan proposal bahwa buku-buku juga butuh jalan untuk sampai ke tangan pembaca, bukan cuma motor yang butuh jalan mulus untuk macet-macetan di jam berangkat kerja.

Saya sering merasa, pengembangan literasi di Kota Cimahi ini masih terjebak pada acara-acara seremonial yang “kudu” (harus) terlihat wah, tetapi esensinya sering menguap bersama asap bakaran sampah di pinggir jalan, padahal literasi itu bukan soal seberapa banyak spanduk yang dipasang, atau seberapa megah panggung acara bedah bukunya. Literasi itu adalah bagaimana seorang anak di sudut Cigugur Tengah bisa jatuh cinta pada buku atau bagaimana para pensiunan di Kota Cimahi ini tidak hanya sibuk mengurus cucu, tetapi juga mulai menuliskan memoar kehidupan mereka yang penuh warna.

Ibu Diyah, saya pun teringat bagaimana perjuangan kita dalam mengawal isu-isu lokal, mulai dari sistem SPMB yang bikin pening orang tua, hingga bagaimana kita berusaha menghidupkan kembali ruh budaya Sunda di tengah gempuran modernitas. Literasi seharusnya menjadi senjata kita untuk mengkritisi kebijakan dengan kepala dingin. Sayangnya, kadang saya merasa menulis esai kritik di Kota Cimahi ini seperti meneriakkan puisi di tengah badai—suaranya tenggelam, tetapi setidaknya, kita sudah tidak diam.

Mungkin ke depannya, kita perlu strategi yang lebih “nakal” dan humoris. Misalnya, bagaimana kalau kita buat acara “Lomba Baca Buku Sambil Makan Tahu Sumedang”? Atau “Diskusi Sastra Sambil Kerja Bakti Bersihkan Selokan”?

Saya serius, Bu. Pengalaman saya saat ikut kerja bakti di RW 02 Sukamaju beberapa bulan lalu, ternyata di sela-sela menguras selokan, kita justru lebih banyak berdiskusi soal nasib kota dibandingkan saat rapat formal di gedung bertingkat. Bukankah itu bentuk literasi akar rumput yang paling jujur?

Saya membayangkan Kota Cimahi menjadi kota yang tidak hanya dikenal karena militer atau pabriknya, tetapi juga sebagai kota yang warganya memiliki “keringat” literasi di setiap pori-pori kulitnya. Kota yang menghargai buku seharga mereka menghargai semangkuk bakso kuah di cuaca hujan.

Ibu adalah sosok yang saya tahu punya kepedulian yang sama besarnya. Saya percaya, dengan kolaborasi, humor, dan sedikit “kegilaan” yang positif, kita bisa membuat Kota Cimahi ini menjadi tempat yang lebih cerdas untuk ditinggali.

Sekian curhatan saya, Bu. Mohon maaf jika bahasanya sedikit melantur, maklum, penulis memang seringkali lebih banyak bicara dengan buku daripada dengan manusia. Mari terus bergerak karena kalau bukan kita yang “merawat” Cimahi dengan tulisan dan bacaan, siapa lagi?

Salam takzim,

Didin Tulus

***

Judul: Surat Terbuka  Didin Tulus untuk Bu Diah

Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.

Editor: JHK

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***