Menikmati Malam di Jalan Braga: Sebuah Catatan Didin Tulus

BERITA JABAR NEWS (BJN)Kolom OPINI, Minggu (24/05/2026) – Artikel “Menikmati Malam di Jalan Braga: Sebuah Catatan Didin Tulus” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Jalan Braga. Siapa yang tak kenal namanya? Nama itu sendiri sudah seperti puisi pendek yang merangkum roman masa lalu, gemerlap kolonial, dan sedikit pilu tentang ketidakabadian.

Saya berdiri di trotoarnya suatu malam, bukan sebagai turis yang sibuk berburu kuliner atau foto kekinian, melainkan seperti seseorang yang datang untuk berziarah ke rumah tua keluarga. Rumah yang dulu ramai, tapi kini sunyi—hanya dihuni oleh bayang-bayang ingatan.

Pada awal 1900-an, Braga masih berupa jalan tanah. Pepohonan rindang dan rumah bergaya Hindia Timur menjadi pemandangan biasa.

Suasana malam di Jalan Braga, Kota Bandung – (Sumber: Didin Tulus/BJN)

Lalu, pada pertengahan 1930-an, Braga menjelma menjadi kompleks pertokoan Eropa paling bergengsi di Hindia Belanda. Hotel, restoran, toko serba ada—semua tersedia di sini. Waktu itu, berjalan di Braga berarti melangkah di pusat denyut modernitas.

Para pria berjas dan wanita bergaun panjang mungkin pernah melintas tepat di tempat saya berdiri sekarang, tanpa tahu bahwa kejayaan mereka hanyalah setitik napas dalam sejarah panjang kota ini.

Malam itu, angin Bandung yang khas menusuk kulit. Saya melintasi Braga dengan langkah lambat, sengaja. Bangunan-bangunan tua bergaya Art-deco masih tegak di sisi kanan-kiri. Kokoh. Anggun. Namun, di balik fasadnya yang megah, banyak pintu terkunci rapat. Di beberapa tempat, kaca etalase pecah atau buram karena debu yang tak lagi dibersihkan. Jejak kejayaan memang masih terlihat, tapi kemeriahan—itulah yang hilang.

Sejarah mencatat, sejak 1957, ketika warga Indo-Belanda dan Belanda pemilik toko meninggalkan Braga. Jalan ini berangsur-angsur menjadi sunyi. Perkembangan kota membuat keramaian terbagi ke berbagai pusat perbelanjaan baru.

Tahun 2005, kabar buruk datang: 45 persen pemilik usaha di sekitar Braga menutup usahanya. Jalan ini seperti pasien yang perlahan kehilangan nadinya. Namun, pada malam hari, Braga mencoba hidup lagi. Kafe-kafe di pinggir jalan mulai membuka pintu. Lampu-lampu kecil dinyalakan. Para pelayan sibuk menawarkan menu makanan dan minuman kepada pejalan kaki yang lewat.

Sepasang remaja bergandengan tangan di trotoar, sesekali berfoto di depan pintu bangunan tua yang kosong—seolah ingin merebut kembali sesuatu yang telah pergi. Penjual lukisan pemandangan alam sibuk menata dagangannya yang jatuh tersapu angin malam.

Pesona itu tidak cukup. Saya memperhatikan mobil-mobil yang melintas, kebanyakan berpelat nomor Jakarta. Penumpangnya hanya membuka separuh kaca, melirik sekilas bangunan tua, lalu melaju lagi. Hanya sedikit yang memarkir mobil, turun, dan membaur dengan warga menikmati suasana Braga.

Modernisasi telah mengikis sejarah. Para turis lokal lebih memilih factory outlet di Dago atau kafe-kafe instagramable di utara kota. Braga hanya singgah sekilas di jendela mobil.

Saya duduk di bangku taman, di depan salah satu bangunan kosong. Di kejauhan, suara jazz mengalun lembut dari sebuah kafe kecil. Saya berpikir: mungkin inilah bentuk terhormat dari sebuah riwayat. Tak semua yang tua harus mati. Kadang ia hanya belajar sunyi.

Braga, riwayatmu kini, digenggam oleh mereka yang masih sudi berjalan pelan di trotoarmu, pada waktu malam, ketika gemerlap tidak lagi penting, dan yang tersisa hanya kehadiran.

***

Judul: Menikmati Malam di Jalan Braga: Sebuah Catatan Didin Tulus

Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.

Editor: JHK

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***