Menyusuri Jejak Teks dan Batu: Catatan Perjalanan Bersama Saleh Danasasmita

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Minggu (07/06/2026) – Artikel berjudul “Menyusuri Jejak Teks dan Batu: Catatan Perjalanan Bersama Saleh Danasasmita” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. 

Perjalanan saya menelusuri karya Saleh Danasasmita terasa seperti memasuki hutan lebat yang penuh jejak, suara, dan bisikan masa lalu. Setiap langkah membuka jalan ke arah yang lebih dalam, ke akar sejarah Sunda yang kerap tertutup kabut. Saleh, seorang filolog, budayawan, sekaligus sejarawan, telah menyiapkan setapak yang rapi—meski berliku—agar kita bisa memahami Bogor dan Pajajaran bukan sekadar sebagai nama, melainkan sebagai denyut peradaban.

Awal Jejak: Dari Sumedang ke Bogor 

Saleh lahir di Sumedang tahun 1933, sebuah kota yang sarat tradisi. Sejak kecil ia akrab dengan pupuh, kawih, dan tembang cianjuran. Dari sana tumbuh kecintaannya pada bahasa dan aksara. Ia belajar huruf Palawa dan bahasa Kawi secara otodidak, lalu menjelma menjadi penerjemah naskah Sunda Kuno yang disegani. Perjalanan hidupnya berakhir di Bogor tahun 1986, tetapi jejaknya tetap hidup dalam teks dan ingatan.

Bogor menjadi panggung penting. Di kota hujan itu, ia mendirikan majalah Manglé, media berbahasa Sunda pertama di Bogor. Ia juga menjabat Kepala Seksi Kebudayaan Depdikbud Kota Bogor pada 1975. Dari ruang kerja sederhana, lahirlah gagasan besar tentang sejarah dan kebudayaan Sunda.

Menyusuri Karya: Sejarah Bogor dan Pajajaran 

Karya monumental Saleh adalah Sejarah Bogor, dua jilid buku yang menyingkap lapisan sejarah kota. Ia tidak hanya mengandalkan arsip kolonial, tetapi juga menelusuri naskah Sunda Kuno, prasasti, dan laporan ekspedisi VOC. 

Salah satu catatan penting adalah klarifikasinya terhadap laporan Winkler tentang batu bertulisan 8,5 baris. Saleh menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah Prasasti Batutulis dengan sembilan baris tulisan. Detail kecil ini, bagi Saleh, bukan sekadar angka, melainkan kebenaran sejarah yang harus ditegakkan. 

Winkler juga meninjau ulang laporan Scipio dan Van Riebeeck, mengaitkannya dengan artefak dan tradisi lisan. Dengan cara itu, Bogor tidak lagi sekadar kota kolonial, melainkan ruang yang menyimpan jejak Pajajaran.

Warisan Intelektual: Dari Naskah ke Dunia 

Karya-karya Saleh kini tersimpan di perpustakaan luar negeri—Yale, Michigan, Australia—dan di Yayasan Kebudayaan Rancagé yang didirikan Ajip Rosidi. Fakta ini menunjukkan bahwa jejaknya menembus batas geografis. Ia bukan hanya milik Sunda, tetapi juga bagian dari khazanah dunia. 

Membaca Saleh bukanlah pekerjaan akademis semata. Ia mengajak kita untuk “nyukcruk”—menelusuri jejak dengan rasa ingin tahu, dengan kesediaan untuk tersesat di hutan teks. Membaca karyanya adalah tamasya intelektual, sebuah perjalanan yang menuntut kesabaran dan ketekunan.

Refleksi Perjalanan 

Menelusuri karya Saleh membuat saya merasa sedang berjalan di antara batu bertulis, naskah kuno, dan kabut Bogor. Ada rasa kagum sekaligus haru: kagum pada ketekunannya, haru pada kesadaran bahwa banyak jejak yang nyaris hilang jika tidak ia selamatkan. 

Saleh mengajarkan kita bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan kompas moral. Dengan menata teks, ia menata ingatan. Dengan menata ingatan, ia menata identitas. Pajajaran, dalam pandangan Saleh, bukanlah nostalgia, melainkan pijakan untuk memahami diri dan zaman.

Catatan perjalanan ini bukan sekadar mengenang seorang sejarawan. Ia adalah ajakan untuk menapaki setapak yang telah ia buka. Jalan menuju hutan lebat memang penuh rintangan, tetapi di sanalah kita menemukan akar, suara, dan cahaya. 

Saleh Danasasmita telah menunjukkan bahwa menulis sejarah adalah menulis kehidupan. Ia menata batu, naskah, dan kata-kata, lalu menyerahkannya kepada kita sebagai bekal. Kini, tugas kita adalah melanjutkan perjalanan itu, agar hutan lebat sejarah Sunda tetap hidup, tetap berbisik, tetap menuntun.

***

Sumber: 

– Artikel Setapak Jalan Menuju Hutan Lebat: Saleh Danasasmita, Halimun Salaka 

– Arsip Yayasan Kebudayaan Rancagé (Ajip Rosidi) 

– Koleksi perpustakaan luar negeri: Yale University Library, University of Michigan Library, National Library of Australia

***

Judul: Menyusuri Jejak Teks dan Batu: Catatan Perjalanan Bersama Saleh Danasasmita

Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.

Editor: JHK

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Didin Tulus
Didin Tulus, Penulis – (Sumber: Didin Tulus/BJN)

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***