Gelora Sumpah Pemuda di Bandung: Gema Inti Gaungkan Persatuan dan Harmoni Budaya Sunda-Tionghoa

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (01/11/2026) –  Semangat persatuan dan toleransi antarbudaya kembali digaungkan melalui kegiatan Gelora Sumpah Pemuda yang digelar Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti) Jawa Barat di Gedung Pusat Kebudayaan Indonesia Tionghoa, Jalan Nana Rohana, Kota Bandung, Minggu (1/11/2026).

Kegiatan yang berlangsung dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda tersebut menjadi momentum untuk mengingatkan generasi muda bahwa keberagaman bukanlah penghalang untuk bersatu, melainkan kekuatan yang harus dirawat bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ketua Gema Inti Jawa Barat sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Herman Setiawan, mengemas Gelora Sumpah Pemuda melalui empat rangkaian kegiatan utama. Keempatnya meliputi kunjungan edukatif ke Museum Kebudayaan Tionghoa, pembacaan Deklarasi Sumpah Pemuda, pertunjukan seni Barongsai, serta penampilan musik kolaborasi budaya Sunda dan Tionghoa.

Ketua Gema Inti Jawa Barat sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Herman Setiawan – (Sumber: BJN)

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diajak mengenang sejarah perjuangan pemuda Indonesia, tetapi juga memahami pentingnya peran berbagai kelompok etnis dalam perjalanan panjang terbentuknya bangsa Indonesia.

Salah satu agenda edukatif yang menarik perhatian adalah kunjungan ke Museum Kebudayaan Tionghoa. Di tempat ini, peserta diperkenalkan dengan sosok Sie Kong Lian, tokoh pemuda Tionghoa yang memiliki peran penting dalam memfasilitasi pertemuan para pemuda dari berbagai daerah pada masa pergerakan nasional.

Pertemuan tersebut menjadi bagian penting dari proses konsolidasi semangat kebangsaan yang kemudian melahirkan ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Suasana acara perayaan Hari Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh GEMA INTI Jawa Barat pada 1 November 2026 di Gedung Pusat Kebudayaan Indonesia Tionghoa, Kota Bandung – (Sumber: BJN)

Herman mengatakan, kolaborasi seni musik Sunda dan Tionghoa sengaja dihadirkan untuk memperlihatkan bahwa perbedaan tradisi dan karakter budaya dapat menghasilkan karya yang indah ketika dipadukan dengan semangat saling menghargai.

“Melalui perpaduan seni musik Sunda dan Tionghoa, kita ingin menunjukkan bahwa dua budaya yang memiliki karakter dan tradisi berbeda dapat berpadu menjadi sebuah karya yang indah, saling melengkapi, dan menghasilkan harmoni,” ujar Herman.

Tamu undangan yang hadir dalam kegiatan Gelora Sumpah Pemuda yang digelar GEMA INTI Jawa Barat di Gedung Pusat Kebudayaan Indonesia Tionghoa, Kota Bandung, Minggu (1/11/2026) – (Sumber: BJN)

Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam kehidupan sosial, tetapi juga mampu mengambil peran sebagai agen perubahan sekaligus jembatan yang menghubungkan berbagai latar belakang budaya di tengah masyarakat.

“Kita tidak harus menjadi sama untuk bisa berjalan bersama. Kita tidak harus memiliki budaya yang sama untuk bisa saling menghargai,” tegasnya.

Kadisparbud Jabar Apresiasi Museum Kebudayaan Tionghoa

Apresiasi terhadap penyelenggaraan Gelora Sumpah Pemuda dan upaya pelestarian sejarah budaya Tionghoa disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat, Iendra Sofyan, yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut.

Menurut Iendra, keberadaan Museum Kebudayaan Tionghoa memiliki nilai penting karena menyajikan gambaran mengenai perjalanan sejarah, akulturasi budaya, hingga perkembangan aktivitas ekonomi masyarakat di Jawa Barat yang turut dipengaruhi oleh kontribusi etnis Tionghoa.

Ia menilai sejarah dan kebudayaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Indonesia. Karena itu, generasi muda perlu memahami perjalanan interaksi berbagai kelompok etnis yang telah berlangsung sejak lama.

“Intinya saya apresiasi buat yayasan yang membangun museum ini, sebuah sejarah Indonesia bahkan ya, tidak hanya Jawa Barat. Jadi bagaimanapun kita ini juga diwarnai dengan budaya kita ini,” tutur Iendra.

Ia juga menyoroti besarnya kontribusi masyarakat Tionghoa dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk ekonomi, sosial, dan politik, baik di tingkat nasional maupun Jawa Barat.

Menurutnya, kerukunan antarumat beragama dan akulturasi budaya yang selama ini tumbuh di lingkungan keluarga, sekolah, serta masyarakat harus terus dipelihara. Peran generasi muda sangat dibutuhkan agar nilai toleransi tersebut tidak terkikis oleh perbedaan latar belakang.

Suasana acara perayaan Hari Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh GEMA INTI Jawa Barat pada 1 November 2026 di Gedung Pusat Kebudayaan Indonesia Tionghoa, Kota Bandung – (Sumber: BJN)

Iendra turut menjelaskan pentingnya memahami sejarah kedatangan masyarakat Tionghoa ke Nusantara secara objektif. Ia membandingkan perjalanan sejarah tersebut dengan kedatangan bangsa-bangsa Eropa yang pada awalnya melakukan aktivitas perdagangan, tetapi kemudian berkembang menjadi kekuatan kolonial.

“Contoh yang saya pelajari dari Tionghoa ini, kedatangan mereka ke sini tuh dulu ya ke sini dan sampai sekarang tidak ada niatan untuk menjajah. Berbeda dengan Eropa ya,” ujar Iendra .

Iendra menambahkan, masyarakat Tionghoa telah memberikan warna dalam perjalanan ekonomi dan perjuangan bangsa Indonesia melalui berbagai kontribusi di bidang perdagangan, politik, maupun kehidupan sosial. 

Pemprov Jabar Siapkan Penataan Kawasan Pasir Koja

Selain mengapresiasi keberadaan museum, Iendra juga mengungkapkan adanya arahan Gubernur Jawa Barat terkait rencana penataan infrastruktur dan ruang publik di kawasan Pasir Koja agar lebih mencerminkan karakter budaya Tionghoa.

Rencana tersebut antara lain mencakup desain gerbang Tol Pasir Koja hingga penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di sepanjang akses jalan menuju Museum Kebudayaan Tionghoa.

Menurut Iendra, rencana penataan tersebut merupakan salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap keberagaman budaya yang menjadi bagian dari identitas Kota Bandung dan Jawa Barat.

Iendra menyebutkan bahwa arahan tersebut telah diterima pemerintah daerah, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Namun, pelaksanaan teknisnya tetap memerlukan koordinasi dengan instansi terkait serta pihak-pihak yang memiliki kewenangan atas infrastruktur dan lahan.

“Kebijakan itu kita tentunya sudah mendapatkan dan sudah mendengarkan arahan ya, baik langsung maupun melalui medsos. Nah ini sekali lagi sebuah bukti bahwa Pak Gubernur sangat menghargai sebuah toleransi,” jelas Iendra.

Iendra menambahkan, pemerintah ingin menghadirkan wajah pembangunan yang mampu merepresentasikan kekayaan budaya dan keberagaman masyarakat Jawa Barat, khususnya Kota Bandung. 

“Terkait dengan pembangunannya saya kira ini tentunya nanti teman-teman Bina Marga ataupun perhubungan akan berkoordinasi dengan pemilik lahan atau pemilik sarana, yaitu adalah Jasa Marga atau siapapun yang mengusulkan,” pungkas Iendra. 

GEMA INTI JAWA BARAT
Ketua Gema Inti Jawa Barat sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Herman Setiawan (berdiri di depan/tengah) bersama para pengurus lainnya – (Sumber: BJN)

Melalui Gelora Sumpah Pemuda, pesan yang ingin disampaikan menjadi semakin jelas: persatuan tidak menuntut keseragaman. Justru dari keberagaman budaya, tradisi, dan latar belakang masyarakat itulah Indonesia memiliki kekuatan untuk terus tumbuh sebagai bangsa yang rukun, toleran, dan saling menghargai.

Acara peringatan Hari Sumpah Pemuda ini dihadiri oleh Kepala Dinas Sejarah TNI Angkatan Darat (Kadisjarahad), Brigjen TNI Teddy Arifiyanto Setimiharja, S.I.P., M.M., M.Han.; Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dr. Iendra Sofyan, S.T., M.Si.; Ketua Paguyuban Bandung Ngariung, Martin B Chandra; Ketua Musium Barli, Sanga Adit Bogalakon.

***

Judul: Gelora Sumpah Pemuda di Bandung: Gema Inti Gaungkan Persatuan dan Harmoni Budaya Sunda-Tionghoa

Jurnalis: RML/BJN

Editor: JHK

Flyer perayaan Hari Sumpah Pemuda yang diselenggarakan oleh GEMA INTI Jawa Barat pada 1 November 2026 – (Sumber: BJN)