Gencatan Senjata yang Gagal Membungkam Derita Rakyat Gaza

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Senin (08/06/2026) – Artikel berjudul “Gencatan Senjata yang Gagal Membungkam Derita Rakyat Gaza” ini merupakan karya tulis Yuli Yana Nurhasanah yang akrab disapa Yuli dan aktif dalam dalam Komunitas Menulis “Muslimah Peduli Umat”.

Ini bukan sekadar konflik bersenjata, tapi krisis kemanusiaan yang dibiarkan berlarut. Ketika Israel berdalih membela pasukan dengan dalih menghadapi Hamas, yang terjadi di lapangan adalah pembantaian sistematis terhadap anak-anak dan perempuan.

Hal yang paling mengiris adalah potret Adam, bocah usia lima tahun yang dulu ceria, kini mendadak bungkam, berhenti berinteraksi dengan dunia karena trauma perang. Menurut UNICEF, Adam hanyalah satu dari lebih 20.000 anak yang dibunuh dan 41.000 anak yang terluka sejak Oktober 2023.

Ironisnya, di tengah saling tuduh antara Israel dan Hamas soal siapa yang melanggar kesepakatan, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza tercatat lebih dari 72.000 orang tewas dan 172.000 lainnya luka-luka. Mereka mayoritas warga sipil.

Yuli Yana Nurhasanah
Yuli Yana Nurhasanah, penulis – (Sumber: BJN)

Angka-angka korban bukanlah statistik kosong: tiap angka adalah Adam-Adam lain yang kehilangan suara, tawa, dan masa depannya. Gencatan senjata tanpa penghentian kekerasan hanyalah formalitas diplomatik yang gagal. Jika dunia internasional terus diam dan membiarkan “perdamaian di atas kertas” ini. Oleh karena itu kita semua ikut bertanggung jawab atas bungkamnya anak-anak Gaza.

Enam bulan berlalu sejak gencatan senjata diumumkan, tetapi Gaza masih bergelimang darah. Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Volker Turk, sendiri mengakui bahwa serangan Israel terus terjadi secara rutin sejak April, menewaskan sedikitnya 846 orang, termasuk perempuan dan anak-anak. Lalu, di mana letak “gencatan” itu jika nyawa warga sipil tetap melayang? (Sumber: kompas.com 30/05/2026).

Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza, hingga mereka kehilangan kemampuan bicara, menjadi potret nyata dampak kejahatan entitas Zionis yang terus menyerang, membunuh, dan menghancurkan rakyat Gaza tanpa henti. Skenario genosida terhadap rakyat Gaza ini jelas dilakukan secara sistematis untuk menghancurkan fisik dan mental generasi Palestina.

Tragisnya, dunia internasional tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini. Respons dunia hanya sebatas bantuan kemanusiaan yang minim, jauh dari kata cukup untuk menghentikan pembantaian. Lebih menyakitkan lagi, penguasa-penguasa negeri muslim justru dinilai melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina dengan diam. Bahkan, mereka justru menjalin normalisasi dengan penjajah.

Kondisi tersebut mempertegas bahwa umat Islam saat ini kehilangan perisai yang melindungi mereka, yaitu Khilafah Islam sehingga darah dan kehormatan kaum Muslim terus ditumpahkan tanpa ada kekuatan yang membela secara nyata.

Mengakhiri derita anak Gaza butuh persatuan dan solusi hakiki. Derita anak-anak Palestina yang kehilangan suara karena trauma perang tidak akan selesai hanya dengan terapi. Akar masalahnya adalah pendudukan. Oleh karena itu, penghentian kekerasan dan pemulihan hak-hak rakyat Palestina atas tanahnya menjadi syarat utama agar anak-anak bisa tumbuh tanpa bom dan pengungsian. Islam memerintahkan untuk melindungi jiwa, terutama anak-anak dan warga sipil.

Persatuan umat jadi kunci agar suara pembelaan ini kuat dan efektif, bukan terpecah oleh kepentingan nasionalisme sempit. Kejahatan entitas Zionis harus dilawan dengan jihad fii sabilillah, dan untuk itu dibutuhkan institusi khilafah yang akan mengirimkan tenteranya untuk membebaskan Palestina. Ketiadaan satu kepemimpinan politik umat Islam membuat respons terhadap penindasan di Palestina sering lemah dan tidak terkoordinasi.

Institusi Khilafah ini berfungsi melindungi kehormatan umat, menegakkan keadilan, dan menjalankan politik luar negeri yang berpihak pada kaum tertindas, termasuk rakyat Palestina, melalui cara-cara yang dibenarkan oleh syariat.

Solusi dalam Islam menekankan perlindungan nyawa, penghapusan kezaliman, dan persatuan umat untuk bertindak secara sistematis dan bermartabat yang sangat penting bagi pembebasan Palestina serta persatuan kaum muslimin di seluruh dunia. Wallahualam bi shawab.

***

Judul: Gencatan Senjata yang Gagal Membungkam Derita Rakyat Gaza

Penulis: Yuli Yana Nurhasanah

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang penulis

Yuli Yana Nurhasanah atau  akrab dipanggil Yuli ini lahir di Ciamis, pada 8 Juli 1984. Menulis Opini Islam menjadi kegiatan kesehariannya beberapa bulan belakang ini. Semua ini berawal dari keprihatinannya terhadap realitas kehidupan yang terjadi di tengah masyarakat saat ini.

Menulis opini dengan sudut pandang Islam mencoba menyuarakan pemikiran dan isi hati, mencoba membuka pemikiran, dan pemahaman umat melalui tulisan.

Wanita yang suka berpikir ini mulai menulis saat ia bergabung dengan Komunitas Menulis “Muslimah Peduli Umat”. Beberapa tulisan Yuli tentang berbagai topik sudah dimuat di media online. Ia juga aktif di media sosial Facebook dengan akun Yuli Yana Nurhasanah.

***