Cerpen “Seorang Lelaki di Tepi Gate No. 338”

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Sastra, Kamis (5/03/2026) – Cerita pendek (cerpen) berjudul “Seorang Lelaki di Tepi Gate No. 338”  ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko,  seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.

Semburat merah sinar matahari senja Jumat itu menerangi langit Madinah. Meski kumandang adzan masih lama, Dipo sudah berjalan kaki pelan menuju masjid untuk menunaikan salat. Dia melangkah sambil celingukan, mengarahkan pandangan matanya ke kanan dan ke kiri mencari teman. Dia sedang merasa benar-benar sendiri dan betul-betul membutuhkan teman ─ untuk mendengar maupun untuk dia dengarkan.

Berjalan di tengah-tengah lautan orang asing di negeri asing, membuat Dipo merasa semakin terasing. Agak aneh memang, di tengah keriuhan orang berlalu-lalang, dia merasa sendirian dan memerlukan teman.

Sarkoro Doso Budiatmoko
Pengarang/Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko – (Sumber: koleksi pribadi)

 Jarak tempuh dari tempatnya menginap ke masjid sebenarnya tidak terlalu jauh, waktu tempuhnya pun tidak lebih dari sepenanak nasi. Walau begitu, dalam kesendirian, jarak dan waktu sedekat itu bagi Dipo terasa sangat jauh dan amat lama.

Dipo, lelaki setengah baya, melangkah bersama derap kaki orang-orang yang datang dari berbagai pojok bumi. Sepanjang jalan semua orang tampak khusyuk berdoa sambil melangkah setapak demi setapak. Bibir mereka komat-kamit.

Di Tanah Suci ini semua doa memang selayaknya dipanjatkan dengan khusyuk, penuh asa dan ketulusan memohon diijabah. Rabbana wa taqobbal du’a.

Tidak sedikit juga dari mereka yang berjalan sambil mengobrol. Mereka serius berbincang dengan teman di sebelahnya, di kanan-kirinya. Entah apa yang orang-orang asing itu obrolkan, tangan-tangan mereka bergerak kesana-kemari dan kadang kepalanya menggeleng atau mengangguk diselingi tawa ngakak.

 Pemandangan seperti itu sebenarnya biasa saja, tapi tetap membuat Dipo semakin merasa sendiri. Dengan iseng, disapanya beberapa Askar yang berjaga di pinggir jalan salam,  “Assalamualaikum.”

Balasan salam dari Askar sedikit mengobati kesendiriannya. Setidaknya ada yang bisa dia ajak bicara.

Kesendirian dan sepi membuat Dipo merasa tidak sekuat saat di kampung. Ternyata dia bukan burung elang yang mampu menjelajah angkasa dan mengarungi badai. Dia hanya seekor bebek atau burung kuntul yang kebingungan ketika sendiri tanpa kawan, tak tahu arah di negeri jauh.

Dipo juga merasa tidak lebih dari seekor burung emprit yang banyak suara tapi miskin isi. Dia hanya jago di kandangnya sendiri tapi nyekukruk di tempat lain.

Kepergiann Dipo ke Tanah Suci kali ini memang bukan yang pertama kali, tapi baru sekarang ini Dipo pergi sendiri, tanpa istri, tanpa kawan tanpa rombongan. Lelaki setengah umur ini mengukur diri, ternyata pergi beribadah beberapa kali bukan jaminan untuk merasa gahar ketika pergi sendiri.

Pergi sendiri memang lebih murah, lebih leluasa mengatur jadwal, bisa memilih kamar hotel, juga bisa memilih makan, minum dan kebutuhan akomodasi lainnya secara mandiri. Semuanya diurus dan selesaikan sendiri.

Hanya satu yang Dipo lupa, siap sendirian di tempat jauh. Siap jengah tidak ada istri yang digandeng, sepi tidak ada teman makan dan pusing tidak ada yang bikinkan kopi. Sudah dua hari ini dia tidak minum kopi. Dia kangen kopi seduhan istri. Rasanya sudah ingin pulang saja..

Dipo terus melangkah pelahan. Banyak pejalan-kaki melewatinya dan ada juga yang menabraknya. Berjalan di tengah arus manusia memang harus siap ditabrak atau menabrak. Matanya terus jelalatan.

Bagi Dipo biasanya tidak sulit untuk mengenali sesama orang Indonesia. Di matanya, orang Indonesia itu mudah dikenali dari raut wajahnya yang selalu siap tersenyum.

Dipo tidak pilih-pilih teman, cukup bisa diajak ngobrol ngalor-ngidul asal dia orang Indonesia. Rupanya kata hatinya ini terdengar sampai langit. Tiba-tiba ada yang menyapa, “Pak, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam,” jawab Dipo girang sambil memutar kepalanya mencari sumber suara, tapi tidak ada. Dia menepi dan mencoba mencari lagi, tidak ketemu. Dalam hati dia berpikir, mungkin itu salam untuk orang lain, biarlah. Dipo memang bukan satu-satunya orang yang menjawab salam.

Benar saja, hanya terpaut beberapa detik terdengar lagi, “Selamat sore Pak…”

“Met soreee…” jawab Dipo lebih girang sambil berpikir, Ah, ini dia, insyaAllah itu salam untukku alhamdulillah.

Tanpa menghentikan langkah, Dipo menyapu pandangan matanya ke arah sumber suara. Didapatinya seorang lelaki berjalan dua hasta di sisi kirinya.

Dipo tidak seketika itu yakin lelaki itu orang Indonesia. Kulitnya memang cokelat, rambutnya juga lurus dan hitam, tapi pancaran wajahnya keras dan bibirnya seperti sudah lama tidak tersenyum. Kaku.

Mereka tetap melangkah maju sambil mencoba saling mendekat. Ketika sampai ke batas pelataran, tanpa banyak omong, si lelaki minggir lalu menyandarkan punggung pada dinding tepi gerbang nomor 338.

Mata Dipo tajam menyelidik. Tanpa sungkan dilihatnya sekujur baju yang membalut tubuh si lelaki. Dilihatnya ada pin merah-putih menempel di dada kirinya. Setelah hilang rasa ragu, diulurkan tangannya. Uluran tangannya disambut jabat tangan erat. Dari mata kedua lelaki itu meluncur seribu kata tanpa suara.

Dimulailah obrolan dari basa-basi hingga yang serius. Entah apa yang topiknya, tetapi mereka berdua tampak sangat akrab. Sesekali terdengar tawa dan ada juga suara “hah”, sebuah ungkapan kekagumam dan kekagetan.

Pardi ─ nama lelaki itu, seumuran Dipo. Bangun tubuh keduanya tidak beda jauh. Tidak dinyana, ternyata  banyak kesamaan antara keduanya. Kesamaan itu pula rupanya yang membuat obrolan menjadi semakin hangat.

 Pardi cerita, dia tadi melihat Dipo berjalan celingukan dan tampak bingung, persis seperti dulu saat pertama dia datang di kota ini. Itulah yang mendorongnya menyapa dengan salam “selamat sore”.

Di tengah obrolan terdengar azan. Kehangatan ngobrol mereka terpotong. Ajakan Dipo untuk masuk dan salat di dalam masjid ditolak. Pardi merasa lebih nyaman salat di pelataran. Mereka pun kemudian berpisah dan bersepakat ketemu kembali di tempat itu nanti setelah salat

***

Tak sulit untuk bertemu lagi. Mereka mengambil posisi duduk berhadapan di pelataran masjid. Tidak ada jabat tangan, keduanya sudah seperti kawan lama.

Persis ketika hendak memulai obrolan, Dipo kaget melihat mata kawan barunya itu merembang basah. Belum sempat menetes, air mata sudah diusap dengan ujung lengan bajunya.

Tanpa ditanya, kawan baru ini ngomong, “Beginilah, aku tidak kuat menahan air mata setiap kali ketemu dengan orang sebangsa setanah air.”

Suaranya agak tercekat, lanjutnya, “Setiap ketemu orang seperti Anda, pikiran saya langsung melayang ke kampung halaman, kampung impian. Di sana semiskin apapun, masih banyak sapa dan senyum yang membesarkan hati.”

Dipo masih menghimpun kata-kata untuk menjawab, tapi bibir Pardi tak terbendung dan ngomong lagi, “Meski ada juga bajingan-bajingan yang berkeliaran.”

Sadar kata-kata yang dia ucapkan agak kasar, Pardi susuli, “Tapi la’… la’… la’, Lā tukammil, Lā taqul kalāman sayyi’an.”

“Afwa,” kata Pardi.

Dipo menangkap ada nada getir dan dendam kesumat pada setiap kata-kata yang terucap dari bibir Pardi. Dipo mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “Bahasa Arabmu fasih sekali, sudah tinggal di sini berapa tahun?”

Agak ogah-ogahan Pardi menjawab, “Sudah bertahun-tahun…”

“Pantesan kayak siaran TV Arab, he..he…,” kata Dipo, lalu menambahakan, “Kampung halaman memang bikin kangen.”

“Terus sudah berapa kali pulang kampung?” tanya Dipo.

Pardi tidak langsung menjawab. Sambil menunggu jawaban, Dipo sibuk memperbaiki posisi duduk.

Mata Pardi kembali digenangi air. Lalu, menjawab, “Tahun lalu kontrak kerjaku di sini habis. Akupun siap-siap pulang. tapi tiba-tiba aku dikabari seorang kerabat, istriku selingkuh.”

Pardi berhenti dan menarik nafas dalam, dalam sekali.  Tidak lama kemudian panjang lebar Pardi bertutur tentang istrinya yang tergoda lelaki lain, padahal lelaki itu sudah gaek. Entah apa yang membuat istri Pardi terpikat, padahal uang hasil keringat bekerja di negeri gurun selalu dia kirimkan sebulan sekali.

Mendengar kabar itu, Pardi sangat terpukul dan langsung membatalkan rencana pulang. Dia kembali bekerja di tempat semula.

Dipo tidak bisa langsung menanggapi, bingung, dan dengan canggung akhirnya ngomong, “Aku beberapa kali mengikuti berita, biasanya yang selingkuh itu laki-laki, tapi ini istrimu ya?”

“Iya,” jawab Pardi singkat.

“Ya, sangat menyakitkan, itu sangat merendahkan harga diri laki-laki,” sahut Dipo, lalu menambahkan, “Menurutku, bukan mau bikin panas hati, pulang dan selesaikan, bereskan, atau hidup saja di sini, cari istri lagi, tidak usah pulang.”

Pardi menanggapi, “Ya, ini salahku juga, akibat kedunguanku, aku kira kirim uang setiap bulan itu sudah cukup. Ternyata tidak.”

“Ya, istrimu juga butuh kehangatan,” sahut Dipo.

Pardi menghela napas panjang. Diam beberapa saat, merenung.

“Tapi aku tetap akan pulang, entah kapan,” kata Pardi penuh tekad.

“Baguslah, jangan biarkan masalah menggantung, itu akan membuatmu bertambah bingung,” timpal Dipo.

Perbincangan semakin serius. Pardi berbilang bulan berkutat dalam perang batin yang tidak ringan, perang antara harga diri dan harga kasih sayang. Berat karena menyangkut hubungan antar insan yang diikat janji di depan penghulu.

Pesan Dipo agar tidak membiarkan masalah menggantung tak terselesaikan telah mencerahkan pikirannya. Kini dia merasa memiliki tambahan amunisi untuk berperang menghadapi masalahnya.

Angin malam bulan Pebruari itu bertiup dingin menusuk tulang menghentikan obrolan mereka. Mereka berpisah sementara dan berjanji untuk ketemu esok hari di tempat yang sama.  Ajakan Dipo menginap di kamar hotel ditolak Pardi dengan halus.

Dipo melangkah pulang dengan langkah kaki yang cepat. Dia tidak tahan dengan hawa yang semakin dingin. Dalam langkah-langkahnya, Dipo merasa betapa bersukurnya dia memiliki keluarga yang tidak bermasalah. Semua sejauh ini baik-baik saja.

Hotel sudah sepi. Terbayang empuknya kasur dan hangatnya selimut. Bergegas Dipo menuju kamar. Ketika memasuki kamar hotel, tidak disangkanya pintu menutup sendiri dengan keras. Dipo terkesiap kaget.

Kagetnya itu mengantarnya berpikir, mungkin sekali keluarga Pardi pun awalnya baik-baik saja, masalah muncul karena istri tidak siap ditinggal dalam waktu yang lama. Tujuan Pardi pergi itu karena ingin mengangkat harkat dan kesejahteraan keluarga. Namun, tujuan mulia itu berbalik menjadi masalah.

Meski baru beberapa hari pergi, Dipo tidak mau menemui masalah seperti Pardi. Segera saja tengah malam itu menghubungi maskapai penerbangan, minta jadwal pulangnya dimajukan. Maskapai tidak bisa langsung menjawab, mereka akan menghubungi lagi.

Dini hari Dipo sudah bangun bersiap menuju masjid. Dia ingin datang cepat dan mendapat tempat di shaf depan. Sepanjang langkah kaki, dia lantunkan doa-doa untuk anak, istri, keluarga, bangsa dan negara.

Saat melintas pintu Nomor 338, Pardi tidak terlihat di tempatnya. Demikianpun saat pulang, tidak dilihatnya kawan barunya itu.

Hari itu Pardi tidak terlihat. Besoknya Pardi masih belum terlihat. Demikian juga lusa dan hari berikutnya.

Pardi belum juga ketemu saat Dipo mendapat kabar baik dari maskapai, jadwal penerbangan disetujui untuk dimajukan. Dalam hati Dipo berucap, Ah, biar saja, dia lelaki dewasa, punya pilihan dan tanggungjawab sendiri, semoga dia baik-baik saja.

Pada harinya, terbanglah Dipo kembali ke kampung halaman. Selama penerbangan yang panjang itu benaknya dipenuhi dengan bayangan Pardi dan masalah keluarganya, tentang dirinya sendiri yang ternyata bukanlah elang, singa dan bukan pula seorang petarung sejati. Otaknya juga dipenuhi dengan rencana perjalanan umroh mandiri bersama anak dan istri. Pikirannya berputar-putar sebelum akhirnya duduk tertidur.

Dipo terbangun karena ada pengumuman dari pramugari. Entah pengumuman apa, Dipo sedang kebelet pipis. Hati-hati dia menuju toilet pesawat. Saat itulah dia mendengar seseorang menyapanya, “Selamat sore Pak.”

“Haaiii, Pardi, kayak siluman saja, beberapa hari kemarin aku cari-cari, eh malah ketemu di sini,” sahut Dipo.

Mereka tidak bisa berbincang leluasa di dalam pesawat maka Dipo pulang ke tempat duduknya. Kedua lelaki itu berjanji ketemu lagi di bandara setibanya di Tanah Air. Rupanya obrolan singkat di dalam pesawat itu adalah obrolan terakhir. Saat mendarat di bandara, Pardi hilang dari pandangan lagi.

Mereka menjadi orang asing satu sama lain. Pardi tidak bisa dihubungi, sedangkan Dipo sudah berkumpul dengan anak istrinya. Kerja, sekolah, dan menjalankan usaha kembali  menjadi kegiatan rutin. Sesekali menonton TV.

Saat menonton TV itulah Dipo dikejutkan berita tentang seorang lelaki berinisial PRD yang menyerahkan diri ke pihak berwajib setelah melakukan perbuatan melawan hukum. PRD yang baru pulang dari luar negeri harus masuk sel karena ancaman hukumannya tinggi.

Diberitakan, pihak berwajib kini sedang mencari rekan PRD bernama DPO yang bersama-sama pulang dari Luar Negeri. DPO disebut telah menginspirasi PRD berbuat kriminal. Dari berita TV, Dipo paham benar pria PRD itu adalah Pardi dan DPO adalah dirinya, tapi tidak paham mengapa namanya disebut juga.

Walau begitu Dipo tidak bisa menutupi kegelisahannya. Kegelisahan itu menular ke istrinya dan anak-anaknya. Mereka sekeluarga menunggu apa yang akan terjadi. Dipo berpesan ke anak-anaknya, “Selalu berhati-hatilah memilih teman.”

Owais Hotel, Jarwal, KSA, 5 Matet 2026

Sarkoro Doso Budiatmoko

***

Judul: Seorang Lelaki di Tepi Gate No. 338

Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko

Editor: Jumari Haryadi

Tentang Penulis/Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.

Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.

Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.

Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.

***