Tragedi Teheran 2026: Hegemoni AS dan Rapuhnya Sekat Nasionalisme dalam Melindungi Kedaulatan Umat

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Kamis (05/03/2026) – Sebuah esai yang tertuang dalam Rubrik OPINI berjudul “Tragedi Teheran 2026: Hegemoni AS dan Rapuhnya Sekat Nasionalisme dalam Melindungi Kedaulatan Umat” ini merupakan buah karya Mardhatillah Maulidah, Mahasiswi Universitas Tazkia, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Potret Kelam Pengkhianatan di Balik Hujan Rudal

Sejarah politik internasional kembali mencatatkan tinta merah yang pekat pada akhir Februari 2026. Langit Teheran, Qom, Isfahan, hingga Karaj mendadak membara akibat hujan rudal yang diluncurkan oleh aliansi Amerika Serikat (AS) dan entitas Yahudi melalui “Operasi Epic Fury”. Peristiwa ini mencapai titik paling tragis ketika markas besar kepemimpinan Iran luluh lantak, mengakibatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Sayyid Ali Khamenei, gugur di tengah gempuran tersebut.

Ironisnya, agresi militer ini terjadi justru setelah selesainya putaran ketiga negosiasi di Muscat. Fakta yang paling menyingkap wajah asli penjajah adalah bagaimana Donald Trump secara agresif membangun narasi bohong mengenai ancaman nuklir demi melegitimasi penghancuran fasilitas vital, padahal jika ditarik ke belakang, Iran memiliki catatan panjang dalam memberikan jalan bagi agenda Amerika di kawasan, mulai dari bantuan dalam proses pendudukan di Afghanistan hingga Irak. Namun, pengabdian tersebut nyatanya dibalas dengan tumpahnya darah dan kehancuran total.

Mardhatillah Maulidah, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Anatomi Muslihat Kapitalisme: Perang Status antar Negara

Tragedi Teheran menyingkap sebuah kebenaran pahit mengenai wajah asli politik internasional di bawah kendali sistem kapitalisme global. Dalam kacamata Geopolitik Islam yang dirumuskan oleh Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitabnya Mafahim Siyasiyah Lihizb at-Tahrir, status negara di dunia dapat dipetakan secara akurat untuk membongkar motif di balik serangan ini:

1. Daulah Ula (Negara Utama/Adidaya):  Saat ini dipegang oleh Amerika Serikat. Sebagai pemegang kendali global, AS akan selalu berusaha menghancurkan atau menundukkan kekuatan mana pun yang mengancam hegemoninya.

2. Daulah Tabi’ah (Negara Pengikut): Negara yang politik luar dan dalam negerinya terikat total pada negara adidaya. Contoh nyata adalah Mesir, Saudi, dan Yordania. Mereka kehilangan kedaulatan hakiki karena hanya bertindak sebagai “pelayan” kepentingan AS di kawasan.

3. Daulah Falakiyah (Negara Satelit): Negara yang politik luar negerinya terikat dengan negara lain dalam ikatan kepentingan, namun tetap memiliki pengaruh signifikan dan bukan sekadar pion. Iran dan Turki berada di posisi ini. Iran disebut satelit karena selama ini langkah politiknya (seperti di Irak dan Afghanistan) seringkali berputar searah dengan kepentingan AS demi mendapatkan “kue” kekuasaan regional.

4. Daulah Mustaqillah (Negara Independen): Negara yang sepenuhnya mandiri mengelola politik dalam dan luar negerinya sesuai kehendak sendiri tanpa intervensi pihak luar.

Analisa Geopolitik: Konflik berdarah hari ini meledak karena adanya “benturan kehendak” status. Iran, dengan modal nuklir dan kekuatan militernya, tidak lagi berminat menjadi satelit ( Daulah Falakiyah) dan berusaha bertransformasi menjadi Daulah Mustaqillah.

Sebaliknya, AS tidak menginginkan adanya kekuatan independen baru di Timur Tengah. AS ingin memaksa Iran turun kasta menjadi Daulah Tabi’ah (Pengikut) yang patuh total. Diplomasi di Muscat hanyalah strategi Soft power untuk melumpuhkan kewaspadaan Iran sebelum AS melakukan “amputasi” militer secara brutal.

Sekat Nasionalisme: Saraf Umat yang Dilumpuhkan

Agresi ini juga mencerminkan keberhasilan sistem kapitalisme dalam mengunci langkah para pemimpin di negeri-negeri Muslim melalui sekat Nasionalisme ( Nation-State ) Sejak runtuhnya persatuan politik global umat, wilayah Muslim terpecah menjadi negara-negara kecil yang hanya peduli pada batas teritorial masing-masing.

Akibatnya, saat Teheran dibombardir dan Sayyid Ali Khamenei gugur, penguasa di negeri Muslim lainnya cenderung diam membisu. Loyalitas politik telah beralih dari persatuan lintas wilayah menjadi kepentingan nasional yang sempit. Bahkan, negara-negara yang berstatus sebagai Daulah Tabi’ah dengan rela memberikan lahannya untuk pangkalan militer AS guna menyerang sesama negeri Muslim. Inilah duka terdalam kita: hilangnya otoritas politik global membuat umat kehilangan perisai untuk melindungi nyawa dan kehormatannya.

Jalan Pulang Menuju Kemuliaan: Integrasi Politik yang Berdaulat

Umat yang besar ini tidak boleh lagi membiarkan sumber dayanya menjadi sekadar angka dalam papan catur kepentingan asing. Solusi bagi keterpurukan ini tidak akan lahir dari meja perundingan penjajah, melainkan melalui:

Memutus Rantai Ketergantungan: Menolak dominasi kapitalisme yang menggunakan jalur diplomasi maupun serangan militer untuk mendikte negeri Muslim.

Mengakhiri Sekat Nasionalisme: Menghapus pemikiran nation-state yang membuat umat merasa asing dengan saudaranya sendiri. Loyalitas tertinggi harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Persatuan dalam Satu Kepemimpinan: Hanya dengan membangun tatanan politik global yang mandiri (Daulah Mustaqilla), umat Islam dapat memiliki posisi tawar yang setara dengan Daulah Ula. Dengan kepemimpinan yang tulus, seluruh kekuatan militer negeri Muslim akan menyatu menjadi kekuatan besar yang mampu menghentikan arogansi imperialisme.

Simpulan: Janji Allah di Tengah Ujian

Prahara Iran 2026 adalah mekanisme untuk menyaring barisan umat. Di tengah hantaman rudal dan pengkhianatan diplomasi kapitalis, Allah SWT sedang menyingkap mana pemimpin yang benar-benar berjuang dan mana mereka yang lebih mencintai kursi kekuasaan di bawah telapak kaki penjajah.

Mari kita perjuangkan persatuan umat dan penegakan Syariah secara menyeluruh karena hanya dengan itulah dominasi kapitalisme akan runtuh. Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (Q.S. An-Nisa: 141).

Referensi:

Sumber Primer (Kitab & Literatur Islam):

An-Nabhani, Taqiyuddin. Mafahim Siyasiyah Lihizb at-Tahrir (Konsepsi-Konsepsi Politik).

An-Nabhani, Taqiyuddin. Nidzamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam).

Sumber Sekunder (Analisis Kontemporer):

Ageung, Reza. (2026). Analisis Geopolitik Islam: Mengapa Iran Diserang oleh AS?. Diakses melalui kajian media sosial/feed Instagram edukasi politik Islam.

https://www.instagram.com/p/DVZpT8bE2N5/?igsh=Mjl0YjFweWp3Y3ht

Media Umat. (2026, 2 Maret). Trump: Iran Punya Rudal yang Mampu Melawan Amerika https://mediaumat.id/

Al-Waie. (28, Oktober 2025). Di Balik Agresi Entitas Yahudi Terhadap Iran https://www.al-waie.org/

Sumber Berita (Data Peristiwa):

Al-Jazeera. (2026, 28 Februari). Trump Meluncurkan Operasi Skala Besar terhadap Iran, Pusat Pemerintahan Terhantam.
https://share.google/qdM93XklIDE1ONQpb

BBC News Indonesia. (2026, 28 Februari). Bagaimana status program nuklir Iran, dan ancaman apa yang mungkin ditimbulkan?
https://share.google/lIgNNGyr6jKP2GxCJ

***

Judul:Tragedi Teheran 2026: Hegemoni AS dan Rapuhnya Sekat Nasionalisme dalam Melindungi Kedaulatan Umat

Penulis: Mardhatillah Maulidah, mahasiswi Universitas Tazkia, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat

Editor: JHK

Sekilas tentang penulis

Mardhatillah Maulidah, atau akrab disapa Ridha, adalah seorang muslimah berdarah Bugis-Buton yang saat ini aktif sebagai mahasiswi sekaligus pengajar di kampus pengkaderan Dai. Selain di dunia akademik, ia juga mendedikasikan waktunya sebagai aktivis dakwah yang fokus pada pengembangan umat.

Dengan motto hidup “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk umat”, Ridha memiliki kegemaran belajar dan aktif dalam berbagai aktivitas sosial. Melalui karya-karyanya, ia bertekad untuk mengukir sejarah kehidupan yang bermakna dan senantiasa berusaha agar setiap langkahnya diberkahi dan mendapatkan Ridho Allah SWT.

***