Apakah Seni-Budaya Cimahi Sudah Menjadi Mesin Ekonomi Kreatif?

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Kamis (16/04/2026) – Esai berjudul “Apakah Seni-Budaya Cimahi Sudah Menjadi Mesin Ekonomi Kreatif?” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.  

Cimahi belakangan ini tampak begitu aktif menggelar kegiatan seni dan budaya. Hampir beberapa kali ada festival, sarasehan, atau workshop yang melibatkan ribuan orang. Dari Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) di Cimenteng, Cimahi Creative Day di Technopark, hingga Festival Cireundeu di kampung adat, semua seolah menegaskan bahwa Cimahi ingin menjadikan seni-budaya bukan sekadar tontonan, melainkan tulang punggung ekonomi kreatif kota. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah semua energi ini benar-benar memberi manfaat nyata bagi warga, atau sekadar berhenti di level seremonial?

Ilustrasi: Cireundeu Festival 2025, sebuah perayaan budaya tahunan yang memasuki tahun ketiga penyelenggaraannya, bertempat di Kampung Adat Cireundeu – (Sumber: ppid.cimahikota.go.id)

Dinamika Kegiatan Seni-Budaya di Cimahi

Pola besar yang dijalankan Pemkot melalui Disbudparpora cukup jelas: ada festival kota berskala massal, ada pelestarian harian di kampung adat, dan ada komunitas muda yang bergerak lewat sanggar tari, teater, hingga sekolah vokasi. Secara konsep, ini adalah ekosistem yang lengkap.

PKD misalnya, menghadirkan helaran Bangbarongan, teater rakyat, workshop aksara Sunda Buhun, hingga wayang golek bobodoran. Bahkan, Cimahi Creative Day lebih ambisius: menggabungkan delapan subsektor ekonomi kreatif, dari film, animasi, kuliner, sampai fashion. Sementara Festival Cireundeu menjaga akar tradisi dengan angklung buncis, kuliner singkong, dan dialog budaya bersama sesepuh.

Tidak berhenti di situ, Cimahi juga rutin menggelar acara tematik seperti Cimahi Menari untuk Hari Tari Dunia, atau Hari Teater Dunia di GOR Sangkuriang. Ada pula sarasehan budaya, festival sekolah, dan workshop batik difabel. Dari sisi kuantitas, Cimahi jelas unggul: kegiatan berlapis, venue beragam, dan partisipasi lintas usia.

Kritik: Manfaat yang Belum Terasa

Meski terlihat semarak, kritik utama yang sering muncul adalah manfaat kegiatan ini belum benar-benar dirasakan masyarakat. Ada beberapa titik lemah yang patut dicatat:

Pertama, Orientasi Seremonial. Banyak acara berhenti pada level pertunjukan. Penonton datang, menikmati, lalu pulang. Interaksi ekonomi kreatif yang dijanjikan—misalnya penjualan produk UMKM atau karya seni—sering kali tidak berkelanjutan. Pasar kreatif hanya ramai saat festival, tetapi tidak ada strategi pasca-event untuk menjaga konsistensi.

Kedua, Kurangnya Aksesibilitas. Workshop aksara Sunda atau angklung buncis memang menarik, tetapi aksesnya terbatas pada mereka yang punya waktu luang. Warga pekerja atau pelajar sering kesulitan ikut karena jadwal tidak fleksibel. Akibatnya, kegiatan hanya menyentuh segmen tertentu, bukan seluruh lapisan masyarakat.

Ketiga, Minim Evaluasi Dampak. Cimahi Creative Day disebut sebagai tulang punggung ekonomi kota, tetapi apakah ada data penjualan, jumlah transaksi, atau peningkatan pendapatan pelaku ekraf setelah acara? Tanpa evaluasi yang transparan, klaim manfaat hanya menjadi retorika.

Keempat, Kurang Sinergi dengan Bandung Raya. Letak Cimahi yang berdekatan dengan Bandung seharusnya menjadi peluang besar. Namun, promosi lintas kota masih lemah. Banyak warga Bandung tidak tahu detail acara Cimahi, padahal jaraknya hanya belasan menit. Potensi audiens regional belum dimaksimalkan.

Saran: Dari Festival ke Ekosistem Berkelanjutan

Agar kegiatan seni-budaya Cimahi benar-benar menjadi mesin ekonomi kreatif, ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan:

Bangun Pasar Permanen. Alih-alih hanya mengandalkan bazar saat festival, Cimahi bisa membangun creative hub atau pasar seni permanen. Produk kriya, kuliner, dan fashion lokal bisa dijual sepanjang tahun, sehingga dampak ekonomi lebih nyata.

Integrasi dengan Pendidikan. Workshop budaya sebaiknya masuk ke kurikulum sekolah atau program ekstrakurikuler resmi. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya sesekali belajar aksara Sunda, tetapi menjadikannya bagian dari pembelajaran rutin.

Evaluasi dan Publikasi Data. Setiap acara perlu laporan dampak: berapa transaksi UMKM, berapa peserta workshop, berapa kolaborasi yang lahir. Data ini penting untuk mengukur efektivitas dan menarik sponsor swasta.

Kolaborasi Regional. Cimahi harus lebih agresif menggandeng Bandung, Lembang, dan sekitarnya. Promosi lintas kota, paket wisata budaya, atau kerja sama dengan komunitas kreatif Bandung bisa memperluas jangkauan audiens.

Digitalisasi dan Dokumentasi. Banyak anak muda sudah mendokumentasikan acara dengan ponsel. Pemerintah bisa memfasilitasi platform digital untuk mengarsipkan karya, rekaman pertunjukan, atau katalog produk. Dengan begitu, jejak budaya Cimahi bisa diakses lebih luas, bahkan internasional.

Pamungkas

Cimahi memang sedang giat membangun citra sebagai kota seni-budaya. Festival, workshop, dan sarasehan menunjukkan energi luar biasa. Namun, energi itu akan sia-sia jika tidak diarahkan pada keberlanjutan. Seni-budaya bukan hanya soal panggung meriah, melainkan juga soal manfaat ekonomi, pendidikan, dan identitas kolektif.

Pertanyaannya: apakah Cimahi berani melangkah lebih jauh, dari sekadar seremonial menuju ekosistem kreatif yang benar-benar hidup? Jika iya, Cimahi bisa menjadi contoh kota kecil yang berhasil menjadikan budaya sebagai mesin ekonomi sekaligus perekat sosial. (Didin Tulus).

***

Judul: Apakah Seni-Budaya Cimahi Sudah Menjadi Mesin Ekonomi Kreatif?

Kontributor: Didin Tulus

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***