Komunitas “Tapak Nikreuh Bikers” (TNB) Gelar Halalbihalal dan Temu Kangen di Kampung Wisata Gumbira Kota Bandung

Berita Jabar News (BJN), Kota Bandung, Sabtu (11/04/2026) – Komunitas “Tapak Nikreuh Bikers” (TNB) sukses menggelar acara “Halalbihalal dan Temu Kangen” di Kampung Wisata Gumbira, Jln. Terusan Ciwaru, Nagrok, Ujungberung – Kota Bandung. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 11 April 2026.

Semula Kampung Wisata Gumbira yang jaraknya sekitar 2,5 km dari Pasar Ujung Berung ini merupakan sebuah desa kecil. Kemudian dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis komunitas dengan tujuan melestarikan budaya lokal, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi warga sekitar.

Salah seorang anggota TNB yang bertindak selaku MC sedang melaksanakan tugasnya mengatur acara “Halalbihalal dan Temu Kangen” Komunitas “Tapak Nikreuh Bikers” – (Sumber: Arie/BJN)

Menurut Ketua TNB, Novi Andrio, kegiatan ini diikuti 25 anggota. Sebagian anggota berhalangan hadir karena kebetulan bersamaan dengan kegiatan lainnya yang tidak dapat ditinggalkan. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat tali silaturakhmi karena sejak Idul Fitri belum sempat bertemu kembali secara bersama-sama.

Tampak hadir dalam acara “Halalbihalal dan Temu Kangen” ini di antaranya adalah Novi Andrio,  A. Hamdeni, Iwan, Asep Ucin, Rahmat, Ria, Teti, Yuni, Asti RW, Momi, dan lain-lain. Mereka hadir karena ingin melepas kangen dan ingin merajut persahabatan agar komunitas ini tetap solid.

Suasana acara “Halalbihalal dan Temu Kangen” TNB pada Sabtu, 11 April 2026 di Kampung Wisata Gumbira, Jln. Terusan Ciwaru, Nagrok, Ujungberung – (Sumber: Arie/BJN)

Setelah para anggota berkumpul, Ketua Panitia Pelaksana yang juga merangkap sebagai Ketua TNB, Novi Andrio didaulat memberikan kata sambutannya. Pada kesempatan tersebut Novi mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT karena bisa kembali bertemu dengan sesama anggota TNB. Ia juga mengucapkan terima kasih atas partisipasi semua pihak sehingga acara ini bisa terlaksana dan bisa memahami ketidakhadiran rekan-rekan lainnya.  

Ketua Panitia Pelaksana yang juga Ketua TNB, Novi Andrio (sebelah kiri) ketika sedang menyampaikan sambutannya – (Sumber: Arie/BJN)
Anggota TNB dengan serius menyimak sambutan Ketua Panitia – (Sumber: Arie/BJN)

Kemudian Novi menjelaskan tentang halalbihalal. Menurutnya, halalbihalal ini merupakan tradisi tahunan yang hanya terjadi di Indonesia.

“Yang saya tahu, halalbihalal ini bukan sebuah kewajiban dalam Islam. Halalbihal ini hanya ada di Indonesia. Setiap tahun kita adakan,” jelas Novi.

Anggota TNB dengan serius menyimak sambutan Ketua Panitia – (Sumber: Arie/BJN)
Anggota TNB yang ikut hadir dalam acara “Halalbihalal dan Temu Kangen” – (Sumber: Arie/BJN)

Halalbihalal ini semacam tradisi atau budaya masyarakat Indonesia yang sudah melekat. Biasanya diadakan oleh suatu instansi pemerintah, perusahaan, yayasan, organisasi masyarakat, perkumpulan, dan lain-lain.

Ketua Panitia Pelaksana, Novi Andrio – (Sumber: Arie/BJN)

“Setahu saya di Arab Saudi itu tidak ada acara halalbihalal seperti yang kita lakukan di Indonesia,” tambah Novi.

Kemudian mantan lurah tersebuy menceritakan pengalaman spiritualnya ketika menunaikan ibadah haji, “Suatu hari saya melakukan perjalanan ke Madinah. Saat itu rombongan kami berhenti di Masjid Kubah. Masjid ini merupakan salah satu masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.”

Saat itu, ketika kendaraan rombongan haji yang Novi tumpangi sedang menuju tempat parkir, ia sempat bertanya tentang Salat Ied dan halalbihalal ke Ustaz yang menjadi kepala rombongan jemaah haji yang kebetulan juga seorang mujtahid ─ ahli hukum Islam yang memiliki kemampuan, kompetensi, dan persyaratan ilmiah yang sangat tinggi untuk melakukan ijtihad (menggali/mengeluarkan hukum syariat) langsung dari dalil-dalil utama, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.

“Yang namanya halalbihalal itu di Arab Saudi tidak ada Pak Novi. Masyarakat Arab Saudi itu lebih memfokuskan tradisi takwir yaitu mengunjungi keluarga, saudara atau teman, bersalam-salaman, lalu pulang,” ungkap Novi.

Kemudian Novi juga menceritakan pengalamannya ketika sedang berada di Eropa. Uni Eropa yang terdiri atas 12 negara, tidak mengenal tradisi halalbihalal.

“Salah satu contohnya adalah di Belanda dan Belgia. Salat Idul Fitri dipusatkan di Masjid KBRi, Denhag, Belanda. Setelah salat, bersalam-salaman, lalu makan. Setelah itu mereka pulang semua. Mereka fokus dengan ajaran Islam saja. Di Belgia juga sama, begitu juga di negara-negara Asia. Tidak ada kata-kata halalbihalal. Tidak ada,” lanjut Novi.

Mantan lurah ini juga bercerita tentang pengalamannya waktu berada di Kuala Lumpur, Malaysia. Di sana ada sebuah masjid bernama Masjid Jame yang terletak di jantung kota Kuala Lumpur. Kegiatan setelah Salat Idul Fitri bisanya disebut “Raya”.

Foto bersama para peserta acara “Halalbihalal dan Temu Kangen” Komunitas “Tapak Nikreuh Bikers” yang berlangsung di Kampung Wisata Gumbira pada Sabtu (11/04/2026) – (Sumber: Arie/BJN)

“Kegiatan ini semacam Open House di Indonesia. Kalau di Indonesia bisanya dilakukan oleh pejabat atau tokoh penting dan bisa dihadiri oleh masyarakat umum, tapi kalau di Malaysia beda. Kegiatan Open House di sini hanya dihadiri oleh teman-teman atau tetangganya saja yang datang,” pungkas Novi.

Setelah menyampaikan sambutannya, Novi mengajak para peserta  “Halalbihalal dan Temu Kangen” untuk makan bersama sambil mengobrol dengan penuh kekjeluargaan. Usai makan acara dilanjutkan dengan hiburan yaitu karaoke bersama.

***

Judul: Komunitas “Tapak Nikreuh Bikers” (TNB) Gelar Halalbihalal dan Temu Kangen di Kampung Wisata Gumbira Kota Bandung

Jurnalis: Arie

Editor: Jumari Haryadi