Anak Lelaki yang Kelak Menjadi “Langit”

BERITA JABAR (BJN), Rubrik OPINI, Selasa (03/03/2026) – Esai berjudul “Anak Lelaki yang Kelak Menjadi Langit” ini adalah sebuah esai karya Febri Satria Yazid, seorang penulis dan pemerhati sosial, tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Tidak ada anak lelaki yang sejak lahir langsung mengerti bahwa suatu hari ia harus menjadi “langit”.

Saat kecil ia hanya berlari di halaman, mengejar bayangan awan, tertawa tanpa memikirkan masa depan. Dunia baginya masih sederhana. Hidup hanya tentang hari ini.

Namun waktu adalah guru yang pelan, tetapi pasti. Hari demi hari kehidupan mulai memperlihatkan maknanya. Tanggung jawab datang sedikit demi sedikit. Tanpa disadari, langkahnya sedang diarahkan untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.

Febri Satria Yazid, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Sejak dahulu manusia memandang langit dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia luas, tinggi, dan seolah tak bertepi. Langit tidak pernah berbicara tentang dirinya, tetapi darinya kehidupan berlangsung. Dari langit cahaya datang, hujan turun, keseimbangan bumi dijaga.

Langit tidak memilih siapa yang layak menerima sinar matahari, tidak menimbang ladang mana yang pantas mendapat hujan, karena memberi adalah bagian dari keberadaannya. Begitulah kehidupan berharap seorang anak lelaki tumbuh. Bukan hanya tinggi cita-citanya, tetapi juga luas jiwanya.

Langit tidak pernah menagih terima kasih kepada bumi, tidak membawa catatan jasa, tetapi hadir setiap hari dalam cerah, kadang mendung atau badai.

Dalam kehidupan nyata, seorang lelaki sering menjalani peran yang serupa. Banyak yang tidak melihat perjuangannya. Tidak semua pengorbanan dipahami. Bahkan kadang niat baiknya disalahartikan. Tetapi seperti langit, nilai dirinya tidak terletak pada pujian manusia. Nilainya ada pada manfaat yang dirasakan orang lain.

Dunia sebenarnya tidak selalu membutuhkan kilat yang menggelegar. Yang lebih dibutuhkan adalah hujan yang menumbuhkan dan cahaya yang menghangatkan. Begitu pula seorang lelaki. Ia tidak harus selalu menunjukkan kekuatan yang keras. Dunia lebih membutuhkan kehadiran yang menenangkan dengan keputusan yang bijak, sikap yang adil, dan hati yang lapang.

Langit memayungi gunung dan lautan tanpa membedakan, tidak mengecil ketika badai datang. Justru dalam badai kita melihat betapa luasnya langit. Kedewasaan seorang lelaki juga terlihat di sana, bukan dari kerasnya suara dan besarnya kuasa. Melainkan dari kelapangan hatinya menampung masalah, kesediaannya memikul tanggung jawab, dan kemampuannya berdiri lebih tinggi dari egonya sendiri.

Bayi laki-laki
Ilustrasi: Seorang bayi laki-laki yang baru lahir ke dunia – (Sumber: FSY/BJN)

Di dalam keluarga, anak lelaki sering menjadi penghubung dua zaman dengan membawa nilai yang diwariskan orang tua, namun juga harus berjalan di dunia yang terus berubah tanpa kehilangan dirinya.

Demikian pula seorang lelaki seharusnya menjaga arah hidupnya. Perubahan boleh datang, tetapi prinsip tidak boleh hilang. Ia menaruh niat setinggi doa, bukan sekadar ambisi, melainkan harapan yang disandarkan kepada Tuhan.

Langit memberi ruang bagi awan putih, awan kelabu, bahkan badai sekalipun. Ia menampung, lalu melepaskannya kembali. Begitulah seorang lelaki belajar menampung luka, emosi, dan kegelisahan hidup, tanpa membiarkannya merusak hatinya.

Langit bekerja seluas cakrawala. Tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga keluarga, masyarakat, bahkan generasi yang belum lahir. Usahanya mungkin tidak selalu terlihat, seperti hujan yang turun diam-diam di malam hari. Tidak ada tepuk tangan dan hadir tanpa  sorotan. Namun pagi datang dengan tanaman yang lebih segar, sawah yang kembali hidup, dan sungai yang kembali mengalir.

Orang mungkin lupa melihat langit, tetapi mereka merasakan manfaatnya. Begitulah keberadaan seorang lelaki yang sejati, tidak selalu di depan, tidak selalu dipuji dan dimengerti. Namun kehadirannya membuat banyak orang merasa aman.

Pada akhirnya, dunia tidak membutuhkan lelaki yang paling kuat. Dunia membutuhkan lelaki yang cukup luas untuk menaungi kehidupan di sekitarnya.(fsy).

***

Judul: Anak Lelaki yang Kelak Menjadi Langit

Penulis : Febri Satria Yazid

Editor : Tiyut