BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Sastra, Kamis (12/02/2026) – Cerita pendek (cerpen) berjudul “Tak Perlu Lagi Menunggu Aryo Pulang” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
Sudah lima pekan ini warga kampung Haur dengan gelisah menunggu Aryo pulang. Sudah lima pekan pula emak-emaknya dibuat sibuk. Selain sibuk menyiapkan makan, belanja di warung, bersih-bersih pekarangan, dan nyuci pakaian, emak-emak kini sibuk mengamati lalu-lalang pengguna jalan di depan rumah masing-masing. Siapa tahu Aryo lewat untuk pulang.
Untungnya hanya ada seruas jalan, satu-satunya jalan bagi warga melintas saat pergi dan pulang ke rumah masing-masing. Kalau Aryo pulang pasti akan melewati jalan ini.
Ruas jalan itu tidak lebar. Jika ada dua mobil berpapasan, keduanya harus saling mengalah, masing-masing menepi hingga bahu jalan memberi ruang untuk jalan. Kalau menang-menangan dijamin pasti malah macet.

Salah satu rumah di selatan jalan, sebuah bangunan sederhana dengan pohon kelengkeng berdaun rimbun di halaman adalah rumah Aryo. Begitu rimbunnya daun kelengkeng sampai menutup pandangan mata dari jalan ke rumah ataupun sebaliknya. Muncul kesan serem di rumah itu, terutama saat menjelang malam ketika lampu di depan rumah hanya menyala remang-remang.
Kini ke rumah Aryo mata orang sekampung tertuju. Di rumah itulah istri Aryo beberapa bulan ini tinggal bersama mertua laki-laki yang sudah tua renta. Sementara Aryo, konon kabarnya hidup di negeri jiran mencari nafkah.
Aryo ditunggu-tunggu warga pulang kampung karena semenjak istrinya ikut mertua, seisi kampung bergejolak dan resah. Penampilan istri Aryo yang menarik dan agak sedikit genit membuat banyak laki-laki mencoba mendekat. Ada yang sekedar ingin kenal atau ada juga yang ingin lebih dari itu.
Kelakuan para lelaki itu juga tidak kalah genitnya. Perilaku kurang patut yang segera saja meresahkan para Emak. Tidak mau kehilangan suami tercinta dan tidak mau ketentraman keluarganya terusik, para Emak beraksi. Satu persatu, mulai lima pekan lalu, para Emak melarang suaminya keluar rumah atau boleh keluar, tapi istri harus ikut.
Mulailah dalam senyap, keresahan, kegelisahan, kasak-kusuk, gibah, syak wasangka merebak dengan cepat ke seluruh kampung.
Kampung ini persis seperti akuarium. Hampir semua penghuninya saling mengenal, bukan hanya kenal nama, tapi juga sisi-sisi kehidupan lainnya. Tidak heran dengan mudah warga akan tahu siapa yang melintas di jalan hanya dengan mendengar suara kendaraan yang mereka pakai.
Seperti suatu hari seorang Emak di dalam rumah ngomong ke suaminya, “Ah, itu pak RT lewat, mau ke mana dia ya?”
“Loh, kok kamu tahu itu Pak RT?” Kata suaminya dengan nada heran.
“Lah, itu kan suara motor Pak RT,” jawab istrinya spontan tanpa ragu.
“Ah, kamu hapal betul, ada apa kamu sama Pak RT, Mak?” Tanya si suami setengah curiga.
“Haaah, ada apa aku dengan pak RT?” Kata si istri sewot.
Suaminya menjawab dengan nada tak kalah sewot, “Aku aja yang laki-laki gak paham suara motor, kok kamu paham. Wajar dong aku tanya. Siapa tahu kamu pernah mbonceng dia.”
Muka Emak langsung cemberut lalu menjawab singkat, “Emang aku istrinya Aryo?”
Lalu sang istri masuk ke kamar sambil membanting pintu dengan keras.
Si suami kaget, “Uuppsss, emang istri Aryo kenapa Mak?”
Dari dalam kamar si Emak menyahut, “Gak usah pura-pura bego, semua orang juga tahu”
“Uppsss,” desis si suami lagi.
Di tempat lain, tidak jauh dari rumah ini, sepasang suami istri terlihat sedang bicara serius.
“Dik, kayaknya aku lebih baik cari kerja ke kota saja ya?” Kata si suami ke istrinya.
Karena si istri diam, si suami melanjutkan, “Masak aku, laki-laki, nongkrong di rumah ongkang-ongkang gak kerja, dilihat tetangga kan gak bagus.”
Si istri masih diam, dia sambung lagi, “Aku kan ojol, kok kamu melarang aku keluar Dik. Ya, mana bisa dapat duit?”
Istrinya masih diam, lantas si suami menyambung lagi, “Masak aku, laki-laki nunut hidup ke usaha istri, malu dong.”
Istri pria itu yang biasa dipanggilnya Dik, sesaat masih diam tak menjawab, sementara si suami juga diam menunggu jawaban.
Setelah beberapa saat, akhirnya si istri ngomong, “Mau cari kerja, apa mau cari istri lagi?” Belum lagi si suami membuka bibir, si istri melanjut, “Di sini, di kampung ini, di depan mataku, kamu berani main gila. Pamitnya pergi kerja ojol, tahunya ngobrol sama istri Aryo.”
“Tapi,” potong suami.
Belum sempat si suami ngomong, sudah dipotong sama si istri, “Apa lagi kalau di luar sana jauh dari rumah,” katanya tanpa memandang suaminya.
Si suami mati kutu sambil menggerutu, “Ya sudahlah, terserah kamu! Aku jadi salah melulu.”
Istri Aryo masih terus menjadi bahan utama pembicaraan di kampung di semua kalangan, terutama kalangan Emak-emak.
Demikian juga keluarga Udin tidak luput dari topik hangat tentang istri Aryo. Ini terjadi suatu sore ketika Udin, istri dan seorang anaknya bercengkerama di ruang tamu rumahnya. Bahan obrolan yang semula tentang sekolah, liburan, dan makanan, tanpa sengaja berbelok dipicu oleh pertanyaan si anak.
“Abah, ibu-ibu yang cantik itu sih siapa namanya?” Ujar sang anak bertanya ke Udin.
Udin tanpa pikir panjang pun menjawab, “Oh itu Bu Aryo. Emangnya kenapa?”
Anak Udin menjawab, “Dia itu kan gak pernah keluar rumah, apa gak bosan di dalam rumah sepanjang hari, siang dan malam?”
“Iya, kasihan dia, gak berani keluar gara-gara diributin sama emak-emak sekampung,” balas Udin.
Istri Udin yang awalnya diam, tidak kuat menahan diri, lalu ngomong, “Oooh, jadi gitu ya Abah Udin.”
Udin, sesaat kaget dan terdiam.
“Ternyata Bu Aryo itu cantik ya? Cantik mana sama aku Abaaah?” Kata istri Udin dengan nada kesal.
Udin menyadari ada yang mengganjal di hati istrinya. Namun, karena tidak suka ribut, dia menjawab, “Ya pasti cantik kamu lah Mak.”
“Bohooong…!” Kata istrinya Udin sambil meradang, “Abah bilang ‘Kasihan Bu Aryo’. Hebat sekali Abah ini, kasihan sama orang lain. aku saja gak pernah Abah kasihani.”
Mulut istri Udin sudah seperti truk tronton tanpa rem, tidak berhenti, terus nyerocos, dari ulah Pak RT, Unang, Udin, Agus, Adi, dan beberapa lelaki lain, tidak ketinggalan disebutnya juga nama Dirgo.
Lalu disambungnya omongan Udin, “Itu Nenek-nenek sebatangkara di pinggir kampung kok gak Abah kasihani?”
Kuping Udin menjadi panas. Tiba-tiba muncul keinginan untuk meluruskan, “Beda dong Mak, istri Aryo itu dituduh macam-macam tanpa bukti dan belum tentu benar, itu fitnah namanya. Kasihan kan?”
Kini gantian Udin nyerocos tidak memberi peluang istrinya ngomong, “Gini Mak. Sebetulnya lebih kasihan lagi kawan-kawan Abah yang Emak sebut tadi. Mereka memang datang ke rumah Aryo, tapi cuma bertamu dan ngobrol dengan istri Aryo. Ya, cuma ngobrol Mak.”
“Kebayang gak sih Mak, itu Otong sekarang pergi dari rumah meninggalkan istrinya yang lagi hamil tua. Otong ikut kapal, entah berlayar ke mana,” sambung Udin, “Padahal cuma nemani Unang ngobrol,” tambahnya.
“Lalu Waridin, dia menyusul Unang pergi ke luar, menjadi kuli panen kelapa sawit,” lanjut Udin.
“Mak tahu apa yang terjadi pada Dirgo sekarang? Karena istrinya selalu membuntuti kemanapun Dirgo keluar rumah, kini dia pergi kerja di Ibu kota. Penghasilannya dikirim juga ke istrinya,” tambah Udin.
“Asal Emak tahu, banyak lagi kawan-kawan yang nyusul Dirgo ke kota. Mereka gak betah tertekan di rumah, memilih pergi. Emak mau aku juga pergi?” pungkas Udin.
Anaknya tiba-tiba nyahut, “Jangan pergi Abah, siapa nanti yang ngantar aku sekolah?”
Begitulah akhir-akhir ini keadaan di kampung seperti menyimpan bara api. Sedikit saja dipicu, bisa terbakar.
Warga benar-benar menunggu Aryo, setidaknya jika Aryo di rumah, tidak ada lagi yang berkelakuan aneh-aneh. Malah anehnya, sudah lima pekan laki-laki itu belum pulang juga. Banyak warga bertanya-tanya, “Sampai kapan keresahan ini akan berlangsung?”
Kalau pak RT ditanya, jawabnya selalu sama, “Tunggu saja. Apa sih susahnya menunggu.”
Hingga hari itu tidak ada kejelasan. Warga menghibur diri dengan menunggu dan mengintip ke jalan kampung, siapa tahu Aryo lewat.
Setiap suara deru mobil melintas seketika itu juga degup jantung sebagian warga menjadi keras. Suara mobil di jalan langsung mengundang warga penghuni rumah di pinggir jalan mengendap-endap ke jendela lalu membuka tirai dan mengintip. Mereka semua ingin tahu mobil atau motor siapa yang lewat dan berhenti di rumah siapa.
Berulang kali Pak RT menjawab pertanyaan warga, terutama para Emak, “ Aku juga bingung, kalau mau menjemput, alamatnya tidak jelas. Sudah dihubungi lewat telepon tidak ditanggapi. Sudah kirim pesan lewat WA tidak dijawab.”
Salah satu warga memberi saran, “Kirimi pesan WA terus Pak RT, siapa tahu selama ini dia lagi sibuk.”
“Wah, hampir tiap hari aku kirim WA, sampai habis pulsa,” jawab Pak RT.
Akhirnya, kesabaran Pak RT mulai berbuah. Kabar yang ditunggu pun datang.
Malam itu Pak RT mengundang beberapa orang berkumpul di rumahnya. Dia bercerita bahwa akhirnya ada balasan dari nomor WA Aryo. Para bapak dan emak yang diundang mendengarkan penuh perhatian.
“Tapi anehnya WA dari Aryo itu malah menanyakan alamat lengkap rumahnya di kampung kita ini. Masak Aryo lupa sama alamat rumah sendiri,” kata Pak RT.
“Loh, kok aneh?” Kata Udin.
“Iya, ini mah bukan berita biasa nih,” ucap Slamet.
“Aku sih curiga, jangan-jangan nomornya dipegang orang lain,” sahut Yudi.
“Duh, harus hati-hati nih,” sambung Hadi.
“Bagaimanapun Aryo warga kita, kalau ada apa-apa harus kita bela dan lindungi,” kata Dono.
“Ah, memangnya ada apa?” Ujar Trisno.
“Yah, gak tahu ada apa. Tanya saja sama istrinya,” kata Dono lagi.
“Wah … wah … wah, ini mah ngajak perang, ” kata Mak Tini.
“Kenapa gak diusir saja Pak RT?” Tanya Mak Yati.
“Bagaimana kalau kamu saja yang diusir?” jawab Pak RT.
“Loh kok saya? Salah saya apa?” Kata Mak Yati.
“Terus salah istri Aryo apa?” sahut Pak RT.
“Dinikahin saja Pak RT,” kata Udin.
“Dinikahin bagaimana, dia kan statusnya masih jadi istri orang, sembrono pisan,” jawab Pak RT.
Semua diam, bingung dan bertambah resah. Ketentraman yang dulu ada di kampung seperti menguap dan terbang ditiup angin.
Malam beranjak larut. Emak-emak berdiri dan pamit pulang. Di rumah Pak RT tinggal beberapa bapak duduk termenung. Hening.
Keheningan pecah ketika ada sebuah mobil minibus berwarna gelap berhenti tepat di depan rumah. Dua orang lelaki dan seorang wanita berpakaian rapi mencari Pak RT.
Pak RT menyilahkan mereka masuk dan duduk. Para tamu kemudian menyampaikan maksud kedatangan dan menyampaikan sepucuk surat dan selembar foto. Dengan serius dan mata terbuka lebar. Pak RT membaca surat tersebut sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Tanpa banyak omong dan hampir tanpa suara para tamu mengikuti Pak RT berjalan kaki menuju rumah Aryo. Kampung yang semula sepi berangsur menghangat. Warga yang semula hanya mengintip dari jendela memberanikan diri keluar.
Pak RT dan tamu-tamunya sampai di rumah Aryo. Istri Aryo membuka pintu dan menerima mereka di ruang tamu. Beberapa lama mereka ngobrol tanpa ada yang tahu topiknya. Orang-orang semakin banyak berkumpul dan saling berbisik bertanya dan menjawab, menimbulkan suara mendengung seperti lebah pulang kandang.
Suasana tiba-tiba senyap ketika Pak RT dan para tamu membawa istri Aryo keluar rumah. Istri Aryo memakai masker yang menutupi separo wajahnya. Tas pakaian juga ikut dibawa. Mereka memasuki mobil, lalu pergi meninggalkan Pak RT dan kerumunan warga.
Kejadian itu begitu cepat. Pak RT terlihat lega sedangkan warga saling pandang dan ingin tahu apa yang telah terjadi. Sebelum diberondong dengan banyak pertanyaan, Pak RT memilih lebih dulu ngomong ke warga yang ada di tempat itu.
Kata Pak RT, “Itu tadi para Aparat Negara datang untuk membawa istri Aryo ke Ibukota. Ada kasus besar. Persisnya silahkan ikuti saja berita di TV atau media sosial.”
Mendengar itu, reaksi warga macam-macam, ada yang bergumam, ada yang berdecak dan tidak sedikit yang terkaget-kaget. Mereka tidak menyangka di kampungnya akan ketemu peristiwa serupa ini.
“Memang Aryo berbuat apa Pak RT?” Celetuk salah satu warga.
“Saya tidak tahu. Yang penting sekarang kita tidak usah menunggu Aryo pulang. Biar dia pulang semaunya, itu juga entah kapan,” katanya sambil menguap.
“Sudah, pada pulang sana, saya juga mau pulang. Capek dan ngantuk!” Kata Pak RT sambil melangkah pulang.
***
Judul: Tak Perlu Lagi Menunggu Aryo Pulang
Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: Jumari Haryadi
Tentang Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.
Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.
Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.
Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.
***