Menyusuri Jejak Jais Darga: Autobiografi yang Menembus Batas

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Rabu (11/02/2026) – Esai berjudul “Menyusuri Jejak Jais Darga: Autobiografi yang Menembus Batas” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Membaca Jais Darga Namaku karya Ahda Imran adalah sebuah pengalaman yang tidak sekadar mengajak kita menyelami kisah hidup seorang perempuan, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang keberanian, luka, dan transformasi. Novel ini, yang bergenre autobiografi dengan nuansa realisme sosial, menghadirkan perjalanan Jais Darga—seorang perempuan Sunda yang tumbuh dari masa kecil penuh luka batin, lalu menjelma menjadi sosok tangguh yang menembus dunia seni rupa internasional. 

Sejak awal, pembaca diajak masuk ke dalam atmosfer keluarga Sunda yang sarat dengan nilai tradisi, hierarki, dan tekanan budaya. Sosok Raden Nana, ibu Jais, digambarkan sebagai perempuan penuh kesabaran yang harus bertahan dalam rumah tangga keras. Dari ibunya, Jais belajar tentang ketabahan, tetapi juga menyerap luka yang kemudian membentuk tekad untuk mencari kebebasan. Relasi ibu-anak ini menjadi inti emosional novel, menghadirkan lapisan makna tentang bagaimana trauma dan kasih sayang bisa sama-sama membentuk jalan hidup seseorang. 

Jais Darga – (sumber: Antara)

Memasuki masa remaja, Jais menemukan Bandung tahun 1970-an sebagai ruang baru yang membuka pintu dunia seni. Di kota ini, ia mulai berinteraksi dengan seniman, galeri, dan pasar seni rupa modern. Pilihannya menjadi seorang art dealer—profesi yang kala itu nyaris tak terbayangkan bagi perempuan Indonesia—menunjukkan keberanian melawan norma dan ekspektasi sosial. Novel ini dengan jernih menggambarkan bagaimana Jais menegosiasikan identitasnya di tengah dunia yang masih didominasi laki-laki, sekaligus menegaskan bahwa seni bisa menjadi jalan pembebasan. 

Perjalanan Jais tidak berhenti di Bandung. Ia kemudian menjejakkan kaki di Amsterdam, Paris, New York, London, Hongkong, dan Singapura. Dari satu kota ke kota lain, ia membawa karya seniman Indonesia ke panggung global, memperkenalkan identitas budaya yang sering kali terpinggirkan. Novel ini bukan hanya mencatat pencapaian pribadi, tetapi juga menegaskan peran Jais sebagai jembatan antara seni Indonesia dan dunia internasional. 

Budayawan Nirwan Dewanto memuji novel ini sebagai karya penting yang memotret transformasi perempuan Indonesia. Pujian tersebut terasa tepat, sebab Jais Darga Namaku tidak hanya menghadirkan kisah inspiratif, tetapi juga memperlihatkan bagaimana seorang perempuan mampu menembus batas budaya, trauma masa kecil, dan struktur sosial yang membelenggu. Novel ini menjadi semacam arsip emosional sekaligus catatan sejarah tentang keberanian perempuan Indonesia di ranah seni rupa global. 

Keunggulan novel ini terletak pada kekuatan narasi yang mampu mengikat pembaca dengan detail kehidupan sehari-hari, relasi keluarga, dan dinamika dunia seni. Ada kehangatan sekaligus ketegangan yang membuat kisah Jais terasa hidup. Namun, alur maju mundur dan kilas balik kadang menuntut kesabaran pembaca. Meski begitu, struktur tersebut justru mencerminkan kompleksitas perjalanan hidup yang tidak pernah linear. 

Membaca Jais Darga Namaku adalah menyusuri jejak seorang perempuan yang berani menulis ulang takdirnya. Novel ini mengajarkan bahwa luka masa kecil bukanlah akhir, melainkan pintu menuju keberanian. Dari Cimahi hingga New York, dari ruang keluarga yang penuh tekanan hingga galeri seni internasional, Jais Darga menunjukkan bahwa perempuan Indonesia mampu berdiri tegak di panggung dunia. 

Lebih dari sekadar autobiografi, novel ini adalah perayaan atas keberanian, seni, dan kebebasan. Ia mengingatkan kita bahwa setiap perjalanan hidup, betapapun penuh luka, bisa menjadi karya yang menembus batas.

***

Judul: Menyusuri Jejak Jais Darga: Autobiografi yang Menembus Batas

Kontributor: Didin Tulus

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin Tulus, Penulis – (Sumber: Didin Tulus/BJN)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***