Cerpen “Ah, Mungkin Kau Lupa: Aku Begitu Merindumu”

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Sastra, Jumat (24/04/2026) –Cerpen berjudul “Ah, Mungkin Kau Lupa:Aku Begitu Merindumu” merupakan karya original dari Heri Isnaini, seorang Dosen Sastra IKIP Siliwangi, Kota Cimahi. 

Malam selalu datang dengan cara yang sama, seperti ritual yang tak pernah absen. Desir kipas angin berputar lambat, mengiris sunyi dengan dengungan monoton yang nyaris meninabobokan.

Detik jam dinding berdetak terlalu dekat, seakan jaraknya menyempit hanya untuk menegaskan bahwa waktu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya mengawasi.

Di sudut ruangan, radio tua pemberian ayah saat ulang tahunku memancarkan gelombang samar, bergetar pelan, seperti sesuatu yang ragu-ragu untuk hadir sepenuhnya.

Lie mematikan lampu.

Gelap tidak langsung menjadi pekat; ia merayap perlahan, mengisi celah-celah ruang, menyelimuti benda-benda hingga hanya tersisa bayangan yang samar. Lie duduk di lantai, punggungnya sedikit membungkuk, seolah tubuhnya mengikuti gravitasi dari sesuatu yang lebih berat daripada tubuhnya sendiri.

Lie menarik radio mendekatinya. Terlalu dekat. Hampir menempel pada lututnya. Seakan-akan suara, jika memang akan datang, harus hadir tanpa jarak, tanpa kemungkinan untuk hilang di tengah jalan.

Tangan Lie memutar kenop radio perlahan. Suara statik muncul. Berderak.Berdesis. Patah-patah, seperti napas seseorang yang ditahan terlalu lama. Engap.

Lie tanpa sadar menahan napasnya sendiri. Lalu, “Selamat malam,” ujar suara laki-laki dari radio.

Suara itu, batin Lie berkata. Setiap kali suara itu muncul, selalu ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuh Lie. Bukan sekadar perasaan senang, bukan pula sekadar rindu yang biasa dikenali. Rasanya lebih seperti sebuah pintu tua yang lama terkunci yang kemudian tiba-tiba terbuka dari dalam yang menghadirkan ruang yang selama ini sengaja ia tutup rapat-rapat.

Lie memejamkan mata. Ia tidak ingin suara itu tercampur dengan dunia lain, dengan bentuk, dengan cahaya, dengan kenyataan.

“Untuk seseorang yang selalu datang tanpa suara,” kata Rie malam itu.

Begitulah penyiar radio itu menyebutkan namanya, “Rie.” Lie tidak tahu apakah Rie adalah nama asli ataukah nama samaran saja, ataukah? Lie tidak peduli soal itu, yang jelas Rie menyapanya malam ini.

Nada suaranya tidak tinggi, tidak rendah. Ia berada tepat di titik yang membuat Lie merasa dikenali, seolah suara itu tahu di mana harus berhenti agar Lie bisa mengenang suara itu. Pun juga suara itu begitu dalam sampai cukup untuk menyentuh batin Lie.

Lalu Rie, lelaki dalam radio itu membacakan beberapa larik puisi:

“aku mengenalmu melalui puisi
berkelebat isyarat
dalam larik dan bait…”

Napas Lie tercekat. Ia tidak berani bergerak. Bahkan, sedikit saja, seolah gerakan sekecil apa pun dapat merusak sesuatu yang sedang berlangsung. Sesuatu yang terlalu rapuh untuk disentuh.

Setiap kata yang keluar dari radio itu tidak hanya didengar. Ia seperti disentuh. Merambat pelan, masuk ke dalam, mengendap, lalu menyebar ke seluruh tubuhnya.

Lie meletakkan tangannya di dada. Detaknya berubah. Tidak teratur. Tidak seperti biasanya.

“Apakah kau juga mendengarku seperti ini?” Bisik Lie lirih, nyaris tanpa suara.

Sejak malam itu, Lie mulai menunggu. Namun yang ia tunggu bukan sekadar waktu. Ia menunggu dirinya sendiri menjadi cukup sunyi. Cukup kosong. Cukup tidak terganggu.

Mulai malam itu pula, Lie berhenti menyalakan televisi. Berhenti membaca sebelum tidur.
Bahkan mulai menghindari percakapan yang tidak perlu. Dunia luar perlahan menjadi gangguan kecilsesuatu yang menghalangi sesuatu yang jauh lebih penting.

Malam menjadi miliknya dan suara itu ─ suara yang bagi Lie menjadi oasis malam-malamnya. “Lie dan Rie,” ujarnya. “Berjodoh, barangkali.” Lie tersipu mendengar celotehan batinnya. Baginya, perbedaan bunyi /r/ dan /l/ menjadi sangat filosofis.

Sejak itu, Lie mulai mendengar dirinya sendiri bukan sekadar sebagai perasaan, melainkan sebagai sistem bunyi yang bekerja diam-diam di dalam tubuhnya. Ia teringat kuliah fonologi, bahwa /r/ dan /l/ sama-sama likuida, sama-sama sonoran, tetapi berbeda dalam cara artikulasi: yang satu bergetar dan yang lain mengalir.

Di kepala Lie, konsep itu tak lagi berhenti sebagai teori, /r/ menjelma getaran alveolar yang tak pernah benar-benar diam, sementara /l/ menjadi aliran lateral yang membuka jalan di sisi-sisi yang tak terlihat. “Lie dan Rie,” gumamnya lagi, kini dengan kesadaran ilmiah yang anehnya justru terasa intim. Perbedaan itu, pikirnya, bukan sekadar distingsi fonemik, melainkan oposisi yang membentuk keseimbangan, seperti dua fitur yang saling menegaskan keberadaan satu sama lain.

Lie pun mulai percaya, mungkin benar. Bahkan dalam fonologi, makna tak selalu hadir sebagai leksikon, tetapi sebagai kemungkinan rasa yang disiratkan bunyi. /r/ yang [+getar] seperti menandai kegelisahan yang terus bergerak, dan /l/ yang [+lateral] seolah menawarkan jalur peleraian yang lembut.

Di antara keduanya, Lie merasa dirinya seperti suku kata yang belum selesai yang menunggu distribusi yang tepat agar menjadi utuh. Barangkali, “berjodoh” bukan perkara serupa, melainkan seperti pasangan fonem yang berbeda tetapi kompatibel dalam struktur yang hadir dalam satu sistem, saling melengkapi, dan bersama-sama membangun makna yang tak pernah bisa diucapkan oleh satu bunyi saja.

Suatu malam, tanpa peringatan, Rie berkata, “Untuk Lie.” Nama itu diucapkan dengan pasti. Tanpa ragu. Tanpa salah. Tanpa pertanyaan.

Lie merasakan sesuatu yang hampir menyerupai sentuhanbukan oleh tangan, melainkan oleh pengakuan. Lalu suara itu membacakan puisi:

“Aku tahu engkau memahami rinduku
kerinduan surgawi: Aku dan Engkau
pemaknaannya tak bertepi.”

Air mata jatuh begitu saja. Tanpa izin. Tanpa disadari. Lie tidak mengusapnya. Ia membiarkannya mengalir. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menyembunyikan apa pun.

Setelah itu, Lie mulai menulis. Bukan dengan berpikir. Bukan dengan menyusun. Kata-kata datang seperti sesuatu yang sudah lama menunggu yang terkunci di dalam dirinya, kini menemukan celah untuk keluar. Kadang di tengah malam. Kadang setelah suara itu menghilang. Bahkan, kadang saat ia belum sepenuhnya sadar.

Lie mengirimkan tulisan itu. Tanpa harapan. Atau mungkin dengan harapan yang terlalu besar untuk ia akui.

Ketika puisinya dibacakan oleh Rie, Lie tidak langsung tersenyum. Ia justru diam. Lama. Karena ada sesuatu yang terasa ganjil. Suara itu membaca puisinya seperti seseorang yang tidak sekadar membaca, melainkan mengingat. Ya, mengingat sesuatu.

“Untuk Lie,” katanya lagi. Lie mendekatkan wajahnya ke radio. Begitu dekat hingga napasnya nyaris menyentuh permukaannya.

“Aku akan menemuimu kembali dengan puisi
yang setia menunggu ketukan itu”

Lie menutup mata. Sesaat, ia merasa tidak sendirian. Hari-hari setelah itu terasa seperti jeda panjang menuju malam. Segala sesuatu kehilangan urgensinya. Yang penting hanya satu: waktu ketika suara itu kembali.

Lie mulai berbicara pada radio. Bukan kalimat utuh. Hanya serpihan.

“Aku di sini.”
“Jangan berhenti.”
“Kau dengar aku, kan?”

Tidak ada jawaban. Namun perlahan, Lie mulai merasa jawaban tidak selalu harus berupa suara.

Suatu malam, sebelum suara itu muncul, ia berbisik, “Aku merindumu.”

Ketika Rie akhirnya berbicara,  nadanya terasa lebih dekat atau mungkin Lie yang semakin tenggelam ke dalamnya.

Lalu hujan datang. Tiba-tiba. Lebat. Menghantam atap seperti sesuatu yang ingin menghapus dunia. Sinyal radio terganggu.

“…malam ini… untuk seseorang yang lupa pulang.” Suara itu pecah, terpotong, lalu hilang.

Lie membeku. Tangannya gemetar memutar kenop. Mencari. Mengulang. Memaksa.Tidak ada.

Malam berikutnya, tidak ada. Malam setelahnya, tetap tidak ada. Kesunyian yang dulu ia cari, kini berubah menjadi sesuatu yang menelannya. Akhirnya, Lie datang ke stasiun radio.

Lie berharap ada penjelasan atau setidaknya jejak. Namun, jawaban yang ia terima terlalu sederhana. Terlalu datar.

“Tidak ada program seperti itu.”

“Tidak ada penyiar bernama Rie,” kata orang-orang di stasiun radio itu.

Kata-kata itu tidak langsung melukai Lie. Ia masuk perlahan, seperti dingin, merayap, mengisi ruang dalam dirinya sedikit demi sedikit.

Malam itu, Lie kembali duduk di depan radio. Tanpa lampu. Tanpa suara lain. Ia membuka laci. Mengeluarkan tumpukan kertas lama. Tangannya berhenti pada satu halaman.

“Ada yang tertinggal di belakangmu samar,

menjelma bayangan purba…”

Tanggalnya, tiga tahun lalu. Tulisan tangannya sendiri. Ia membuka halaman lain dan halaman lain. Semua kata, semua larik, semua bait yang pernah ia dengar, telah lebih dulu ia tulis.

Sesuatu pecah di dalam dirinya. Bukan tangisan. Bukan amarah. Melainkan pengakuan yang terlalu lama ditunda.

Lie ingat, malam-malam sebelum radio itu ada. Malam ketika ia menulis tanpa tahu untuk siapa. Malam ketika seseorang pergi dan tidak pernah kembali. Radio menyala. Hanya statik.

Lie mendekat. Duduk sangat dekat, seperti dulu. Ia berbisik, “Selamat malam.”

Lalu perlahan Lie membaca, “Aku mengenalmu melalui puisi,” suaranya sendiri terdengar asing. Namun, sekaligus sangat akrab dan untuk pertama kalinya ia tidak lagi mencoba membedakan mana suara dari luar dan mana yang lahir dari dalam karena mungkin tidak pernah ada perbedaan itu.

Malam itu, Lie tidak mencari frekuensi. Tidak menunggu. Tidak berharap. Ia hanya duduk. Mendengarkan dirinya sendiri yang selama ini ia kira adalah orang lain dan di antara suara statik yang tak pernah selesai.

Lie akhirnya mengerti yang ia rindukan bukan seseorang, melainkan bagian dari dirinya yang pernah ia tinggalkan.

“Ah, mungkin kau lupa, aku begitu merindumu,” ujar Lie.

***

Judul: “Ah, Mungkin Kau Lupa: Aku Begitu Merindumu”

Penulis/Pengarang: Heri Isnaini

Editor: JHK

Sekilas tentang penulis/pengarang

Heri Isnani lahir di Subang, Jawa Barat, pada 17 Juni. Heri sangat menyukai puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Pernah mengikuti acara “Temu Penyair Asia Tenggara 2018” di Padang Panjang, Sumatera Barat, mengikuti Festival Seni Multatuli 6-9 September 2018 di Rangkasbitung, Lebak, Banten. Puisi-puisinya juga pernah dimuat pada Jurnal Aksara, Deakin University, Australia.    

         

Heri Isnaini
Heri Isnaini, pengarang – (Sumber: Koleksi pribadi)

Antologi puisi Heri, Ritus Hujan (2016); Singlar Rajah Asihan: Kumpulan Sajak (2018); Ah, Mungkin Kau Lupa Aku Begitu Merindumu (2019); Manunggaling Kawula Gusti: Kumpulan Sajak (2020); Montase: Sepilihan Sajak (2022).

Cerpen Heri pernah dimuat pada koran Radar Banyuwangi, Radar Kediri, dan Harian Rakyat Sultra. Beberapa media daring di Indonesia seperti Radar Utara, Restorasi News Siber Indonesia, Tebu Ireng Online, dan Bali Politika juga pernah memuat karya-karyanya.

Kegiatan sehari-hari Heri adalah Dosen Sastra IKIP Siliwangi Kota Cimahi. Selain itu, ia juga banyak beraktivitas sebagai editor dan reviewer di berbagai jurnal ilmiah di dalam dan luar negeri. Heri merupakan kontributor media RNSI dan Literatura Nusantara. Ia dapat dihubungi melalui surel heriisnaini.heriisnaini@gmail.com  atau nomor WA 085723051385.

***