Materi Kegiatan Seni Teater di Sekolah

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Kamis (23/04/2026) – Artikel berjudul “Materi Kegiatan Seni Teater di Sekolah” inimerupakan karya original dari Yoyo C. Durachman, seorang penulis, pengarang, dosen,  sutradara, dan budayawan Cimahi. Saat ini aktif sebagai Pembina Media Online “PISAU SASTRA” yang isinya membahas seputar dunia sastra.  

Akhir-akhir ini kegiatan seni teater di sekolah mulai semarak dilakukan, mulai dari  tingat Sekolah Dasar (SD) sampai dengan tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU). Bahkan terdapat beberapa sekolah kejuruan yang membuka program studi teater.

Fenomena ini tentu sangat menggembirakan bagi perkembangan dunia teater di tanah air. Namun, hal tersebut mengundang sebuah pertanyaan perlu dikemukakan, “Apakah materi kegiatan tersebut cocok dengan situasi dan kondisi yang dipunyai oleh sekolah yang bersangkutan? Mulai dari bahan ajar, sumber daya manusia (guru/pelatih), sarana-prasarana, dana dan murid-murid yang mempunyai minat terhadap seni teater.”

Yoyo C. Durachman
Yoyo C. Durachman, Penulis – (Sumber: J.Haryadi/BJN)

Berdasarkan pengamatan saya, berdasarkan pengalaman dari beberapa kegiatan tentang pendidikan teater di sekolah dalam bentuk workshop, semiloka, festival, mengeditori buku teater untuk sekolah, materi kegiatan yang dilaksanakan pada umumnya dibagi dua, yaitu teori dan praktik.

Teori, materinya pengetahuan dan wawasan teater, sedangkan praktik materinya teater dalam bentuk “drama”, yaitu suatu pertunjukan teater yang mempergunakan naskah lakon yang telah jadi sebagai sumber acuannya, baik lakon yang ditulis oleh dramawan lokal maupun luar dan bertendensi untuk meraih suatu pencapaian artistik sebagaimana layaknya karya para seniman teater.

Dalam kegiatan teater seperti ini, untuk pelajaran teori pada umumnya guru dan atau pelatih memilih sebuah buku yang isinya memuat pengetahuan dan wawasan teater yang meliputi definisi teater, unsur-unsur teater, jenis-jenis teater, sejarah teater, seniman teater, naskah drama, fenomena teater masa kini dan tata cara serta metode membuat produksi teater.

Untuk pelajaran praktik,  biasanya diawali dengan pengenalan dasar bermain teater, seperti olah tubuh, olah vokal dan olah sukma, guru/pelatih memilih naskah lakon drama dan bentuk pertunjukan tertentu untuk kemudian dijadikan sebagai bahan materi kegiatan bersama para siswa yang acapkali terbuka kemungkinan tidak terdapatnya kesesuaian antara materi yang dipersiapkan/diberikan dengan situasi dan kondisi para siswanya atau mungkin sekolahnya.

Ilustrasi: Pertunjukan teater di sekolah yang diperankan oleh siswa-siswi SMA – (Sumber: Youtube, Olha Grafis: BJN)

Akhirnya kegiatan teater tersebut mengalami kegagalan. Siswanya banyak yang merasa jenuh karena materi lakonnya acapkali jauh dengan pengalaman hidup keseharian mereka baik secara sosiologis, psikologis maupun kognitif. Sekolahnya pun menjadi kerepotan menyediakan berbagai aspek pendukung pertunjukan yang meliputi dana, sarana dan prasarana.

Agar kegiatan seni teater lebih terarah, perlu ditetapkan dulu tujuannya dengan jelas. Di bawah ini akan diuraikan beberapa tujuan kegiatan seni teater sebagai alternatif atau perbandingan apabila sudah terdapat pada buku atau kurikulum teater yang ditetapkan oleh sekolah.

Apabila kita mengacu kepada tujuan kegiatan seni teater dalam bentuk praktek yang terdiri dari: berorientasi karya seni, memasuki dunia industri, pendidikan dan therapy [Brockett:1976], materi kegiatan seni teater di sekolah mempunyai relevansi dengan keempat orientasi tersebut kendati tingkat kedalaman dan keluasannya perlu dipertimbangkan, sedangkan materi kegiatan seni teater dalam bentuk teori tujuannya tiada lain untuk kepentingan apresiasi dan praktik produksi teater; memperdalam pemahaman, meningkatkan daya kritisnya terhadap penikmatan karya teater dan pengembangan serta landasan kreativitas berkarya cipta teater.

Kegiatan seni teater yang berorientasi pada karya seni sudah barang tentu tidak bisa ditawar lagi harus menghasilkan sebuah karya teater yang mempunyai nilai artistik dan berlandaskan pada konvensi-konvensi dramaturgi yang ketat. Karya semacam ini hanya bisa dilahirkan oleh mereka yang mempunyai “bakat” kesenimanan yang memadai. Kalau di sekolah biasanya dilaksanakan di perguruan tinggi kesenian.

Kegiatan seni teater yang berorientasi industri adalah kegiatan teater yang tujuannya mengasah ketrampilan yang bisa diproyeksikan untuk masuk ke wilayah industri pertunjukan populer, film, TV, dll. Biasanya dilaksanakan di SMK kesenian dan perguruan tinggi kesenian.

Kegiatan seni teater yang berorientasi pendidikan, adalah kegiatan yang menjadikan teater sebagai sarana pendidikan, baik sebagai sarana materi pendidikan ( misalnya pendidikan sejarah, bahasa-sastra, apresiasi, dll) atau sebagai sarana bagi para pesertanya untuk mendapat pendidikan kepemimpinan, public speaking, bersosialisasi, berorganisasi, berekspresi, bisnis, dll. Biasanya dilaksanakan di Sekolah Umum, SMK dan Perguruan Tinggi non kesenian.

Kegiatan seni teater yang berorientasi Therapy, adalah kegiatan teater sebagai sarana therapy atau penyembuhan bagi seseorang yang mempunyai kelainan tertentu, misalnya: a sosial, susah bicara (gagap), kepribadian, kepercayaan diri dan atau masalah-masalah kejiwaan lainnya yang relevan. Biasanya dilaksanakan di klinik psikologi atau kelompok teater yang berorientasi untuk itu dan atau tidak menutup kemungkinan juga disekolah-sekolah dan perguruan tinggi umum.

Dari keempat tujuan kegiatan seni teater yang diuraikan diatas, kegiatan teater di sekolah umum, baik tingkat sekolah dasar maupun SMU, kiranya teater sebagai media pendidikan perlu dijadikan orientasi, terutama yang menyangkut nilai etika dan estetika.

Sebagai salah satu cabang seni pertunjukan, seni teater mempunyai sifat tontonan yang mempunyai unsur kinetik (gerak), suara, visual dan pesan (bisa dalam bentuk cerita yang naratif atau non cerita/tematik). Dari deskripsi tersebut seni teater terbagi menjadi dua jenis: Pertama, mempergunakan naskah lakon (dramatik teks) dan kedua tidak mempergunakan naskah lakon. Bahkan, bisa mewujud sebuah pertunjukan yang multi media dan dimensi, tetapi berlandaskan pada suatu tema.

Selain daripada itu, seni teater mempunyai esensi: manusia sebagai pendukung utamanya, bersifat kolektif, berkomunikasi secara langsung antara pementasan dengan penontonnya serta terikat oleh ruang dan waktu.

Untuk kegiatan seni teater di sekolah umum, baik untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) maupun tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU), materi yang cocok adalah gabungan dari keduanya. Artinya, guru atau pelatih tidak perlu memaksakan naskah lakon yang dipilihnya untuk dilatihkan bersama-sama dengan murid. Namun apabila guru/pelatih berkeinginan untuk memberikan materi yang bersumber dari naskah lakon, alangkah baiknya naskah lakon itu ceritanya dari para murid sendiri, baik yang menyangkut konteks pengalamannya maupun wawasannya untuk kemudian diramu dan diolah sedemikian rupa menjadi naskah lakon yang juga diusahakan ditulis sendiri oleh murid dengan bimbingan guru atau pelatih.

Sebagai contoh sederhana bisa dikemukakan; seorang murd perempuan diminta untuk menceritakan salah satu konfliknya dengan seseorang di rumah (mengingat inti drama adalah konflik), ceritanya itu kemudian dideskripsikan oleh temannya yang gemar menulis, mulai dari permasalahan, tokoh-tokohnya sampai alur ceritanya/plot.

Dari hal yang sederhana tersebut, di bawah bimbingan guru atau pelatih bisa lahir sebuah lakon drama yang akrab dengan kehidupan para murid. Selanjutnya diharapkan mereka akan senang menjalani latihan-latihan karena permasalahan yang ditampilkan adalah dunianya. Begitu pula dalam hal pendukung; mulai dari pemain sampai ke manajemennya, bukalah kesempatan kepada murid untuk berpartisipasi sesuai dengan potensinya berdasarkan pengamatan dan penilaian guru dan atau pelatih.

Apabila guru atau pelatih menginginkan materinya dengan tidak memakai naskah yang konvensional, itu juga baik. Hal ini bisa dengan memakai metode bermain, karena pada intinya manusia itu makhluk yang senang bermain [Huizinga: 1990]. Biarkanlah para murid bermain-main dengan imajinasi, ekspresi, geraknya yang berpijak dan diarahkan pada tema tertentu dan disepakati bersama. Dari materi ini bisa saja kemudian melahirkan pertunjukan yang multi media; tari, musik, dan puisi. Bahkan, mungkin video yang dikemas menjadi suatu kesatuan yang utuh, atau pantomim.

Sebagai materi pendukung, kegiatan apresiasi minimal dengan cara menonton pementasan-pementasan teater dari kelompok teater yang sudah mapan adalah sangat dianjurkan dan akan lebih baik siswa diberi tugas untuk membuat laporannya. Karena dengan kegiatan ini diharapkan paling tidak siswa kelak menjadi seorang apresiator teater.

Demikianlah konsep dasar materi kegiatan seni teater di sekolah yang rinciannya perlu diformulasikan lagi sesuai dengan situasi dan kondisi yang dipunyai oleh sekolah; guru, pelatih, siswa, sarana dan pra sarana, pendanaan, kurikulum serta alokasi waktu yang tersedia. (Yoyo C. Durachman).

***

DAFTAR PUSTAKA

Brockett, Oscar G, The Essential Theatre, Holt, Rinehart and Winston, Inc, 1976

Huizinga, Johan, Homo Ludens,terjemahan Hasan Basari, LP3ES-Jakarta, 1990]

***

Judul: Materi Kegiatan Seni Teater di Sekolah

Penulis: Yoyo C. Durachman

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang Penulis

Yoyo C. Durachman adalah seorang seniman dan budayawan Cimahi yang multitalenta. Pria kelahiran Bandung, 21 September 1954 ini dikenal sebagai dosen, aktor, sutradara, penulis, pengarang, dan budayawan. 

Selama karirnya dalam dunia teater, tidak kurang dari 30 pementasan telah dilakukan Yoyo dengan kapasitas sebagai sutradara, pemain, penata pentas, konsultan, dan pimpinan produksi. Naskah drama berjudul “Dunia Seolah-olah” adalah naskah drama yang ia tulis dan dibukukan bersama naskah drama lain milik Joko Kurnain, Benny Johanes, Adang Ismet, Arthur S. Nalan, dan Harris Sukristian.

Pensiunan dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung ini kini sering diundang sebagai juri maupun sebagai narasumber diberbagai kegiatan kebudayaan. Selain itu, Yoyo juga aktif sebagai Pembina Media Online “PISAU SASTRA” yang isinya membahas seputar dunia sastra.

***