BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Kamis (23/07/2026) – Artikel “Surat Panjang dari Pramoedya Ananta Toer kepada Generasi Muda” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Anak-anak muda yang kukasihi. Aku menulis bukan dari ruang yang lapang. Bukan dari kursi yang nyaman, melainkan dari ruang sempit yang pernah menjadi penjara bagi tubuhku, tetapi tidak pernah berhasil mengurung pikiranku.
Aku menulis karena aku percaya, kata-kata adalah satu-satunya jalan agar manusia tidak lenyap ditelan sejarah. Kata-kata adalah saksi dan aku dengan segala luka dan penindasan yang kualami, memilih untuk menjadi saksi zaman.
Aku ingin kalian tahu: hidupku adalah sebuah perjalanan panjang yang penuh perampasan. Hak-hak dasar yang mestinya dimiliki setiap manusia—hak untuk berpikir, hak untuk menulis, hak untuk menyampaikan suara—dirampas oleh sebuah rezim yang takut pada kebenaran.

Aku dituduh tanpa bukti, dihukum tanpa pengadilan yang adil. Lalu aku dibuang ke Pulau Buru seakan-akan aku bukan bagian dari bangsa ini. Tubuhku dikurung, tetapi pikiranku tetap mencari jalan keluar.
Di Pulau Buru, aku menyaksikan bagaimana manusia bisa diperlakukan lebih rendah dari binatang. Kami dipaksa bekerja. Kami kelaparan. Kami sakit dan kami kehilangan keluarga. Namun, di tengah keterasingan itu, aku menemukan kekuatan yang tak pernah bisa dirampas: ingatan. Ingatan tentang bangsa ini, tentang sejarahnya, tentang manusia-manusia yang pernah berjuang, tentang penderitaan yang tidak boleh dilupakan. Dari ingatan itulah aku menulis, meski tanpa pena, meski hanya dengan mendiktekan kata-kata kepada sesama tahanan.
Aku ingin kalian mengerti bahwa penindasan bukan hanya soal dirampasnya kebebasan fisik. Penindasan adalah ketika suara manusia dihapus dari sejarah. Ketika sebuah bangsa dipaksa melupakan bagian dari dirinya sendiri. Itulah kejahatan terbesar sebuah rezim: bukan hanya membunuh tubuh, tetapi juga berusaha membunuh ingatan.
Aku memilih untuk melawan dengan cara yang paling sederhana: menulis. Menulis adalah bentuk perlawanan yang tidak bisa dibungkam. Kertas bisa dirampas, pena bisa disita, tetapi kata-kata yang sudah tertanam dalam ingatan tidak bisa dihapus.
Aku menulis bukan untuk diriku sendiri, melainkan untuk kalian—generasi muda yang akan datang setelah aku agar kalian tahu bahwa bangsa ini pernah mengalami luka, agar kalian tidak mengulanginya, agar kalian berani berdiri melawan ketidakadilan.
Anak-anak muda, jangan pernah percaya bahwa sejarah adalah milik penguasa. Sejarah adalah milik manusia, milik rakyat, milik mereka yang berani bersaksi. Aku menulis karena aku ingin sejarah bangsa ini tidak hanya berisi nama-nama besar yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi juga suara-suara kecil yang pernah ditindas, yang pernah dilupakan, tetapi tetap bertahan.
Aku tahu, kalian hidup di zaman yang berbeda. Zaman kalian mungkin penuh dengan teknologi, dengan kebebasan yang tampak lebih luas, tetapi jangan pernah lengah. Penindasan bisa hadir dalam bentuk yang berbeda. Ia bisa hadir dalam bentuk sensor, dalam bentuk manipulasi informasi, dalam bentuk penghapusan ingatan kolektif. Itulah sebabnya kalian harus terus menulis, terus bersaksi, terus menjaga ingatan.
Aku ingin kalian belajar dari penderitaanku bukan untuk meratapi, melainkan untuk memahami. Bahwa kebebasan tidak pernah diberikan begitu saja, kebebasan harus diperjuangkan. Bahwa menulis bukan sekadar kegiatan intelektual, melainkan sebuah tindakan politik, sebuah perlawanan terhadap lupa.
Di Pulau Buru, aku sering berkata kepada diriku sendiri, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.”
Kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan sebuah keyakinan yang lahir dari pengalaman. Aku melihat bagaimana manusia bisa dilenyapkan begitu saja, namanya dihapus, suaranya dibungkam. Namun, aku juga melihat bagaimana tulisan bisa membuat manusia tetap hidup. Bahkan, setelah tubuhnya hancur.
Anak-anak muda, aku ingin kalian menulis bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang luka. Karena bangsa yang berani mengakui lukanya adalah bangsa yang berani sembuh. Jangan takut menulis tentang penindasan, tentang kejahatan rezim, tentang perampasan hak karena dengan menulis, kalian sedang menjaga agar sejarah tidak dipalsukan.
Aku tahu, menulis sering dianggap pekerjaan sepi. Pekerjaan yang tidak menghasilkan kekuasaan atau kekayaan. Namun, percayalah bahwa menulis adalah pekerjaan yang paling mulia. Karena dengan menulis, kalian sedang memberi suara kepada mereka yang tidak bisa bersuara. Kalian sedang memberi kehidupan kepada mereka yang sudah dilupakan.
Aku ingin kalian membaca karya-karyaku bukan sebagai cerita tentang diriku, melainkan sebagai kesaksian tentang bangsa ini. Tentang bagaimana sebuah bangsa bisa jatuh ke dalam kejahatan, tetapi juga tentang bagaimana manusia bisa tetap bertahan. Aku ingin kalian melihat bahwa di balik setiap kata ada darah, ada air mata, ada penderitaan, tetapi juga ada harapan.
Anak-anak muda, jangan pernah menyerah pada penindasan. Jangan pernah percaya bahwa suara kalian tidak penting. Karena setiap suara adalah bagian dari sejarah. Setiap kata adalah bagian dari perlawanan.
Aku menulis surat ini untuk kalian agar kalian tidak melupakan, agar kalian tahu bahwa bangsa ini pernah mengalami luka yang dalam. Agar kalian berani berdiri melawan ketidakadilan. Agar kalian terus menulis, terus bersaksi, terus menjaga ingatan.
Jika suatu hari kalian merasa lelah, ingatlah bahwa aku pernah menulis dari penjara, dari pengasingan, dari keterbatasan yang paling parah. Tetapi aku tetap menulis. Karena aku percaya, menulis adalah satu-satunya cara agar manusia tidak lenyap.
Anak-anak muda, aku titipkan sejarah bangsa ini kepada kalian. Jagalah dengan kata-kata. Jagalah dengan ingatan. Jagalah dengan keberanian.
Dengan kasih dan harapan.
Pramoedya Ananta Toer
***
Judul: Surat Panjang dari Pramoedya Ananta Toer kepada Generasi Muda
Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.
Editor: JHK
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.
Aktifitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***