BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Sabtu (27/06/2026) – Artikel “Kota Cimahi: Menakar Usia, Merajut Asa di Usia Perak” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Dirgahayu Kota Cimahi ke-25
Hari ini, 27 Juni 2026 merupakan puncak acara peringatan Hari Ulang Tahun Kota Cimahi ke-25 yang sudah dimulai sejak 21 Juni 2026 yang lalu. Seperempat abad telah berlalu sejak Cimahi resmi menyandang status sebagai kota otonom pada 2001. Sebuah perjalanan yang tentu saja penuh dengan dinamika, pembangunan, dan upaya untuk terus membenahi diri menjadi hunian yang layak bagi warganya. Namun, di balik angka 25 tahun itu, tersimpan lapisan sejarah yang jauh lebih panjang dan dalam.
Jika kita menilik jejak historis yang terpatri dalam catatan kolonial, nama Cimahi bukanlah entitas yang lahir kemarin sore. Sejak awal abad ke-19, wilayah ini telah menjadi titik penting dalam peta ruang kolonial Hindia Belanda. Secara historis, jika kita menghitung mundur hingga saat-saat awal kemunculan namanya dalam dokumen pemerintahan kolonial, usia Cimahi sebenarnya telah mencapai 215 tahun.

Tentu itu adalah sebuah angka yang fantastis. Angka yang menunjukkan bahwa jauh sebelum disematkan predikat “kota otonom”, Cimahi telah lama menjadi saksi bisu perkembangan zaman—dari kawasan garnisun militer yang strategis hingga bertransformasi menjadi kota yang padat akan denyut kehidupan urban.
Perayaan 25 tahun sebagai kota otonom ini menjadi momentum yang tepat bagi kita, bukan sekadar untuk berpesta, melainkan untuk melakukan perenungan reflektif. Sebagai seorang warga yang tumbuh dan membersamai perjalanan kota ini, saya melihat Cimahi bukan hanya sebagai kumpulan bangunan beton, jalan raya yang kian padat, atau pusat perbelanjaan yang tumbuh bak jamur. Cimahi adalah rumah.
Ya, Cimahi adalah rumah yang hangat. Rumah yang menyimpan ribuan cerita di setiap sudut gangnya, di aroma tanah setelah hujan di lereng-lereng perbukitannya, dan dalam keramahan penduduknya yang tetap memegang teguh identitas lokal di tengah gempuran modernitas. Namun, di balik kehangatan itu, ada catatan kritis yang tidak boleh kita abaikan.
Sebagai kota yang relatif kecil secara luas wilayah, tantangan yang dihadapi Cimahi justru berlipat ganda. Kepadatan penduduk, keterbatasan ruang terbuka hijau, hingga tantangan untuk menjaga kelestarian identitas budaya di tengah arus globalisasi adalah pekerjaan rumah yang menuntut kerja keras pemerintah kota, serta keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat.
Terkadang, kita melihat pembangunan yang hanya menyentuh permukaan, sementara esensi dari “kesejahteraan warga” dalam arti yang lebih luas—termasuk akses pada kebudayaan, literasi, dan ruang ekspresi kreatif—kerap terpinggirkan.
Harapan saya untuk Cimahi di masa mendatang sangatlah sederhana namun mendasar. Saya mendambakan sebuah kota yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi fisik, tetapi juga membangun jiwanya. Kota yang memberikan ruang bagi para seniman, penulis, dan pegiat literasi untuk tumbuh subur. Kota yang mampu mengelola warisan sejarah militer dan budayanya menjadi aset pendidikan yang berharga, bukan malah membiarkannya terkikis oleh pembangunan yang sembarangan.
Semoga di masa mendatang, kebijakan publik di Cimahi lebih berpihak pada kemanusiaan dan kebudayaan. Saya berharap pemerintah kota mampu lebih peka terhadap aspirasi akar rumput, menjembatani kesenjangan antara kemajuan modern dan pelestarian sejarah yang menjadi jati diri kota ini.
Mari kita jadikan Cimahi bukan hanya sekadar tempat transit atau “kota satelit” bagi Bandung, melainkan sebuah destinasi yang memiliki karakteristik kuat, ramah bagi anak-anak dan lansia, serta menjadi simbol dari kota yang inklusif.
Pada usia ke-25 ini, mari kita perbaharui komitmen untuk menjaga rumah kita bersama. Terima kasih, Cimahi, telah menjadi tempat di mana kenangan-kenangan pribadi saya, keluarga saya, dan impian-impian banyak orang terajut.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa selalu memberkahi kota ini dengan kemajuan yang berkelanjutan, kedamaian yang terjaga, dan kesejahteraan yang merata untuk seluruh warganya.
Dirgahayu, Cimahi. Teruslah berjalan, teruslah bertumbuh, satu kata demi satu kata, menuju masa depan yang lebih bermartabat.
Pesan dan Harapan untuk Cimahi:
Cimahi di masa depan harus berani bertransformasi menjadi “Kota Literasi dan Budaya”. Harapan terbesar saya adalah adanya sinergi nyata antara pemerintah dan masyarakat untuk membangun infrastruktur berbasis pengetahuan—seperti perpustakaan komunitas yang aktif dan ruang-ruang kreatif bagi pemuda—agar Cimahi tidak sekadar menjadi kota administratif, tetapi kota yang melahirkan pemikiran-pemikiran besar.
Selain itu, saya berharap pemerintah lebih konsisten dalam menjaga kelestarian situs-situs sejarah dan lingkungan, karena itulah yang membuat Cimahi memiliki “jiwa” yang tidak dimiliki kota lain. Semoga ke depan, ruang untuk berdialog antara pemerintah dan warga menjadi lebih terbuka, inklusif, dan solutif.
***
Judul: Kota Cimahi: Menakar Usia, Merajut Asa di Usia Perak
Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.
Editor: JHK
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.
Aktifitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***