Setiap Akhir Adalah Awal yang Baru: Catatan dari Akhirussanah Q4 Kuttab Cimahi

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Sabtu (27/06/2026) – Artikel berjudul “Setiap Akhir Adalah Awal yang Baru: Catatan dari Akhirussanah Q4 Kuttab Cimahi” ini merupakan karya Maesaroh, seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak.

Tanggal 27 Juni 2026 menjadi hari yang penuh syukur dan haru bagi keluarga besar Kuttab Cimahi. Dalam acara Akhirussanah Q4 yang dipandu oleh Ustadz Fanji, para santri, orang tua, dan guru berkumpul untuk menutup satu fase perjalanan pendidikan sekaligus membuka lembaran baru dalam proses menuntut ilmu.

Ketua Yayasan Kuttab Cimahi, Ustaz Yuman dalam nasihatnya mengingatkan para santri agar senantiasa menjaga akidah di mana pun berada. Beliau berpesan agar para santri menjadi kebanggaan agama dan masyarakat, menjaga silaturahim dengan para guru, serta terus berbakti kepada orang tua yang telah menjadi perantara bagi anak-anak untuk mengenal Allah SWT.

Haflah Akhirussanah Qonuni 4 Kuttab Cimahi – (Sumber: BJN)

Ustaz Yuman juga menyampaikan pesan kepada para orang tua untuk tetap membersamai pendidikan anak-anak. Menjadi pendengar yang baik, sahabat terbaik, dan pendukung utama dalam proses tumbuhnya keimanan anak merupakan tugas yang tidak berhenti ketika anak menyelesaikan satu jenjang pendidikan. Sebab, banyak pelajaran kehidupan yang tidak tercantum dalam ijazah, namun justru menjadi bekal utama dalam menjalani kehidupan.

“Hari ini kita berpisah, tetapi jangan sampai terputus. Ketika berpisah, hendaklah tetap terhubung dalam naungan Allah SWT,” demikian pesan yang menguatkan suasana.

Menurut Ustaz Yuman, Rasulullah SAW adalah manusia terbaik yang diciptakan Allah dan menjadi teladan sepanjang masa.

Haflah Akhirussanah Qonuni 4 Kuttab Cimahi – (Sumber: BJN)

Suasana haru semakin terasa ketika Ananda Miqdad mewakili santri menyampaikan pidato perpisahan. Dengan penuh kerendahan hati, ia menyampaikan bahwa perpisahan ini bukanlah akhir, melainkan langkah untuk melanjutkan pendidikan sebagai bekal menghadapi dunia yang lebih luas.

Ananda Miqdad mengungkapkan rasa syukur atas bimbingan para ustaz dan ustazah selama tujuh tahun terakhir. Jika hari ini para santri mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan memiliki bekal ilmu yang cukup, semua itu tidak terlepas dari kesabaran para guru dalam mendidik mereka. Ia juga memohon maaf atas segala sikap dan ego yang mungkin pernah mempersulit proses pembelajaran serta meminta doa dan restu dari para guru dan orang tua untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Kesan mendalam turut disampaikan oleh para wali santri. Bapak Dadan, ayahanda Syifa mengajak para santri untuk menjadikan setiap pembelajaran, nasihat, dan kenangan selama di Kuttab sebagai bekal menggapai cita-cita yang lebih tinggi. Beliau juga mendoakan agar Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan kekuatan kepada para guru dalam menjalankan amanah mulia mendidik generasi penerus umat.

Sementara itu, Teh Ayu, wali santri Kanaya, menyampaikan bahwa di Kuttab Cimahi bukan hanya anak yang belajar, tetapi seluruh keluarga turut bertumbuh bersama. Pendampingan yang diberikan oleh para guru telah membantu orang tua memahami pentingnya pendidikan Al-Qur’an, adab, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Atas nama seluruh wali santri, beliau juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama berinteraksi terdapat tutur kata maupun sikap yang kurang berkenan.

Haflah Akhirussanah Qonuni 4 Kuttab Cimahi – (Sumber: BJN)

Dalam sambutannya, Ustaz Cahyadi selaku Guru Iman Q4 menyampaikan bahwa pembelajaran iman di Kuttab tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk cara pandang dan karakter santri. Melalui Sirah Nabawiyah dan Matan Urjuzah, para santri diajak mengenal perjalanan hidup Rasulullah SAW sekaligus mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi.

Menurut beliau, keimanan yang kuat dibangun melalui ilmu, keteladanan, dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pembelajaran iman hendaknya tidak berhenti di ruang kelas, tetapi terus hidup dalam keseharian para santri. Beliau berpesan agar para santri senantiasa menjaga adab kepada guru dan orang tua, menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan, serta terus belajar sepanjang hayat.

Pada kesempatan yang sama, wali kelas Q4 menyampaikan perkembangan santri dalam empat aspek utama pendidikan Kuttab, yaitu iman, Al-Qur’an, akhlak dan adab, serta ibadah.

Pada aspek iman, mayoritas santri telah memahami perjalanan hidup Rasulullah SAW melalui Sirah Nabawiyah dan Matan Urjuzah. Mereka mampu mengenali berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam dan mengambil pelajaran darinya.

Pada aspek Al-Qur’an, mayoritas santri telah mencapai level membaca Al-Qur’an dengan baik dan menunjukkan kemandirian dalam qiraah di rumah. Dalam bidang tahfiz, rata-rata santri telah memiliki hafalan antara tujuh hingga sepuluh halaman, bahkan sebagian telah mencapai tiga sampai tujuh juz. Namun, yang paling penting bukanlah jumlah hafalan, melainkan sejauh mana Al-Qur’an diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada aspek akhlak dan adab, mayoritas santri telah mampu membedakan akhlak terpuji dan tercela serta berusaha menerapkannya dalam keseharian. Sementara pada aspek ibadah, sebagian besar santri telah hafal bacaan shalat beserta terjemahannya. Meski demikian, pembiasaan shalat yang khusyuk dan tepat waktu masih menjadi ikhtiar bersama antara rumah dan sekolah.

Satu pesan yang sangat mengena disampaikan kepada para orang tua. Apa yang terlihat pada diri anak-anak hari ini pada hakikatnya merupakan cerminan dari pendidikan dan keteladanan yang diberikan oleh orang dewasa di sekitarnya. Karena itu, sebelum menuntut anak menjadi lebih baik, orang tua perlu terlebih dahulu melakukan introspeksi dan perbaikan diri.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi penguatan oleh Ustaz Abiem Ismail. Beliau mengajak seluruh hadirin untuk mensyukuri perjalanan panjang selama empat belas semester kebersamaan yang penuh perjuangan, kesabaran, dan pengorbanan.

Ustaz Abiem Ismail menyampaikan apresiasi kepada seluruh wali santri yang telah membersamai tumbuh kembang anak-anak dalam bingkai iman, Al-Qur’an, dan adab. Kesabaran dalam mendidik anak, menurut beliau, tidak mungkin terwujud tanpa pertolongan Allah SWT.

Mengutip Surat Az-Zalzalah ayat 7, beliau mengingatkan bahwa setiap kebaikan sekecil apa pun akan dicatat oleh Allah SWT, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”

Ustaz Abiem Ismail juga menyampaikan kabar gembira dari Surat Ar-Ra’d ayat 24, “Salāmun ‘alaikum bimā shabartum fa ni’ma ‘uqbad-dār.“

“Keselamatan atas kalian berkat kesabaran yang telah kalian lakukan. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kesabaran dalam mendidik dan membersamai anak-anak adalah amal yang bernilai besar di sisi Allah SWT.

Dalam kesempatan tersebut, beliau juga membagikan kisah Imam Al-Baidhawi, seorang ulama besar yang pernah bercita-cita menjadi qadhi atau hakim. Namun sebuah nasihat yang diterimanya membuat beliau menyadari bahwa ilmu tidak boleh dijadikan sarana mengejar dunia semata. Sejak saat itu, beliau mengubah orientasi hidupnya dan mendalami ilmu tafsir hingga menjadi salah satu ulama yang karyanya terus dirujuk hingga hari ini.

Di penghujung acara, Ustaz Abiem menjelaskan tiga tipe alumni. Pertama, muttasil, yaitu alumni yang tetap terhubung dengan guru melalui doa, silaturahim, dan penghormatan terhadap ilmu.

Kedua, munfasil, yaitu mereka yang hanya terhubung sebagian. Ketiga, munqathi’, yaitu mereka yang terputus hubungannya dengan guru dan ilmu yang pernah dipelajari. Beliau menegaskan bahwa keberkahan itu nyata, dan salah satu jalannya adalah menjaga hubungan baik dengan para guru.

Akhirussanah Q4 Kuttab Cimahi kemudian ditutup dengan saling memohon maaf dan memaafkan antara Mudirul ‘Am, para ustadz dan ustadzah, serta seluruh wali santri. Sebuah penutup yang hangat untuk perjalanan panjang yang telah dilalui bersama.

Karena sesungguhnya, setiap akhir adalah awal yang baru. Berakhirnya masa belajar di Kuttab Cimahi bukanlah akhir dari menuntut ilmu, melainkan awal perjalanan untuk terus belajar, bertumbuh, dan menjaga nilai-nilai iman, Al-Qur’an, serta adab di mana pun berada.

***

Judul: Setiap Akhir Adalah Awal yang Baru: Catatan dari Akhirussanah Q4 Kuttab Cimahi

Penulis: Maesaroh, M.Sos.

Editor: JHK

Sekilas tentang Penulis

Maesaroh, M.Sos adalah seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak. Baginya, setiap anak lahir dengan potensi dan keunikannya masing-masing. Karena itu, tugas orang tua bukan mengubah anak sesuai keinginan, melainkan menangkap sinyal fitrah yang telah Allah titipkan sejak lahir.

Maesaroh
Maesaroh, M.Sos., penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa SMA. Dari kebiasaan menulis itulah, biidznillah, ia mendapatkan beasiswa bantuan pendidikan dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak BJ Habibie hingga menyelesaikan pendidikan S1. Sejak saat itu, menulis menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus ia rawat hingga hari ini melalui artikel, puisi, cerpen, antologi, dan proses penyelesaian buku solo yang sedang diusahakan.

Setelah menikah pada 2014, Maesaroh lebih banyak membersamai anak-anak sebagai full time mom. Baginya, masa membersamai tumbuh kembang anak adalah amanah berharga yang tidak akan terulang kembali. Di tengah aktivitas rumah tangga, ia tetap aktif menulis setiap hari, belajar, serta berusaha menghadirkan karya yang bermanfaat bagi sesama.

Sebagai lulusan Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, Maesaroh aktif berkarya dalam bidang komunikasi, dakwah, pendidikan, parenting, dan literasi keluarga. Ia juga dipercaya menjadi Tutor Universitas Terbuka pada 2026. Melalui tulisan dan proses belajar yang terus dijalani, ia berharap dapat menghadirkan manfaat, menginspirasi banyak orang, serta menebar kebaikan melalui karya dan keteladanan hidup.

“Berkarya dengan hati, menginspirasi negeri.”

***