Jejak Waktu yang Ditemukan: Catatan tentang Marcel Proust

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Senin (28/09/2026) – Artikel “Jejak Waktu yang Ditemukan: Catatan tentang Marcel Proust” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Dalam sejarah sastra, ada nama yang berdiri seperti menara sunyi di tengah kabut ingatan: Marcel Proust. Ia bukan sekadar penulis, melainkan seorang penggali waktu, seorang arsitek yang membangun katedral kata-kata dari serpihan memori. Kehidupannya, yang singkat namun penuh pergulatan, menjadi ladang tempat ia menanam benih refleksi tentang manusia, cinta, dan kesementaraan.  

Proust lahir pada 1871, di tengah dunia yang sedang bergolak oleh modernitas. Tubuhnya rapuh, sering diganggu penyakit, tetapi justru dalam keterbatasan fisik itu ia menemukan kekuatan batin yang luar biasa. Ia menulis bukan dengan tenaga tubuh, melainkan dengan napas panjang pikiran. Dari kamar yang sering menjadi penjara kesehatannya, ia membuka jendela menuju semesta batin yang tak terbatas.  

Karya besarnya, À la Recherche du Temps Perdu (In Search of Lost Time), adalah sebuah perjalanan tujuh jilid yang menyingkap misteri waktu. Di sana, Proust tidak sekadar bercerita; ia menyalakan obor untuk menuntun pembaca menyusuri lorong ingatan.

Kalimat-kalimat Proust panjang, berliku, dan kadang terasa seperti labirin, tetapi di setiap belokan kita menemukan cermin yang memantulkan wajah kita sendiri. Ia mengajarkan bahwa waktu bukanlah garis lurus, melainkan lingkaran yang terus berputar, membawa kembali aroma masa lalu, suara yang pernah hilang, dan rasa yang tak pernah benar-benar lenyap.  

Proust percaya bahwa seni adalah jalan menuju keabadian. Baginya, tugas seorang penulis bukanlah mencatat fakta, melainkan menangkap getaran halus yang sering luput dari perhatian. Seperti secangkir teh yang tiba-tiba mengingatkan pada masa kanak-kanak, atau cahaya senja yang membuka pintu kenangan akan cinta pertama. Dalam fragmen kecil itu, ia menemukan keutuhan hidup.  

Proust juga seorang pengamat tajam masyarakat Prancis pada zamannya. Dengan mata yang jernih, ia menyingkap lapisan-lapisan sosial, dari aristokrasi yang penuh gengsi hingga kaum borjuis yang haus pengakuan. Namun, kritiknya tidak pernah sekadar tajam; ia membungkusnya dengan ironi halus, dengan humor yang samar, sehingga pembaca merasa sedang bercermin, bukan sedang dihakimi.  

Pengaruh Proust melampaui batas sastra. Ia mengubah cara manusia memahami memori dan pengalaman. Para filsuf, seniman, bahkan ilmuwan psikologi menemukan dalam tulisannya sebuah pandangan baru tentang kesadaran. Ia menunjukkan bahwa ingatan bukanlah arsip statis, melainkan organisme hidup yang terus bergerak, tumbuh, dan bertransformasi.  

Membaca Proust adalah perjalanan panjang. Banyak yang menyerah di tengah jalan, terjebak dalam kalimat-kalimatnya yang berliku. Namun bagi mereka yang bertahan, hadiah yang menanti adalah pemahaman mendalam tentang diri sendiri. Seperti berjalan di hutan lebat, setiap langkah terasa berat, tetapi di ujungnya kita menemukan cahaya yang tak ternilai.  

Proust wafat pada 1922, meninggalkan dunia dengan tubuh yang lelah, tetapi dengan warisan kata-kata yang abadi. Ia tidak pernah melihat seluruh karyanya terbit semasa hidup, namun setelah kematiannya, dunia menyadari bahwa ia telah menulis salah satu monumen terbesar dalam sejarah sastra.  

Kini, setiap kali kita membuka halaman bukunya, kita seakan duduk bersama seorang sahabat yang mengajak berbincang tentang hal-hal paling intim: rasa kehilangan, kebahagiaan kecil, dan ketakutan akan waktu yang terus berjalan. Ia tidak memberi jawaban, tetapi menawarkan cermin. Dan dalam cermin itu, kita melihat diri kita sendiri, dengan segala kerentanan dan keindahan.  

Marcel Proust adalah bukti bahwa dari kesunyian dapat lahir suara yang menggema sepanjang abad. Ia mengajarkan bahwa menulis bukanlah sekadar pekerjaan, melainkan sebuah ziarah menuju inti kehidupan. Dalam setiap kata, ia menanamkan keyakinan bahwa meski waktu terus mengalir, ada bagian dari kita yang tetap abadi: ingatan yang hidup dalam bahasa.

***

Judul: Jejak Waktu yang Ditemukan: Catatan tentang Marcel Proust

Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.

Editor: JHK

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***