BERITA JABAR NEWS (BJN), Jakarta, Minggu (13/09/2026) — Sudah beberapa hari buku “EXPA, Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pecinta Alam” (RBMM) karya Endang Mariani dkk., terbitan Prenada, Jakarta, 2026, tergolek “malas” di atas meja kerja saya.
Akhir Agustus 2026, udara di wilayah Depok masih seperti diselimuti kabut tipis debu vulkanik dari anak Gunung Krakatau. Entah mengapa, suasana itu kemudian mengingatkan saya pada sebuah kisah tentang Krakatau yang pernah diceritakan oleh salah seorang anggota EXPA, KKO (Smandel 80).
“Berkaitan dengan Krakatau ini, saya jadi teringat dan terus terang tidak sanggup mencerna ketika seorang anggota EXPA, KKO (Smandel 80), bercerita bahwa ia pernah mendaki Krakatau sebanyak tujuh kali pada 1984 dalam rangka membantu tugas Bakosurtanal,” kata Prof. Dr. Wahyu Wibowo, sastrawan, penyair, jurnalis senior, sekaligus pengajar Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Nasional (Unas), Jakarta.
Pernyataan itu disampaikan Wahyu ketika tampil sebagai penanggap dalam peluncuran buku EXPA, Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pencinta Alam (RBMM) di Ruang Sasana Krida SMAN 8 Jakarta, Sabtu (12/9/2026).

Dengan gaya khasnya, Wahyu juga bercerita tentang suasana pagi ketika ia mulai membaca buku tersebut.
“Mentari sejak pagi pun ogah petentengan. Selepas subuhan, saya juga ogah petentengan dan lebih memilih kruntelan bersama sarung. Namun, ketika menengok buku tadi, akhirnya sarung pun saya pelorotkan. Janji kepada Mbak Endang Mariani untuk membahas buku tersebut mesti saya tunaikan, meski harus memelorotkan sarung. Lalu, saya mulai asyik membaca,” tutur Wahyu.
Dari pembacaannya, Wahyu menyampaikan sejumlah catatan. Catatan pertama berkaitan dengan sisi filosofis yang terasa cukup kuat dalam tulisan para kontributor RBMM. Tidak sedikit penulis yang memasukkan ungkapan-ungkapan filosofis, terutama yang berkaitan dengan filsafat manusia. Seolah-olah, pembicaraan tentang manusia dan pencarian makna keberadaannya menjadi sesuatu yang menarik untuk terus direnungkan.
Dalam kajian filsafat, filsafat manusia merupakan cabang pemikiran yang secara kritis, rasional, dan mendasar berusaha menyelidiki hakikat manusia, keberadaannya, makna hidup, serta tujuan manusia menjalani kehidupan.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sesungguhnya telah muncul sejak zaman para filsuf awal. Salah satu nama yang terkenal adalah Thales, filsuf dari Miletos yang hidup pada abad ke-6 sebelum Masehi. Pemikirannya banyak diarahkan pada alam dan berbagai kejadian alamiah.
Thales, misalnya, berpendapat bahwa dunia mengapung di atas air. Dari pemikiran tersebut kemudian muncul pertanyaan-pertanyaan lanjutan: siapa yang membuat dunia tetap mengapung dan tidak tenggelam? Mengapa musim datang silih berganti? Siapa yang mengatur waktu sehingga segala sesuatu berlangsung menurut ketentuannya?
Pertanyaan tentang alam pada akhirnya berkembang menjadi pertanyaan tentang manusia: siapa aku?
Renungan semacam itu terus bergulir dalam sejarah filsafat. Ketika memasuki zaman Athena yang kerap disebut sebagai awal masa keemasan filsafat Yunani atau zaman kaum Sofis pada pertengahan abad ke-5 sebelum Masehi, muncul pula pemikiran Protagoras.
Protagoras berpandangan bahwa tidak ada kebenaran yang bersifat tetap dan definitif. Oleh karena itu, manusia ditempatkan sebagai ukuran bagi segala sesuatu. Pemikiran tersebut kemudian mendapat tentangan keras dari Socrates.
Bagi Socrates, terdapat nilai-nilai objektif yang baik dan harus diperjuangkan. Bahkan, ajaran dan sikapnya terhadap kebenaran membuatnya harus menerima hukuman mati dengan meminum racun.
Catatan kedua: Post-Truth
Dari “panorama” pemikiran para filsuf tersebut, kita dapat melihat bahwa pertanyaan tentang “siapa gue” atau siapa diri manusia terus mengalami perubahan sesuai konteks zamannya.
Yang menarik, memasuki abad ke-21, kita hidup dalam suasana yang sering disebut sebagai era post-truth atau pascakebenaran, ketika fakta objektif kerap kehilangan pengaruhnya dalam membentuk opini publik. Di tengah kondisi seperti itu, pencarian makna diri justru masih menemukan ruangnya.
Jika kita menyimak tulisan para kontributor RBMM yang berjumlah 27 orang, hampir semuanya menghadirkan refleksi, yakni peninjauan dan perenungan terhadap pengalaman hidup untuk menemukan jati diri atau menjawab pertanyaan sederhana sekaligus mendasar: siapa gue?

Di sinilah buku ini menjadi menarik. Sebab, di tengah kecenderungan penerbitan buku masa kini yang serba praktis, cepat, dan berorientasi pada kebutuhan tertentu, RBMM justru hadir dengan semangat yang boleh disebut “old fashioned”: mengajak pembaca berhenti sejenak, menengok pengalaman, lalu merenungkannya.
Pertanyaannya kemudian, pembaca seperti apa yang sebenarnya hendak disapa oleh buku ini?
Pencarian jawaban atas pertanyaan “siapa gue” dalam RBMM tidak dibangun melalui teori-teori filsafat yang rumit. Ia bersumber dari pengalaman 27 penulis yang pernah bersentuhan dengan alam, baik ketika masih berada dalam organisasi Puapala SMAN 8 maupun setelah bergabung dengan EXPA. Oleh karena itulah anak judul buku ini terasa tepat: “Ruang Belajar Menjadi Manusia.”
Dengan demikian, RBMM dapat dibaca sebagai ruang bagi siapa saja yang bersedia belajar menjadi manusia. Namun, proses belajar itu bukanlah pembelajaran langsung dalam arti formal. Para penulis mengajak pembaca belajar melalui persepsi mereka terhadap alam dan pengalaman yang mereka jalani.
Artinya, pembaca tidak sedang disuguhi sebuah buku ilmiah yang ditulis dengan bahasa dingin, penuh teori, atau menggunakan diksi yang membuat kepala terasa mumet. Sebaliknya, RBMM hadir melalui tulisan bergaya jurnalistik yang cerdas, ringan, menghibur, tetapi tetap menyimpan lapisan filosofis tentang manusia dan pertanyaan “siapa gue”.
Lantas, apakah ada yang salah ketika seseorang “belajar” hanya dari sepenggal persepsi orang lain?
Tentu tidak. Bahasa diciptakan untuk kemudian ditafsirkan dan direkonstruksi kembali. Karena itu, setiap pembaca memiliki kebebasan untuk menangkap makna sesuai pengalaman dan cara pandangnya sendiri.
Justru di situlah salah satu kekuatan RBMM. Para pembaca patut berterima kasih kepada ke-27 penulisnya karena melalui pengalaman dan persepsi mereka, pembaca diberi ruang untuk menafsirkan, mengolah, dan membangun kembali makna tersebut bagi kepentingan kehidupannya masing-masing.
Sebagai contoh, kita dapat menyimak tulisan Endang Mariani berjudul “Jejak Sejarah Puapala dan EXPA” pada halaman 3. Di sana terlihat bagaimana Endang merekonstruksi gagasan Leonardo da Vinci bahwa “alam adalah guru terbaik” melalui pengalaman dan persepsinya sendiri.
Pada akhirnya, pembaca tulisan Endang pun akan membangun persepsinya sendiri. Alam yang dikenal Leonardo da Vinci tentu berbeda dengan alam yang dialami Endang Mariani, dan keduanya pun belum tentu sama dengan alam yang hadir dalam kehidupan pembaca hari ini. Oleh karena itu, alam dalam nilai-nilai luhur masyarakat Minang diungkapkan secara imperatif melalui ungkapan, “alam takambang jadi guru” yang bermakna alam yang terbentang luas hendaknya dijadikan guru.
Sementara dalam pandangan filosofis masyarakat Jawa dikenal ungkapan, “alam iki sejatining guru”, yang kurang lebih bermakna bahwa alam adalah guru sejati. Dari sini kita memahami bahwa alam bukan semata-mata ruang fisik tempat manusia berpijak. Alam juga dapat menjadi ruang pembelajaran, ruang perenungan, sekaligus cermin untuk mengenali siapa diri kita.
Catatan ketiga: Pamunah
Sebagai penutup dan sebagai bentuk apresiasi, tahniah layak disampaikan kepada editor atas terbitnya buku EXPA, Ruang Belajar Menjadi Manusia: Perjalanan Pencinta Alam (RBMM).
Ucapan penghargaan yang sama patut diberikan kepada ke-27 penulis yang telah menyumbangkan pengalaman, pemikiran, dan persepsinya ke dalam buku ini.
Pada akhirnya, perjalanan menjadi manusia memang tidak pernah benar-benar selesai. Kita terus belajar dari alam, dari pengalaman, dari orang lain, dan terutama dari perjalanan panjang untuk memahami diri sendiri.
Ne transieris sicut ventus—janganlah engkau berlalu begitu saja seperti angin.
***
Judul: EXPA, Ruang Belajar Menjadi Manusia: Ketika Alam Mengajarkan Kita Memahami “Siapa Gue”
Kontributor: Lasman Simanjuntak
Editor: Jumari Haryadi