Jabar Mendunia: Jangan Kehilangan Jati Diri

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Minggu (13/09/2026) – Artikel berjudul “Jabar Mendunia: Jangan Kehilangan Jati Diri” merupakan karya tulis Ummu Fahhala, S. Pd., seorang Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi yang tinggal di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Jangan sampai pantai kita makin ramai, tetapi masyarakat di sekitarnya justru merasa asing di rumah sendiri. Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun, ia layak menjadi bahan renungan ketika Jawa Barat mulai serius mendorong pariwisata ke level yang lebih luas.

Radar Sukabumi pada 2 September 2026 memberitakan kembali munculnya dorongan menjadikan pantai selatan Sukabumi sebagai “Bali kedua”. Dalam rapat kerja bersama Menteri PPN/Bappenas, Anggota Komisi XI DPR RI Mulyadi menyoroti potensi Palabuhanratu dan Geopark Ciletuh sekaligus persoalan akses, fasilitas, dan keamanan kawasan. Salah satu usulan yang disampaikan adalah pembangunan akses shortcut dari Tol Bocimi menuju Palabuhanratu.

Ummu Pahhala
Ummu Pahhala, Penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pada 3 September 2026, ANTARA Jawa Barat juga memberitakan penjajakan kerja sama sister province antara Jawa Barat dan Provinsi Henan, China, khususnya di bidang kebudayaan dan pariwisata. Kerja sama yang dibicarakan mencakup pertukaran budaya, peningkatan kunjungan wisatawan, hingga peluang investasi pariwisata.

Tentu, potensi tersebut patut dikelola. Jalan yang baik memudahkan mobilitas. Destinasi yang tertata dapat membuka lapangan pekerjaan. Wisatawan yang datang bisa menghidupkan UMKM dan ekonomi warga. Namun, pembangunan tidak berhenti pada beton, jalan, hotel, dan jumlah kunjungan.

Ada sesuatu yang lebih dalam: nilai apa yang akan menjadi jiwa dari kawasan wisata tersebut?

Sebab, ketika sebuah daerah masuk dalam peta wisata internasional, yang bergerak bukan hanya wisatawan. Bersamanya hadir berbagai selera, kebiasaan, pola konsumsi, hiburan, dan budaya. Jika semuanya diserahkan kepada ukuran pasar, sesuatu yang semula dianggap tidak sesuai dengan nilai masyarakat bisa perlahan dipandang biasa hanya karena dianggap bagian dari “wisata modern”.

Di titik inilah refleksi diperlukan. Bukan sebagai penolakan terhadap pembangunan atau kerja sama dengan pihak luar, melainkan sebagai kepedulian dalam mengevaluasi paradigma.

Ajaran Islam

Islam mengajarkan bahwa alam bukan sekadar objek ekonomi. Ia adalah amanah. Allah Swt. Berfirman, “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik.” (Q.S. Al-A’raf: 56). Oleh karena itu, pengembangan kawasan wisata harus memperhitungkan kelestarian alam dan keberlangsungan kehidupan masyarakat. Pantai tidak boleh sekadar menjadi latar foto. Hutan tidak cukup dinilai dari harga tiket masuk. Budaya lokal jangan hanya dijadikan kemasan promosi.

Lebih jauh lagi, manusia tidak boleh dipandang sebatas konsumen. Rasulullah saw. bersabda: “Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberi perspektif bahwa pengelolaan wilayah merupakan amanah. Negara tidak hanya berkewajiban menghadirkan pertumbuhan, tetapi juga menjaga kemaslahatan rakyat.

Wisata Jawa Barat semestinya memiliki arah yang jelas. Infrastruktur dibangun dengan memperhatikan kebutuhan warga. Pelaku usaha lokal diberi ruang agar tidak tersisih. Lingkungan dijaga dengan sungguh-sungguh. Fasilitas ibadah diperhatikan. Wisata keluarga dan edukasi diperkuat. Aktivitas yang berpotensi merusak moral masyarakat tidak dibiarkan hanya karena memiliki nilai ekonomi.

Ilustrasi: Rencana pengembangan wisata di Pelabihanratu, Jawa Barat – (Sumber: BJN)

Kerja sama dengan pihak luar pun dapat membawa manfaat. Pertukaran budaya, ilmu, teknologi, dan pengalaman merupakan peluang yang baik selama tetap menempatkan kepentingan masyarakat sebagai pertimbangan utama. Jawa Barat tidak harus menjadi “Bali kedua”.

Jabar punya identitas sendiri. Ada Palabuhanratu dan Ciletuh, perkebunan teh, pegunungan, kuliner, angklung, seni tradisional, pesantren, serta kehidupan masyarakat yang lekat dengan nilai agama. Keindahan itu tidak perlu kehilangan jati diri agar dikenal dunia.

Jabar boleh mendunia. Pariwisatanya boleh maju. Namun, kemajuan seharusnya membuat masyarakat semakin bermartabat, alam semakin terawat, dan nilai kebaikan semakin kuat.

Wisata yang benar-benar membawa keberkahan bukan sekadar membuat orang datang dan membelanjakan uang. Ia juga meninggalkan manfaat bagi warga, menjaga alam, serta menghadirkan kebaikan yang lebih panjang daripada musim liburan. (Ummu Fahhala).

***

Judul: Jabar Mendunia: Jangan Kehilangan Jati Diri

Penulis: Ummu Fahhala, S. Pd., Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi
Editor: JHK