Menyelami Gelisah di Balik Budaya Self-Reward

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Kamis (27/08/2026) – Artikel berjudul “Menyelami Gelisah di Balik Budaya Self-Reward” merupakan karya tulis Ummu Fahhala, S. Pd., seorang Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi yang tinggal di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Jika kita mengamati pola interaksi generasi muda di ruang-ruang publik saat ini, ada satu pemandangan khas yang sukar diabaikan. Di meja-meja kedai kopi bergaya minimalis, anak-anak muda berkumpul membawa gawai tercanggih, mengenakan pakaian bernuansa tren terkini, serta menikmati aneka kudapan eksotis.

Narasi yang sering mengudara di sekeliling mereka adalah tentang pentingnya merawat kesehatan mental, perlunya liburan singkat untuk healing, serta pemberian apresiasi diri melalui self-reward. Namun, ketika perbincangan beralih pada tema yang lebih substantif, seperti proyeksi karier lima tahun ke depan, kemampuan mencicil hunian pertama, atau tabungan masa depan—suasana yang tadinya hangat seketika berubah hening. Ada beban pikiran yang tak kasat mata yang bertengger erat di pundak mereka.

Ummu Pahhala
Ummu Pahhala, Penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Perasaan tidak tenang mengenai kondisi finansial hari ini bukanlah bentuk keluhan tanpa dasar, melainkan cerminan dari realitas terukur. Berdasarkan laporan Survei Deloitte per Mei 2026, lebih dari 48% Generasi Z secara terbuka mengakui bahwa mereka tidak merasa aman secara finansial. Ketidakpastian ini berkelindan erat dengan laju pertumbuhan biaya hidup dan harga barang pokok yang melambung tinggi, sementara kenaikan pendapatan riil masyarakat cenderung berjalan melambat.

Di tengah situasi yang membelenggu tersebut, hadir dinamika perilaku konsumsi emosional. Pengeluaran untuk hal-hal yang memberikan kenyamanan emosional instan justru ditempatkan pada urutan prioritas yang tinggi.

Fenomena ini dipotret secara mendalam dalam ulasan Kompas Money berjudul Gaji Gen Z dan Self-Reward: Menikmati Hidup, Healing, atau Menabung (12 Agustus 2026). Bagi sebagian besar anak muda, self-reward dan healing tidak lagi dimaknai sebagai kemewahan tersier, melainkan telah menjadi mekanisme bertahan hidup (coping mechanism) dari himpitan rutinitas harian. Pergumulan antara dorongan menjaga kesehatan mental dan tuntutan pendewasaan finansial ini juga dipaparkan secara lugas dalam artikel Gen Z dalam Persimpangan Tekanan Ekonomi (3 Mei 2026).

Lantas, pertanyaan mendasar yang timbul adalah: apakah tindakan menenangkan diri melalui konsumsi emosional ini sanggup menyelesaikan akar persoalan? Ataukah ia sekadar menjadi riasan sementara di atas luka yang membutuhkan penanganan lebih mendalam?

Secara sosiologis, gelombang kecemasan ini merupakan buah dari tata kelola kehidupan modern yang menuntut tiap-tiap individu untuk menanggung risiko usahanya secara mandiri. Ketika sebuah ekosistem sosial menyerahkan urusan pemenuhan hak-hak dasar kepada kemampuan finansial masing-masing orang tanpa fondasi jaminan publik yang kuat, timbul ketegangan psikologis yang meluas di tengah masyarakat.

Ilustrasi: Cermin kehidupan generasi masa kini yang gemar healing dan melakukan self-reward – (Sumber: BJN)

Tekanan tersebut diperparah oleh penetrasi media digital yang tiada henti menyuguhkan tolok ukur kesuksesan berbasis materi semata. Fenomena dorongan takut tertinggal (Fear of Missing Out) memprovokasi pikiran bahwa seseorang baru dianggap berhasil apabila sanggup mengikuti ritme gaya hidup yang serba konsumtif.

Perspektif Islam

Dalam perspektif Islam, penataan hidup yang menjadikan kenikmatan fisik dan kepemilikan materi sebagai tujuan tertinggi adalah bentuk kekeliruan dalam membaca makna keberadaan manusia. Keterikatan berlebihan pada hal-hal fana tidak akan pernah mendatangkan kedamaian batin yang sejati.

Al-Quran menyampaikan pesan reflektif yang sangat tajam mengenai tabiat manusia yang terbuai oleh perlombaan kebendaan: “Bermewah-mewahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (Q.S. At-Takatsur [102]: 1-2)

Rasulullah saw. juga mengingatkan bagaimana jiwa yang hanya berorientasi pada kemegahan fisik tidak akan pernah merasa cukup jika tidak dibentengi oleh ketakwaan, “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia menginginkan lembah yang kedua. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya kecuali tanah (kematian), dan Allah menerima tobat bagi siapa saja yang bertobat.” (H.R. Bukhari no. 6439 dan Muslim no. 1048).

Krisis terberat yang melanda sebagian pemuda hari ini pada hakikatnya adalah krisis orientasi tujuan. Ketika makna hidup disempitkan hanya pada pencapaian kebendaan dan pengakuan sosial semata, jiwa akan terus-menerus merasa hampa.

Untuk mengurai persoalan ini secara bijak, kita memerlukan pendekatan menyeluruh yang menyentuh ranah kesadaran personal sekaligus pembenahan paradigma pelayanan publik, diantaranya:

Pertama, mengembalikan kompas spiritual individu. Prinsip Islam membimbing manusia agar memerdekakan jiwanya dari penentuan nilai buatan manusia. Hakikat penciptaan manusia di muka bumi adalah untuk mengabdi kepada Allah Swt. serta menjadikan setiap hembusan napasnya berilai ibadah. Allah Swt. berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 56).

Melalui akidah yang kokoh, seorang pemuda memiliki pijakan moral yang teguh. Ia tidak akan mudah merasa rendah diri saat berhadapan dengan tekanan sosial atau tren popularitas semu. Apresiasi diri (self-reward) yang sejati bukanlah dengan menghabiskan daya pada hal-hal yang mubazir, melainkan dengan menghadirkan ketenangan jiwa melalui pendekatan diri kepada Pencipta, sebab hanya dengan mengingat Allah hati akan menemukan muara kedamaian. (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28).

Kedua, tanggung jawab pelayanan publik yang berkeadilan. Pada ranah tata kelola publik, kepemimpinan dipandang sebagai amanah pengurusan (ra’in) yang berkewajiban menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kesejahteraan rakyatnya. Rasulullah saw. Menegaskan, “Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhari no. 893 dan Muslim no. 1829).

Model pengurusan yang menentramkan jiwa warga meliputi:

Pertama, pengelolaan sumber daya umum untuk kemakmuran bersama. Kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak dikelola secara transparan dan berkeadilan oleh negara, lalu hasilnya dialokasikan untuk membiayai fasilitas publik, pendidikan berkualitas, serta sarana kesehatan yang terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kedua, jaminan pembukaan lapangan kerja yang layak. Negara mendorong iklim perekonomian yang produktif dan menyediakan lapangan kerja yang adil, sehingga generasi muda tidak dibiarkan bertarung sendirian tanpa kepastian masa depan.

Ketiga, edukasi media yang membangun integritas. Narasi ruang publik dan media massa difokuskan untuk mendidik karakter, menumbuhkan kecerdasan, dan memupuk nilai moral, alih-alih memicu konsumerisme impulsif yang merusak mentalitas generasi.

Penutup

Generasi Z adalah penopang masa depan peradaban yang menyimpan potensi daya cipta dan keahlian tinggi. Sungguh sebuah kerugian apabila energi besar mereka habis teralokasikan hanya untuk meredam cemas ekonomi harian melalui pelarian sementara.

Melalui refleksi atas pemaknaan hidup dan kepedulian bersama dalam menyempurnakan tata kelola publik, kita meyakini generasi muda dapat bangkit menjadi pribadi yang tangguh secara spiritual, mandiri secara finansial, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan peradaban. (Ummu Fahhala).

***

Judul: Menyelami Gelisah di Balik Budaya Self-Reward

Penulis: Ummu Fahhala, S. Pd., Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi

Editor: JHK