BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA, Senin (12/10/2026) – Cerpen berjudul “Liefje WIM: Bagian 6” ini merupakan karya tulis Dewi Tri Handayani, S.T., seorang pejuang lingkungan yang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Wim adalah nama yang sulit hilang dari sanubariku. Bahkan, sudah delapan tahun kematiannya, dia selalu tampak hadir, baik saat di keramaian maupun dalam kesendirian. Dua hari yang lalu dia datang dalam mimpi. Semua tampak jelas. Bahkan, dia menyapaku seperti biasa, “Hoooiii, ben je alleen?” (Hai, apakah kamu lagi sendiri?)
Saat pagi menjelang siang adalah cuaca yang paling disukai Wim. Kebanyakan Nederlander memang sering bangun siang.
Aku ingat apa saja yang ada di meja makan saat kami ontbijten (sarapan), tersaji dengan rapi oleh bediende (pembantu) kami, Mang Ade, yaitu broodje met muisjes (roti dengan meses) juga telur rebus setengah matangnya. Bahkan, Wim pernah geleng-geleng kepala saat aku siapkan ontbijten dengan nasi goreng. Wat heft hij gezegd? Apa yang dia katakan? Het is erg vreemd om “s ochtends gebakken rijst te eten. (Aneh banget pagi-pagi makan nasi goreng).
Wim Adalah laki-laki full of love, jiwanya yang sangat bersih. Bahkan, saat kami melewati fly over Cimindi, dan toevallig (kebetulan) di depan mobil kami ada pedati/delman. Saat itu, kusir sedang mencambuk badan kuda untuk terus berjalan, apa yang kulihat? Ada genangan air mata diujung matanya dan sejak saat itu kami tidak mau lagi lewat sana.
Wim sosok pribadi yang bersih, rapi, dan sopan. Dia selalu mempersiapkan semua barang-barang bawaannya sebelum berangkat kemanapun. Bahkan, gunting kuku kecil, cotton bud dan alat kikir kuku. Aku selalu mengatakannya sebagai orang antique.
Kami pernah melewati jembatan Cimindi sebelumnya. Saat mobil kami turun, ada roda mobil yang kami kira dari kendaraan lain, menggelinding di samping mobil kami. Kami sempat terheran-heran dan merasa kasihan ke pemilik mobil itu yang pastinya kehilangan satu roda/ban mobilnya. Namun, tak lama kemudian ada motor di samping mobil kami yang memberitahukan bahwa ban tersebut malah berasal dari mobil kami yang membuat kami berdua tidak berhenti tertawa, heel grappig (lucu sekali).
Semua peristiwa tentang Wim terekam dengan jelas dan dia seperti tidak pernah pergi. Semangatnya, rasa kasih sayangnya selalu menemani. Terkadang aku bingung, aku seperti hidup tanpa arah setelah kematiannya. Yang selalu kubayangkan, Wim pasti datang kembali entah kapan.
Dankje zeer Wim, bedank voor je liefde, je genegenheid en alles (Trima kasih banyak Wim, trima kasih untuk cintamu, kasih sayangmu dan semuanya.
Bedankt dat je er voor me bent ( Terima kasih pernah hadir untukku )
***
Judul: Liefje WIM: Bagian 6
Penulis: Dewi Tri Handayani, S.T.
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Dewi Tri Handayani bukanlah orang asli Cimahi. Ia sama sekali tak membayangkan kalau akhirnya akan tinggal di kota ini. Namun, jodohlah yang telah menuntunnya hadir dan menjadi bagian dari kisah yang tumbuh di sini.

Di Kota Cimahi ini, Dewi tidak hanya menemukan rumah, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Selain budaya Sunda yang hangat dan penuh kearifan, ia belajar memahami budaya lain yang turut mewarnai perjalanan hidupnya. Dari sana, ia mengenal bahasa ibu yang berbeda. Bahkan, bahasa Belanda yang pernah begitu dekat dalam kesehariannya.
Waktu berjalan, dan perlahan banyak kenangan tentang Belanda mulai memudar dari ingatan Dewi. Meski demikian, jejak tentang negeri bunga tulip tersebut tetap terukir dalam relung hatinya yang paling dalam. Ada nilai, cerita, dan rasa yang tidak pernah benar-benar hilang, sekalipun jarak dan waktu terus berlalu.
Kini, wanita yang terlihat selalu ceria ini mencintai kedua budaya itu dengan cara yang istimewa. Keduanya telah membentuk cara pandang Dewi, memperkaya jiwanya, dan menjadi bagian dari identitas yang melekat dalam dirinya. Menurutnya, mengenal dua budaya ini sama artinya dengan mengenal dirinya sendiri—lebih dalam, lebih utuh, dan lebih bermakna.
***