BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Selasa (11/08/2026) – Artikel “Menjinakkan Kebosanan, Menyapa Keheningan” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Ada satu wajah kecemasan yang jarang kita akui: ketakutan terhadap kebosanan. Di tengah derasnya arus notifikasi, musik instan, dan layar yang tak pernah padam, manusia modern seolah alergi terhadap jeda. Keheningan dianggap ancaman, bukan ruang, padahal seperti diingatkan Blaise Pascal, distraksi hanyalah “divertisement”—cara kita melarikan diri dari kesendirian yang menuntut refleksi.
Berabad-abad kemudian, Bertrand Russell menegaskan bahwa rasa takut akan kebosanan justru melahirkan perilaku destruktif. Ia melihat bagaimana manusia yang tak sanggup menanggung hening mencari stimulasi berlebihan, hingga melemahkan kapasitas mentalnya sendiri. Kecemasan pun tumbuh dari ketidakmampuan untuk duduk diam bersama diri.
Søren Kierkegaard menambahkan lapisan lain: pelarian dari kebosanan adalah siklus tanpa ujung, mirip rotasi tanaman yang terus dipindahkan agar tak layu. Ia menyebutnya “Bad Infinite”—perputaran tanpa kepuasan sejati. Kita berganti stimulus, berganti layar, berganti aktivitas, namun tetap merasa kosong. Bukankah ini potret sehari-hari kita yang tak bisa menunggu tanpa menggenggam ponsel?
Martin Heidegger kemudian mengajak kita menatap kebosanan lebih dalam. Ia membedakan tiga tingkatan: kebosanan spesifik (misalnya menunggu kereta), kebosanan kosong setelah aktivitas, dan kebosanan mendalam. Pada tingkatan terakhir, manusia dipaksa berhadapan dengan eksistensinya sendiri. Pertanyaan tentang makna hidup muncul bukan dari jawaban instan, melainkan dari keberanian menahan diri dalam hening. Kebosanan mendalam, bagi Heidegger adalah pintu menuju kesadaran eksistensial.
Namun, di era algoritma, pintu itu nyaris tertutup. Teknologi menawarkan pelarian instan: satu klik, satu gulir, satu hiburan baru. Kita jarang memberi kesempatan bagi kebosanan mendalam untuk hadir, padahal justru di sanalah ruang refleksi terbuka. Keheningan bukan musuh, melainkan sahabat yang menyingkap lapisan terdalam keberadaan.
Mungkin yang kita butuhkan bukan lagi stimulasi baru, melainkan keberanian sederhana: duduk tanpa earphone, menunggu tanpa layar, memandang hujan tanpa mengabadikan. Latihan kecil ini mengembalikan kita pada ritme yang lebih manusiawi. Seperti kata Kierkegaard, “kesunyian adalah bahasa yang paling jujur.” Dalam kejujuran itu, kita menemukan makna yang tak bisa diberikan oleh algoritma.
Kebosanan, jika dijinakkan, bukanlah kekosongan. Ia adalah ruang kosong yang menunggu diisi oleh kesadaran. Pascal, Russell, Kierkegaard, dan Heidegger seakan bersepakat: pelarian dari kebosanan hanyalah pelarian dari diri. Oleh karena itu, mungkin tugas kita hari ini bukan mencari distraksi baru, melainkan belajar menyapa keheningan karena di sanalah, di ruang yang sering kita hindari, makna hidup berbisik pelan, menunggu untuk didengar.
***
Judul: Menjinakkan Kebosanan, Menyapa Keheningan
Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.
Editor: JHK
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.
Aktifitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***