BERITA JABAR NEWS (BJN), Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (11/08/2026) – Membuat sebuah karya hebat di sekolah kejuruan bukanlah akhir dari proses pembelajaran. Di era digital, siswa dituntut tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memiliki kemampuan memperkenalkan, memasarkan, dan membaca peluang pasar dari karya yang mereka hasilkan.
Semangat itulah yang terlihat dalam kegiatan program Bina Desa Universitas Telkom yang dilaksanakan di SMK YPPS Sumedang, Selasa, 11 Agustus 2026. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (Abdimas) tersebut, para siswa diperkenalkan pada pemanfaatan literasi digital, analitik media sosial, serta perangkat berbasis kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) untuk mengembangkan karya sekolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.
Selama ini, karya siswa SMK sering kali berhenti sebagai tugas praktik. Produk yang dibuat dengan penuh kreativitas di ruang praktik tata busana, tata boga, maupun bidang keahlian lainnya terkadang hanya menjadi dokumentasi setelah ujian atau penilaian selesai.
Melalui program tersebut, pola pikir itu mulai diarahkan untuk berubah. Siswa diajak memahami bahwa sebuah produk yang bagus membutuhkan strategi agar dikenal dan memiliki peluang diterima masyarakat.

Siswa jurusan tata busana, misalnya, tidak hanya belajar membuat pakaian dengan jahitan yang rapi. Mereka juga didorong untuk memahami bagaimana sebuah karya dapat ditampilkan secara menarik di media sosial. Demikian pula siswa tata boga yang tidak sekadar membuat camilan lokal, tetapi mulai belajar mengenali siapa calon konsumen yang kemungkinan tertarik terhadap produk tersebut.
Menariknya, proses tersebut tidak harus dilakukan dengan perangkat mahal. Para siswa dapat memanfaatkan sejumlah aplikasi digital yang relatif mudah digunakan.
Melalui ChatGPT dan Gemini, siswa dapat melakukan brainstorming ide, menyusun konsep konten, membuat rancangan caption, hingga menyusun jadwal unggahan. Sementara itu, Canva dapat digunakan untuk membuat poster dan materi promosi dengan memanfaatkan foto asli hasil karya siswa.
Untuk kebutuhan video, CapCut menjadi salah satu pilihan untuk mengedit dokumentasi kegiatan praktik agar lebih menarik ketika ditampilkan di media sosial, sedangkan Meta Business Suite membantu siswa mengenali karakteristik audiens melalui data sederhana mengenai jangkauan, tayangan, dan interaksi terhadap konten.
Pendekatan tersebut membuat siswa tidak lagi sekadar mengunggah foto atau video kemudian menunggu respons. Mereka mulai belajar membaca data. Misalnya, melalui fitur insight pada platform media sosial, siswa dapat mengetahui kelompok audiens yang melihat konten mereka. Dari sana, mereka bisa mendapatkan gambaran apakah produk atau konten yang dibuat lebih banyak menarik perhatian pelajar, anak muda, masyarakat di Sumedang, atau kelompok pengguna lainnya.
Kolom komentar juga tidak lagi dipandang sekadar sebagai ruang respons. Bagi siswa tata busana, komentar masyarakat dapat menjadi sumber masukan untuk pengembangan desain berikutnya. Jika konsumen menyukai model pakaian yang modern, tetapi menginginkan pilihan warna yang lebih cerah, masukan tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam menciptakan produk baru.
Dengan demikian, media sosial bukan hanya menjadi tempat memajang hasil karya, tetapi juga dapat berfungsi sebagai ruang riset pasar sederhana.
Mengubah Tugas Menjadi Peluang Ekonomi
Pembelajaran tersebut memberikan perspektif baru kepada siswa bahwa keterampilan vokasi dan literasi digital sebenarnya dapat berjalan beriringan. Kemampuan menjahit, memasak, mendesain, atau menghasilkan produk kreatif lainnya dapat menjadi modal awal untuk memasuki dunia usaha apabila dibarengi kemampuan membangun komunikasi dengan calon konsumen.
Para siswa juga diperkenalkan pada metrik sederhana, seperti Content Engagement Rate, untuk memahami seberapa besar audiens yang benar-benar memberikan respons terhadap sebuah konten dibandingkan dengan jumlah orang yang melihatnya.
Konsep sederhana tersebut penting karena siswa belajar bahwa banyaknya penonton belum tentu menunjukkan sebuah konten berhasil. Interaksi, komentar, penyimpanan, pembagian konten, maupun respons calon konsumen juga dapat menjadi indikator yang perlu diperhatikan.
Program Bina Desa Universitas Telkom di SMK YPPS Sumedang pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang teknologi. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun pola pikir kewirausahaan dan kesiapan siswa menghadapi dunia kerja yang semakin terdigitalisasi.

Kolaborasi antara keterampilan teknis, kreativitas, pemanfaatan media sosial, dan kecerdasan artifisial membuka peluang bagi siswa untuk melihat karya sekolah dari perspektif yang lebih luas.
Siswa tidak lagi hanya ditanya, “Apa yang bisa kamu buat?”, tetapi juga mulai diajak berpikir, “Siapa yang membutuhkan karya ini, bagaimana cara memperkenalkannya, dan bagaimana menjadikannya bernilai?”
Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah dosen Universitas Telkom, yakni Ratih Hendayani, S.T., M.M., Ph.D., Deannes Isynuwardhana, S.E., M.M., Ph.D., Dr. Grisna Anggadwita, S.T., M.S.M., dan Kharisma Ellyana, S.M.B.
Melalui pendampingan tersebut, SMK YPPS Sumedang menunjukkan bahwa pendidikan vokasi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang terampil membuat produk. Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat, siswa juga perlu dibekali kemampuan untuk mengenalkan karya, membaca kebutuhan pasar, memanfaatkan teknologi, dan mengubah kreativitas menjadi peluang.
Sebuah karya yang hebat mungkin lahir dari ruang praktik sekolah. Namun, ketika kreativitas bertemu literasi digital, karya itu memiliki kesempatan untuk melangkah lebih jauh—keluar dari bengkel sekolah dan menemukan tempatnya di tengah kehidupan ekonomi yang sesungguhnya.
***
Judul: Pengenalan Social Media Analytics dengan AI untuk Pengembangan Brand Siswa di SMK YPPS Sumedang
Kontributor: Asep (HC) Arie Barajati
Editor: JHK