BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Minggu (16/08/2026) – Artikel berjudul “Perlombaan Hari Kemerdekaan: Parodi Rakyat Kecil” merupakan karya Neneng Salbiah, seorang tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika yang juga merupakan seorang ibu rumah tangga – ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.
Setiap kali tujuh belas Agustus tiba, riuh tawa dan tepuk tangan memenuhi setiap sudut penjuru negeri. Di antara deretan perlombaan yang disiapkan—balap karung, tarik tambang, hingga lomba makan kerupuk—selalu ada yang paling ditunggu. Peserta berdiri tegak, tangan di belakang punggung, mata terpaku pada sebutir kerupuk yang menggantung di ujung tali.
Saat aba-aba dimulai, mereka berusaha menggapai, menyambar dengan mulut. Namun, setiap kali hampir menyentuh, tali itu digoyangkan perlahan. Kerupuk menjauh lagi. Kerupuk itu seolah tersenyum mengejek, sementara peserta terengah-engah, berkeringat, berusaha keras, tetapi tak pernah benar-benar menggenggamnya.

Kita menertawakan pemandangan itu. Kita menganggapnya sekadar hiburan, sekadar cara merayakan kemerdekaan dengan canda tawa. Namun, jika kita mau menatap lebih dalam, ada satu kebenaran pahit yang terselip di baliknya: perlombaan itu bukan sekadar permainan. Itu adalah parodi nyata dari kehidupan rakyat kecil yang setiap hari berjuang hanya untuk sesuap nasi.
Sama seperti peserta lomba, kita berlari, kita berusaha, kita bekerja sekuat tenaga. Namun, setiap kali harapan itu hampir menyentuh bibir—setiap kali rezeki terasa sudah di depan mata—selalu ada tangan tak kasat mata yang menggoyangkan tali itu. Kebijakan yang berubah-ubah, aturan yang tumpul pada yang lembut. Namun, tajam pada yang kecil.
Keputusan yang dibuat di ruangan ber-AC tanpa pernah merasakan panasnya matahari mereka yang bekerja di luar sana. Kita dipermainkan oleh sistem yang seolah memberi harapan, namun sebenarnya tak pernah benar-benar bermaksud memberikannya.

Negeri ini dikaruniai tanah yang begitu subur, sungai yang tak pernah kering, laut yang kaya raya, dan sumber daya yang melimpah ruah. Dari ujung Sabang sampai Merauke, alam seolah terbuka lebar menyuguhkan segala yang dibutuhkan manusia. Negeri ini seharusnya tak pernah mengenal kelaparan.
Negeri ini seharusnya menjadi tempat di mana kerja keras selalu berbalas pantas. Namun ironinya, justru di tengah kemakmuran alam itulah rakyat kecil dipaksa hidup dalam kesempitan. Bukan karena mereka enggan berusaha, bukan karena mereka malas bangun sebelum matahari terbit, melainkan karena pintu-pintu kesempatan itu dipasangi kunci yang hanya dimiliki oleh segelintir orang.
Banyak dari kita yang terjebak dalam pandangan keliru: bahwa kemiskinan lahir dari kemalasan, padahal kenyataannya ribuan orang sudah berjalan jauh sebelum fajar menyingsing, pulang saat malam telah larut. Namun, penghasilannya tak pernah cukup untuk menutup bulan. Mereka bekerja sekuat tenaga, namun harga kebutuhan melangit lebih cepat daripada kenaikan upah. Mereka ingin berusaha lebih jauh, namun lapangan pekerjaan semakin sempit dan tertutup.
Hal yang paling memilukan adalah saat anak-anak muda—harapan masa depan bangsa—mulai melangkah mencari jalan hidup. Mereka membawa ijazah, membawa mimpi, membawa semangat yang belum pudar. Namun, apa yang mereka temui? Pintu-pintu perusahaan bertuliskan syarat yang terasa seperti lelucon: “Dibutuhkan tenaga kerja baru dengan pengalaman minimal dua tahun.”
Bagaimana mungkin seorang pemuda baru lulus bisa mendapatkan pengalaman jika kesempatan saja tak pernah diberikan padanya? Seperti meminta anak kecil berenang sebelum pernah disentuh air. Seperti meminta mereka meraih kerupuk itu dengan tangan terikat.
Bukan soal mereka tak mampu belajar. Bukan soal mereka tak mau bekerja keras, tetapi sistem ini seolah menuntut mereka sudah sempurna. Bahkan, sebelum mereka memulai langkah pertama.
Bagi mereka yang tak memiliki kenalan, tak memiliki uang untuk melicinkan jalan, tak memiliki nama besar di belakangnya—perjuangan itu terasa semakin berat. Kerupuk itu terlihat begitu dekat, tetapi tali itu terus digoyangkan. Harapan itu terus dijauhkan, berulang kali, hingga akhirnya semangat itu perlahan layu dan putus asa mulai merayap.

Kita berteriak merdeka setiap tahunnya. Kita kibarkan bendera dengan gagah. Namun, kemerdekaan macam apa ini, jika rakyatnya masih harus merangkak demi memenuhi perut sendiri? Kemerdekaan macam apa, jika kebijakan negara justru terasa seperti rantai yang mengikat langkah mereka yang paling lemah?
Kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajah asing. Kemerdekaan sejati adalah ketika setiap orang berhak menikmati hasil keringatnya dengan adil. Ketika usaha yang sungguh-sungguh selalu berbalas kebahagiaan, bukan penderitaan yang tak berkesudahan.
Lomba makan kerupuk mungkin akan selesai saat hari itu usai. Pemenang akan mendapatkan hadiah kecil, dan penonton akan pulang dengan senyum. Namun, perlombaan kehidupan yang kita jalani tak pernah berhenti begitu saja. Setiap hari kita kembali berdiri, kembali berusaha menyambar harapan yang digantungkan di depan mata, sementara tangan yang memegang tali itu masih saja asyik menggerakkannya sesuka hati.
Mungkin suatu hari nanti, tali itu tak lagi digoyangkan. Mungkin suatu hari nanti, kerupuk itu benar-benar sampai ke mulut mereka yang berjuang dengan jujur dan tulus. Mungkin suatu hari nanti, kebijakan yang dibuat tak lagi menjadi penghalang, melainkan menjadi jembatan yang mempertemukan usaha rakyat dengan kesejahteraan yang layak mereka terima.
Sampai saat itu tiba, biarlah kita tak hanya tertawa melihat perlombaan itu. Biarlah itu menjadi pengingat yang menyakitkan sekaligus membangunkan: bahwa masih banyak saudara kita yang hidupnya tak lebih dari sekadar sandiwara—dipermainkan keadaan, dipinggirkan aturan, tetapitetap bertahan, tetap berusaha, dan tetap berharap agar suatu hari nanti, mereka benar-benar bisa mengenyangkan diri dari hasil kerja keras mereka sendiri, tanpa harus dikecewakan lagi oleh harapan yang dijauhkan.
***
Judul: Perlombaan Hari Kemerdekaan: Parodi Rakyat Kecil
Penulis: Neneng Salbiah
Editor: JHK
Sekilas tentang pengarangWanita kelahiran Bogor, 02 Juni 1978 bernama lengkap Neneng Salbiah ini aktif menulis artikel dan novel di berbagai platform. Tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika ini juga merupakan seorang ibu rumah tangga, ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.