BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA – Cerpen berjudul “Seragam di Balik Toga”merupakan karya original dari Neneng Salbiah yang sering menggunakan nama nama pena “Violet Senja”. Cerpen lainnya bisa Anda lihat di sini: “Anak Kopaja Sejati”, “Perempuan di Ujung Belati”, dan “Kupersembahkan Kenikmatan Terakhir untuk Bapak”.
Lautan ombak kerusuhan menerjang Ibu Kota. Berbagai orasi dan yel-yel menentang kebijakan-kebijakan pemerintah lantang disuarakan para mahasiswa. Sang pejabat negara dengan wajah tenang memandang ke arah para demontran, berdampingan dengan seorang jenderal militer setianya. Sorot mata tajam seolah mengeluarkan satu ancaman kepada siapa pun yang berani berkoar-koar bak pahlawan kesiangan maka akan segera dibumilenyapkan. Mataku tajam menatap sang jenderal dari kejauhan, lalu berbalik menerobos keluar dari kerumunan.
Belasan tahun lalu, tidak ada hal yang lebih membanggakan selain seragam yang dikenakan Ayah. Aku tidak mengenal sosok Ibu. Ayah bilang, Ibu meninggal saat melahirkanku. Setiap pagi, sebelum Ayah berangkat tugas, Aku selalu memanjat kursi diruang tamu, menyisir lipatan kerah kain tanpa bintang di bahu dengan jemari kecilku, membetulkan papan nama dan lencana dengan penuh kehati-hatian.

“Ayahku adalah pelindung masyarakat. Ayahku menjaga keamanan dan keadilan!” Suara lantangku dihadapan teman-teman sekolah.
Tak jarang aku menunggu diberanda rumah hingga larut malam, menanti langkah kaki yang sangat kukenal. Saat pintu terbuka, kulihat wajah Ayah yang lelah dengan tatapan mata sayu. Namun, ada senyum yang tak pernah luntur.
Kini semua berubah. Seiring berjalannya waktu, karier Ayah sebagai abdi negara berkembang pesat dan aku tumbuh dewasa di bawah asuhannya – sang Jenderal. Aku tumbuh dengan karakter tak jauh darinya, tegas dan keras kepala menjadi ciri khas kami berdua.
Aku begitu bangga memiliki Ayah seorang jenderal militer. Sayang kebanggaan itu lenyap setelah aku aktif diorganisasi kemahasiwaan dan terpilih menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa. Banyak berita tersembunyi yang kubaca, mendengar keluh kesah rakyat yang tak tersampaikan, melihat ketimpangan yang menyakitkan.
Aku mulai meyadari bahwa kata “Keadilan” seringkali hanya hiasan dimulut penguasa. Aturan yang ditegakkan kadang justru menjadi prisai bagi mereka yang berkuasa untuk menindas yang lemah. Aku menyebutnya sistem ini oligarki – kekuasaan yang berputar di tangan segelintir orang, sementara rakyat kecil hanya bisa menelan pahit.
Perlahan seragam yang dulu kupuja mulai terasa asing. Bahkan, sungguh menyakitkan. Aku melihat ini bukan lagi pelindung, melainkan sebagai alat yang menjaga sistem itu berdiri tegak.
***
Keheningan selalu terjadi tiap kali aku bertemu dengannya di rumah. Melihatnya, aku seakan ditikam dan ditenggelamkan diam-diam. Bayangan Ayah yang berdiri tegap di samping penguasa membuatku ingin segera pergi meninggalkannya – seolah tak ingin menerima kenyataan. Namun, ini sudah takdir yang digariskan. Haruskah aku pura-pura menerima kenyataan?
“Ayah tahu apa yang ingin kamu pertanyakan, Ran,” ucap Ayah pelan, suaranya berat.
“Ayah hanya menjalankan tugas, menjaga ketertiban, menjaga agar tidak ada kerusuhan yang mencelakai orang tak bersalah.”
“Menjaga ketertiban siapa Yah?” Potongku tajam, “Menjaga kenyamanan mereka yang berkuasa, bukan? Ayah menegakkan aturan yang tidak adil, lalu menyebutkan tugas!” Suaraku tercekat ditenggorokan. Napasku naik turun, tak setbil. Air mata tak terbendung.
Ayah terdiam. Keheningan mulai mengukur. Hanya tersisa detik jam peramai ruangan. Matanya menatapku – anak perempuannya yang kini berdiri dihadapannya dengan sikap menantang, seolah melihat sosok yang berbeda dari yang ia kenal.
“Tugas Ayah bukan menilai kebijakan, Nak. Tugas Ayah menjalankan amanah. Percayalah, tidak semua yang dilihat dipermukaan itu yang sebenarnya terjadi.”
Bagiku kata-kata itu terdengar seperti pembelaan diri yang menyedihkan. Aku merasa kecewa, bukan hanya pada sistem, tapi pada Ayahku sendiri, pada profesi yang dulu aku banggakan seumur hidup. Aku merasa ada tembok tinggi yang tiba-tiba terbangun di antara kami.
Berapa hari setelah perdebatan panjang antara aku dengan sang Jenderal yang membuatku semakin muak. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan rumah. Kos-kosan sederhana berukuran 4×4 meter persegi menjadi tempat tinggalku. Tak jarang tempat kecil itu menjadi basecamp teman-teman aktivis mahasiswa untuk berdiskusi dan membakar semangat reformasi. Ruangan pengap itu seakan ikut bergetar risau menyaksikannya.
Dengan dalih sibuk kegiatan kuliah, komunikasi kami pun nyaris terputus. Namun, aku yakin hatinya tahu kalau aku hanya ingin menjauh. Tak sanggup lagi aku melihat seragam Ayah yang tergantung di balik pintu kamarnya. Tak sanggup bertatap mata dengan laki-laki yang menurutku memihak kepada lawan. Pesan singkatnya selalu kuabaikan.
Kali ini aku kembali dihadapkan dengan kenyataan. Demonstrasi besar-besaran, ribuan mahasiswa turun kejalan, termasuk aku yang lantang berteriak menuntut perubahan. Asap kembang api, suara orasi, dan kepanikan bercampur menjadi satu. Seketika mataku menangkap barisan di belakang aparat yang menghadang. Di sana berdiri tegak di antara rekan-rekannya adalah sang Jenderal yang pernah menjadi kebanggaanku.
Wajahnya terlihat kaku. Sorot matanya tajam mengawasi kerumunan. Namun, dibalik ketegasan itu aku menangkap kilatan kecemasan yang tidak dapat disembunyikan. Seolah-olah mencari sosok di tengah lautan orang yang asing.
Hatiku terasa diremas keras, sesak, sakit, dan hancur bercampur malu. Di satu sisi aku berdiri bersama teman-teman yang berjuang menuntut kebenaran dan di sisi lain sosok yang melahirkanku kini berdiri di seberang garis pertempuran, seolah menjadi musuh yang harus kuhadapi. Sejak saat itu aku dan Ayah tidak pernah lagi bertemu.
***
Hari berlalu, bulan berganti. Dalam kesendirian, dikeheningan yang dingin. Aku menyelesaikan skripsi dengan usaha yang tak mudah. Rasa bersalah mulai merambat menghantui jiwa dan batinku. Rasa bersalah kerap kali menyelinap itu masuk dalam penyesalan di sela istirahat. Hingga tibalah hari di mana aku wisuda.
Panggung itu megah, toga hitam beralu di tubuhku, topi kebesaran di kepala. Aku berdiri di antara wisudawan, merasakan kebanggan yang seharusnya utuh. Namun, hatiku terasa kosong. Ekor mataku menyapu wajah-wajah orang tua yang tersenyum bangga di bawah panggung. Kucari sosok yang tak pernah berhenti kurindukan meski di tengah kemarahan.
Di sana, di sudut paling belakang, berdiri seorang pria, mengenakan seragam dinasnya. Pangkat bintang empat dan berbagai tanda jasa dikedua pundak, serta dada kirinya terlihat berkilau indah diterpa lampu sorot ruangan. Topi khusus ciri khas seorang jenderal militer, menambah bau ketegasannya.
Ayah berdiri tegak meski bahunya terlihat sedikit merosot dimakan usia dan lelah. Matanya terus menatap ke atas panggung seakan tak rela meski sekadar untuk mengedipkan mata, pancaran haru berusaha menahan air mata agar tak luruh.
Seketika segala kebencian, kebingungan, dan tembok yang terbangun selama ini runtuh seketika. Ingatanku tentangnya satu persatu tampil dipelupuk ingatan bagai slide presentasi. Setiap lembar uang sekolah yang tidak pernah telat, buku-buku yang kubaca, tempat tidur yang hangat saat kecil, semua berasal dari keringat, lelah, dan pengorbanan seorang pria yang sedang berdiri di sana. Seragam yang kini kupandang sinis adalah punggung yang menopang setiap langkahku hingga berdiri di sini, di atas pangung besar dengan mengenakan toga.

Ayah mungkin tak bisa mengubah sistem yang besar itu. Ayah mungkin tak berkuasa menulis kebijakan atau menentukan arah negara. Namun, ia telah menjalankan tugasnya dengan cara yang paling tulus. Menjaga keluarganya, berjuang dengan cara yang ia pahami, dan tak pernah sekalipun berhenti mencintaiku sebagai anaknya. Meski pernah berpaling.
Namaku dipanggil untuk menerima Ijazah. Air mataku jatuh di sela senyum, bukan senyum kemenangan atas perlawanan, melainkan senyum pengakuan, senyum rindu yang tak terucap.
Seusai acara, aku berjalan menuju sudut tempat Ayah berdiri. Saat tepat berdiri di hadapannya, aku berlari menghambur kepelukannya. Tangisku pecah air mataku membasahi dada yang masih terlihat kokoh, tak lagi kupedulikan tatapan orang-orang di sekitar.
“Maafkan Rana, Yah,” bisikku belan diselak isak yang tertahan. “Rana paham sekarang…. seragam Ayahlah yang mengantarkan Rana hingga ada di sini.”
Ayah merangkulku lebih erat, seolah kehilangan. Aku merasakan detak jantung yang telah lama hilang, hangat, tenang, dan tak pernah berubah. (Violet Senja).
***
Judul: Seragam di Balik Toga
Pengarang: Neneng Salbiah
Editor: JHK
Sekilas tentang pengarang
Wanita kelahiran Bogor, 02 Juni 1978 bernama lengkapNeneng Salbiah ini aktif menulis artikel dan novel di berbagai platform. Tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika ini juga merupakan seorang ibu rumah tangga, ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.