BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Selasa (11/08/2026) – Artikel berjudul “Di Manakah Letak Kemerdekaan yang Sesungguhnya?” merupakan karya Neneng Salbiah, seorang tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika yang juga merupakan seorang ibu rumah tangga – ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.
Di bawah langit yang masih berwarna merah putih setiap bulan Agustus, kita terus mengulang satu kalimat sakti: “Kita sudah merdeka.” Bendera dikibarkan dengan gagah, lagu kebangsaan dikumandangkan dengan lantang, pidato-pidato penuh semangat mengalir di setiap sudut negeri. Namun, di tengah hiruk-pikuk perayaan itu, ada satu pertanyaan yang terus berbisik pelan, menembus riuhnya suara terompet dan tepuk tangan: Apakah kemerdekaan yang sesungguhnya telah benar-benar kita genggam?
Pertanyaan apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka memang menarik untuk dijawab. Secara politik dan hukum, Indonesia telah merdeka sejak Proklamasi Kemerdekaan pada 1945. Namun, jika kemerdekaan diartikan dengan lebih luas—seperti mencakup aspek sosial, ekonomi, dan budaya—maka Indonesia dapat dikatakan sepenuhnya belum merdeka. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Oleh karena itu, perjalanan panjang bangsa ini menuju kemerdekaan yang utuh akan terus berlanjut, diwarisi dari generasi ke generasi yang akan datang.

Kita diajarkan bahwa merdeka berarti bebas dari belenggu penjajah. Bahwa kemerdekaan diraih dengan darah dan air mata, dengan senjata di tangan dan tekad di dada. Namun hari ini, setelah puluhan tahun berlalu sejak hari suci itu, kita mulai menyadari satu hal: Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajah asing. Bukan hanya sekadar kemenangan perang dan pengangkatan senjata. Merdeka adalah ketika setiap anak bangsa bebas dari belenggu kemiskinan, bebas dari kebodohan, bebas dari rasa takut dan putus asa. Hal itulah yang kini terasa semakin jauh dari genggaman.
Lihatlah ke sekeliling. Harga kebutuhan pokok terus melangit, seolah tak ada lagi yang mampu menahannya. Sembako yang seharusnya menjadi hak setiap warga negara, kini menjadi kemewahan yang harus diperjuangkan dengan keringat dan air mata.
Para orang tua pulang ke rumah dengan wajah lelah, menatap daftar pengeluaran yang semakin panjang, sementara penghasilan seakan tak pernah mampu mengejar kenaikan harga yang terus berpacu dengan waktu. Ekonomi yang dikatakan semakin membaik. Namun, hal yang dirasakan rakyat justru semakin sulit sekadar untuk memenuhi perut dan memberi makan keluarga.
Belum lagi biaya pendidikan yang seakan tak lagi berpihak pada rakyat kecil. Angkanya terus melonjak, seolah memiliki harga yang tak dapat ditawar. SPP, uang kas, iuran ini dan itu—semua menumpuk menjadi gunung yang mustahil didaki oleh mereka yang hidup di garis kemiskinan. Di sinilah luka kemerdekaan itu terlihat begitu nyata.
Ketika seorang anak cerdas yang bersemangat menuntut ilmu, terpaksa melipat tasnya dan berhenti bersekolah. Bukan karena ia malas. Bukan karena ia tak mampu. Melainkan karena ayahnya tak lagi mampu membayar sepeser pun uang yang diminta sekolah. Karena ibunya tak lagi punya apa-apa untuk dijual demi menyambung harapan anaknya.
Bayangkanlah perasaan anak itu. Saat ia melihat teman-temannya berangkat ke sekolah dengan seragam rapi dan wajah ceria, ia hanya bisa berdiri di ambang pintu, menahan air mata yang hendak jatuh. Ia tahu, ia tak bisa ikut serta. Bukan karena ia kalah bakat atau kalah kemampuan, melainkan karena ia lahir dari keluarga yang tak punya cukup uang.
Pada saat itulah terasa pedih sekali: Bagaimana bisa kita berkata merdeka, jika hak untuk belajar saja masih menjadi barang mewah yang tak terjangkau oleh sebagian besar rakyat kita? Bagaimana bisa kita berteriak merdeka, ketika masa depan anak-anak bangsa masih dipasung oleh keterbatasan dompet dan ketidakadilan yang terselubung?
Belum selesai di situ. Di tengah keterbatasan yang membelenggu, kita juga menyaksikan kemerosotan akhlak yang semakin mengkhawatirkan. Generasi muda yang seharusnya menjadi penerus bangsa, kini terjebak dalam arus pergaulan bebas yang tak mampu lagi dibendung.
Tauran antar pelajar merajalela. Bahkan, pertikaian antarwarga pun kerap meletus karena hal-hal yang seharusnya dapat diselesaikan dengan bijak. Yang lebih memilukan, narkoba kini merambah ke mana-mana, mengancam masa depan generasi yang seharusnya sehat, kuat, dan berakhlak mulia.
Ancaman ini datang bukan dari musuh di luar negeri, melainkan dari kelalaian kita sendiri—ketika kemerdekaan hanya dimaknai sebagai kebebasan tanpa tanggung jawab, kebebasan tanpa arah dan pegangan.
Seringkali, ketika berbicara tentang masalah yang ada di negara ini, kita justru terjebak dalam pertengkaran dan saling menyalahkan satu sama lain. Seolah menunjuk kesalahan pihak lain mampu menyelesaikan segala kesulitan yang ada, padahal saling menyalahkan bukanlah jalan keluar yang sejati. Diperlukan tangan yang saling menjalin, bukan jari yang saling menuding. Diperlukan kesadaran bahwa kita semua adalah bagian dari bangsa yang sama, yang nasibnya saling terhubung dan tak dapat dipisahkan.
Mari kita kembali kepada pertanyaan itu: Di manakah letak kemerdekaan yang sebenarnya?
Kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah yang tertulis di atas kertas proklamasi saja. Bukan pula yang terlihat saat bendera merah putih dikibarkan di tiang bendera setiap tujuh belas Agustus. Kemerdekaan yang sejati adalah ketika tidak ada lagi anak bangsa yang kelaparan karena mahalnya harga pangan. Ketika tidak ada lagi anak yang putus sekolah semata-mata karena tak mampu membayar biaya pendidikan. Ketika setiap orang tua dapat tersenyum tenang, karena tahu masa depan anak-anaknya terjamin dan terbuka lebar bagi siapa saja yang berusaha—bukan bagi siapa saja yang kaya raya.
Kemerdekaan yang sejati adalah ketika kita bebas dari kebodohan, bebas dari kemiskinan, bebas dari rasa takut dan cemas akan hari esok. Ketika akhlak bangsa kembali terangkat tinggi, ketika generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang mendidik, bukan yang merusak. Ketika keadilan benar-benar terasa menyentuh setiap lapisan masyarakat, bukan hanya bagi mereka yang berkuasa dan kaya, melainkan juga bagi mereka yang kecil, lemah, dan terpinggirkan.
Selama masih ada anak yang putus sekolah karena tak mampu membayar SPP, selama masih ada keluarga yang kesulitan makan karena harga sembako terus naik, selama masih ada generasi yang hancur karena narkoba dan pergaulan bebas, maka kemerdekaan itu belum sepenuhnya kita miliki. Kita mungkin telah merdeka dari penjajahan bangsa asing. Namun, kita belum merdeka dari penjajahan kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan yang lahir dari bangsa kita sendiri.
Perayaan tujuh belas Agustus yang akan datang, bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga sebuah ikrar dan komitmen bersama. Komitmen kita untuk membangun Indonesia yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera bagi seluruh rakyat.
Jangan biarkan kata “merdeka” hanya menjadi seruan di hari perayaan saja. Jadikanlah itu sebagai tekad untuk benar-benar membebaskan negeri ini dari segala bentuk penderitaan dan ketidakadilan agar kelak tak ada lagi anak yang menangis karena tak bisa bersekolah. Tak ada lagi orang yang menderita karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Dan tak ada lagi generasi yang hancur karena kehilangan arah dan pegangan.
Saat itulah, dan hanya saat itulah, kita dapat berkata dengan lantang dan penuh keyakinan: Ya, kita memang sudah merdeka. Merdeka sepenuhnya, merdeka dalam arti yang sesungguhnya.
Dirgahayu untuk Indonesiaku!
***
Judul: Di Manakah Letak Kemerdekaan yang Sesungguhnya?
Penulis: Neneng Salbiah
Editor: JHK
Sekilas tentang pengarang
Wanita kelahiran Bogor, 02 Juni 1978 bernama lengkap Neneng Salbiah ini aktif menulis artikel dan novel di berbagai platform. Tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika ini juga merupakan seorang ibu rumah tangga, ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.