Magot: Solusi Sederhana Mengurai Sampah Organik dari Rumah

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Jumat (29/05/2026) – Artikel berjudul “Magot: Solusi Sederhana Mengurai Sampah Organik dari Rumah” ini merupakan karya Maesaroh, seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak.

Sampah rumah tangga sering kali dianggap masalah kecil, padahal jika terus menumpuk dapat menjadi persoalan lingkungan yang serius. Dalam kegiatan PPI XI pada 31 Maret 2026, Ibu Dewi Trihandayani memperkenalkan salah satu solusi pengolahan sampah organik yang kini semakin banyak digunakan, yaitu budidaya maggot.

Maggot merupakan larva lalat yang berperan penting dalam mengurai sampah organik. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa terdapat perbedaan antara lalat hijau dan lalat hitam. Lalat hijau dikenal sebagai penyumbang penyakit karena sering hinggap di tempat kotor. Sementara itu, lalat hitam BSF (Black Soldier Fly) justru dimanfaatkan karena membantu mengurai sampah dan tidak membawa penyakit seperti lalat rumah biasa.

Info Grafis: Lalat Tentara Hitam (Black Soldier Fly) – (Sumber: BJN)

Siklus hidup BSF cukup singkat, sekitar 45 hari. Prosesnya dimulai dari telur yang menetas dalam waktu sekitar tiga hari menjadi baby maggot. Pada fase awal ini, maggot perlu diberi makanan yang halus. Setelah berusia sekitar 10 hari, maggot tumbuh menjadi ukuran sedang hingga akhirnya menjadi maggot dewasa pada usia 10–14 hari.

Menariknya, maggot memiliki kemampuan luar biasa dalam menghabiskan sampah organik. Sebanyak 10.000 ekor maggot mampu mengurai sekitar 5 kilogram sampah organik hanya dalam waktu 24 jam. Karena itu, maggot menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, terutama di tengah persoalan penumpukan sampah di berbagai daerah seperti Tempat Pembuangan Akhir Sarimukti.

Namun, dalam perawatannya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Kondisi media tidak boleh terlalu basah maupun terlalu kering karena dapat membuat maggot kabur. Maggot juga akan tumbuh lebih gemuk jika diberi makanan yang mengandung karbohidrat seperti nasi. Sebaliknya, sayuran yang mengandung pestisida atau boraks dapat menyebabkan maggot mati.

Setelah memasuki fase prepupa, warna maggot berubah menjadi hitam. Pada tahap ini maggot berhenti makan dan mulai bersiap berubah menjadi pupa sebelum akhirnya menjadi lalat BSF bersayap. Lalat jantan dan betina kemudian kawin, lalu betina meletakkan telur pada celah-celah kayu pinus yang disebut eggies.

Selain membantu mengurai sampah, maggot juga memiliki nilai ekonomi. Maggot kering dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan, seperti lele, ayam, bebek, burung, hingga kucing. Untuk benih lele yang masih kecil, maggot biasanya direndam terlebih dahulu agar lebih mudah dimakan.

Sisa maggot mati dan ampas penguraiannya pun tidak terbuang percuma. Hasil akhirnya disebut kasgot, yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik bagi tanaman.

Dari kegiatan ini terlihat bahwa pengelolaan sampah sebenarnya bisa dimulai dari rumah dengan cara sederhana. Maggot bukan sekadar belatung, tetapi bagian dari solusi ekologis yang membantu mengurangi sampah sekaligus memberi manfaat ekonomi dan lingkungan. (Maesaroh).

***

Judul: Magot: Solusi Sederhana Mengurai Sampah Organik dari Rumah

Penulis: Maesaroh, M.Sos.

Editor: JHK

Sekilas tentang Penulis

Maesaroh, M.Sos adalah seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak. Baginya, setiap anak lahir dengan potensi dan keunikannya masing-masing. Karena itu, tugas orang tua bukan mengubah anak sesuai keinginan, melainkan menangkap sinyal fitrah yang telah Allah titipkan sejak lahir.

Maesaroh
Maesaroh, M.Sos., penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa SMA. Dari kebiasaan menulis itulah, biidznillah, ia mendapatkan beasiswa bantuan pendidikan dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak BJ Habibie hingga menyelesaikan pendidikan S1. Sejak saat itu, menulis menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus ia rawat hingga hari ini melalui artikel, puisi, cerpen, antologi, dan proses penyelesaian buku solo yang sedang diusahakan.

Setelah menikah pada 2014, Maesaroh lebih banyak membersamai anak-anak sebagai full time mom. Baginya, masa membersamai tumbuh kembang anak adalah amanah berharga yang tidak akan terulang kembali. Di tengah aktivitas rumah tangga, ia tetap aktif menulis setiap hari, belajar, serta berusaha menghadirkan karya yang bermanfaat bagi sesama.

Sebagai lulusan Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, Maesaroh aktif berkarya dalam bidang komunikasi, dakwah, pendidikan, parenting, dan literasi keluarga. Ia juga dipercaya menjadi Tutor Universitas Terbuka pada 2026. Melalui tulisan dan proses belajar yang terus dijalani, ia berharap dapat menghadirkan manfaat, menginspirasi banyak orang, serta menebar kebaikan melalui karya dan keteladanan hidup.

“Berkarya dengan hati, menginspirasi negeri.”

***