Cerpen “Dino Nyaris Terbakar Dendam Kesumat”

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom SASTRA/CERPEN, Sabtu (30/05/2026) – Cerita pendek (cerpen) berjudul “Dino Nyaris Terbakar Dendam Kesumat”  ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko,  seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.

Dino tinggal berdua dengan Emaknya di sebuah rumah yang beranda belakangnya cukup luas. Beranda itu semakin terasa luas karena hanya ada sebuah samsak yang menggantung setinggi orang dewasa dan sepasang sarung tinju berwarna hitam teronggok di atas meja.

Samsak itu bentuknya persis sosis raksasa yang dibalut kulit sapi bertekstur lembut. Dino menjadikan samsak itu sasaran pukulan bogem mentahnya.

Tidak setiap pagi Dino menggasak samsak, tidak juga setiap sore. Kadang hanya sepekan sekali. Kadang juga pagi, siang dan sore dalam sehari, tergantung pada kadar emosinya. Semakin tinggi kadarnya semakin sering dia menggasak.

Setiap kali menggasak samsak Dino bisa menghabiskan waktu hingga satu jam, atau kadang juga hanya seperempat jam. Seenak hati dia saja. Seringkali diselingi beberapa kali jeda minum kopi pahit panas buatan Emak.

Samsak itu sungguh “menderita” karena sering kena gasak. Kalau bisa ngomong, tentu akan teriak kesakitan, babak-belur terkena pukulan upper cut, jab, dan hook kanan-kiri bogem Dino.

Lelaki kerempeng yang sekarang berumur sedikit di atas 20 tahun ini sedari kecil bermimpi memiliki tubuh yang bagus, atletis dan berotot. Sejak kecil pula dia sudah menekuni bermacam jenis olahraga. Renang, senam, volley, sepakbola dan jogging. Sayang, tidak ada satupun yang merubah bangun tubuhnya. Dia tetap kerempeng.

Dino berusaha sangat keras karena tidak mau lagi tubuhnya terus-terusan menjadi bahan olok-olok teman-temannya. Ketika masih SMP, hampir setiap ketemu teman bermain selalu ada saja yang mulutnya gatel. Salah satunya Jalal.

Jalal yang umurnya lebih muda, tapi badannya lebih besar, suatu hari ngomong, “Hahaha.., badan kok kayak biting (biting, bahasa Jawa= lidi), makan yang banyak dong…”. Teman-teman lain pada ketawa ngakak.

“Hai ngomong apa kamu…, jaga mulutmu,” kata Dino membentak tidak terima diejek. Dengan muka memerah didekatinya kawan bermainnya itu. Sebaliknya, Jalal dengan langkah mantap mendekat sambil tambah mengolok, “Kenapa, kerempeng!”

Didorong emosinya, tanpa ba bi bu, Dino merangsek memukul lebih dulu. Terjadilah baku pukul. Tidak butuh waktu banyak, dengan beberapa kali pukul, Dino roboh, terjerembab. Bibirnya berdarah dan pipinya biru lebam. Diraba dan diusap-usap bekas pukulan Jalal, sakit sekali.

Ilustrasi: Saat SMP, Dino sempat berkelahi dengan temannya karena sering diejek – (Sumber: BJN)

Peristiwa hari itu sangat membekas di benak Dino. Sakitnya tidak hanya di pipi, tapi sampai ke hati, hati yang paling dalam. Bukan hanya itu, di hari lain, ada yang mengolok-olok tubuhnya yang memang kurus. Kata seorang teman saat itu, “Dino tuh harusnya makan pagi dua piring, biar tubuhnya gak kurus kering.”

“Ah.., iya betul tuuh,” sahut teman-temannya Dino.

“Makannya banyak kok, tapi cuma numpang lewat,” kata yang lain, disambut tawa ramai-ramai.

Dino sungguh kesal, katanya, “Awas kamu yaa…”

“Hehehe.., iya deh…, awas,” kata si pengolok-olok sambil mencibir.

Setiap kali mendapat ejekan, Dino tidak bisa berbuat apa-apa selain pulang dan mengadu ke Emak. Jawaban Emak singkat sekali, “Ya, kamu makan yang banyak Nak…”

Meski jawaban itu kurang memuaskan hatinya, tapi suara Emak yang lembut dan teduh sudah sangat berarti bagi anak lelaki ini. Dia merasa seperti mandi di pancuran, suara Emak membuat adem sekujur tubuhnya.

Lama-lama Dino merasa alam sekitar ini sungguh kejam. Olok-olok tidak berhenti di badan kerempeng, wajahnya pun juga. Itu terjadi saat Dino beranjak remaja. Dia yang suka dan ingin bergaul dengan teman sebaya ikut nongkrong bareng di pinggir jalan.

Jika ada cewek lewat mereka ramai-ramai menggoda, misalnya, “Hai, mau kemana cewek manis?”

Godaan itu lalu ditambah siulan-siulan khas anak muda. Dino pun ikut menggoda, “Waduh cantik amat, siapa namanya nih…., boleh ikut?”

Alih-alih dijawab, Dino malah diolok-olok oleh teman-temannya sendiri, “Haha…, cowok hitam kayak kamu mana ada cewek yang mau, hidung pesek lagi.”

Dino terdiam dan lalu tertunduk merenungi mengapa anak-anak tengil itu mengejekku lagi dan lagi?Sesempurna apa tubuh mereka sampai menghinaku serupa itu?

Olok-olok itu sungguh kelewat batas sampai-sampai Dino tidak bisa marah lagi. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Menantang berkelahi? Itu sia-sia belaka karena akan muncul ejekan-ejekan lain lagi. Lagipula badannya pun kecil, sekali senggol bakal roboh. Mereka banyak dan berbadan gede-gede.

Dino hanya bisa menyimpan kedongkolannya di dalam hati. Dia simpan dalam ingatan nama-nama yang suka mengolok-olok, menghina dan menyakiti hati. Diantara mereka, Jalal ada di urutan paling atas.

Terbakar oleh ejekan Dino berusaha memperbaiki penampilannya. Dia coba menambah porsi makan, namun itu hanya membuatnya menjadi lebih sering ke belakang. Badannya pun tidak kunjung membesar. Dino kecewa tapi tidak sampai membuatya putus asa.

Hidupnya yang terus-terusan dirundung kecewa tidak menyurutkan gelegak darah mudanya. Apalagi, walaupun jauh dari sebutan lelaki ganteng tapi Dino merasa punya kelebihan, masa depannya cerah, dia anak tunggal dan akan mewarisi toko sembako Emaknya.

Karena itulah, entah karena nekad atau rasa percaya diri yang melebihi takaran, Dino memberanikan diri mendekati Tari, cewek menarik yang tinggal tidak jauh dari rumahnya. Mereka berdua bukan orang asing, mereka seumuran dan dibesarkan di lingkungan yang sama. Mereka sudah lama saling mengenal.

Sesekali Dino dan Tari ketemu di jalan. Kadang saling menyapa di Masjid saat ada pengajian atau ngobrol saat menemani Emak masing-masing menghadiri hajatan tetangga. Usaha mendekati Tari sudah Dino lakukan. Setiap ada kesempatan selalu digunakannya untuk ngobrol berdua.

Sebenarnya Tari tidak cantik-cantik amat, namun sangat istimewa di hati Dino. Jangankan senyumnya, sandal jepitnya pun menarik untuk dipandang. Jangankan bajunya, bayangan tubuhnya pun membuat angannya melayang-layang. Jangankan kerudungnya, pagar di depan rumah Tari pun membikin jantungnya tergetar. Namun Dino tahu diri dan berusaha menahan diri. Dia merasa bimbang dan ragu. Kata teman-temannya dulu, ketika mengejeknya, mana ada perempuan yang mau sama dia, lelaki berkulit gelap, kerempeng dan berhidung pesek.

Ejekan dan hinaan membuat Dino minder untuk mendekati Tari. Beberapa kali lelaki ini membatalkan niatnya tapi tidak pernah berhasil. Usaha keras untuk melupakan Tari selalu gagal. Semakin dilupakan malah semakin lekat diingatan. Maka, Dino berbalik nekad akan menembak langsung Tari untuk menjadi kekasihnya. Kata hatinya, akan kudatangi dan kutembak Tari.

Ternyata menembak cewek tidak segampang yang dia pikir. Rasa takut, bimbang dan ragu selalu membayangi. Dia terus mengumpulkan rasa percaya dirinya sambil mencari waktu yang pas dan kata-kata yang tepat untuk menembak.

Dino sadar, pasti bukan hanya dirinya yang tertarik pada Tari. Dia tidak mau terlambat menembak. Dia tidak mau didahului laki-laki lain.

Tanpa menunggu keberaniannya memuncak, Dino kirim pesan ke Tari memberitahu niatnya untuk main ke rumahnya. Sayangnya pesan itu, sekian lama ditunggu, tak kunjung berbalas.

Pantang menyerah, Dino memutusan untuk datang ke rumah pujaannya pada hari baik. Hari baik itu adalah, Jumat, tanggal duapuluh empat pada pukul tujuh seperempat malam.

Hari baik itu pun tiba, dengan langkah mantap dan tegap Dino berjalan kaki ke rumah Tari.Tidak sampai sembilan menit sudah sampai tujuan.  Di depan rumah pujaannya ada sepeda motor parkir. Entah kendaraan milik siapa, Dino tidak peduli.

Pantang mundur, Dino membuka pintu pagar dan masuk ke halaman. Belum sampai ke pintu rumah, Tari mendatanginya dengan senyum ramah. Senyum yang selama ini membuat jantung lelaki muda ini berdegup keras.

Bibir Dino tergetar saat mengucap salam. Dengan tetap ramah Tari membalas salam. Lalu, “Apa kabar Tari?” kata Dino.

Tari menjawab, “Kabar baik Mas…”

Dua insan itu diam beberapa saat. Dalam diam Dino menunggu diajak masuk. Tapi ajakan masuk itu tak kunjung terdengar. Tari tampak bingung dan memutar-mutar ujung kerudungnya. Akhirnya kata-kata ini yang Dino dengar dari bibir mungil Tari, “Maaf Mas, aku lagi ada tamu. Lain waktu ya.”

Langsung saja Dino berpamitan, “Oh ya sudah, maaf, saya pamit.”

Dino ngeloyor pulang dengan rasa malu segunung. Untung hari sudah gelap, merah wajahnya tidak terlihat. Dia jalan sambil menunduk dengan perasaan campur aduk, ada kecewa, kalah dan merasa menjadi manusia tanpa harga.

Kakinya terus melangkah, apapun yang menghalangi disepak, ada kerikil, batu-batu kecil, kaleng bekas minuman dan sampah-sampah jalanan lainnya tidak ada yang luput dari tendangan.

Tari telah menolaknya. Dino sangat paham. Memang tidak ada kata-kata penolakan dari bibir mungil Tari, tetapi bukankah menolak itu tidak harus selalu dengan kata-kata?

Dino tidak menduga sama sekali. Keberanian dan kebulatan niat yang sudah dihimpun sekian lama berakhir sebegitu rupa. Hasratnya untuk melangkah pasti dengan seorang gadis pupus sebelum berkembang. Pendekatannya selama ini sia-sia.

Hatinya bergumam, begini rupanya rasanya ditolak, sungguh sakit, lebih sakit dibanding dulu ditonjok Jalal.

Tiba-tiba kepala Dino seperti disambar petir, lelaki tadi kok mirip sekali dengan Jalal. Atau dia memang Jalal?

Tadi, dari sudut matanya, Dino memang melihat ada lelaki berdiri di ruang tamu. Dia yakin sekali, lelaki di rumah Tari tadi adalah Jalal yang dulu pernah merobohkannya. Rasa tidak sukanya kepada Jalal semakin menggunung, menambah rasa kesal yang sudah memenuhi hatinya. Rasa kesal itu membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. 

Esok harinya sebelum makan pagi dia melampiaskan kekesalan hatinya ke pohon pisang di pekarangan rumahnya. Digasaknya pohon pisang itu dengan tinjunya. Keringat bercucuran membasahi tubuhnya. Dino puas dan lega hati saat memukul pohon pisang sampai roboh. Pagi hari itu dia merobohkan lima pohon pisang.

Melihat pohon pisang tanamannya pada roboh, emaknya marah. Dengan suara bergetar menahan amarah, dipanggilnya anak semata wayangnya: “Dino…, sini Emak bilangin ya…”

“Iya Mak,” jawab Dino. Dia tahu Emak marah, “Emak tidak tahu kamu kesal dan jengkel sama siapa. Jengkel itu lumrah Nak, tapi sejengkel apapun kamu, tidak boleh kamu lampiaskan sampai merugikan orang lain.”

“Ya Mak, maafin aku Mak,” kata Dino sambil meraih dan mencium tangan Emak. Dia sangat menyesal telah membuat Emak kehilangan kesempatan memanen lima tandan pisang.

Ternyata ejekan dari teman dan penolakan dari cewek masih dia alami dan alami lagi. Sampailah Dino pada titik puncak kejengkelan. Dino mengurangi pergaulan dan tidak mau lagi mendekati cewek secantik apapun.

Dino tidak bisa lagi menggasak pohon pisang. Dari situlah Dino mendapat gagasan membeli samsak sebagai penggantinya. Dengan gembira dia berolahraga menggasak samsak. Lebih bahagia lagi bisa sekaligus melampiaskan kekesalan hati.

Ditulisnya pada kulit samsak nama-nama orang yang pernah menyakitinya. Nama Jalal ada di urutan paling atas, disusul nama-nama lain termasuk Tari dan daftar nama di samsak semakin bertambah dengan nama-nama pengejek dan cewek penolak cintanya.

Kadang sengaja Dino memukul samsak tepat pada tulisan Jalal. Pada kali lain dilakukannya tepat di tulisan Tari dan seterusnya, tergantung tingkat emosinya saat itu. Lalu, secara pelahan, tapi pasti, tanpa disadari Dino tumbuh menjadi orang yang mulai belajar menyimpan dan menimbun sakit hati.

Roda kehidupan terus berputar. Dino makin bertambah pandai memungut kerikil-kerikil pahit.  Kerikil pahit itu juga datang dari para penghutang di Toko Sembako milik Emaknya. Orang-orang penghutang yang jika ditagih malah menjawab dengan omongan yang tidak enak didengar.

Kata Dino suatu hari, “Bu, maaf, kasbon ibu sudah banyak, tolong dibayar ya.”

Si penghutang menjawab, “Eaalaaah Mas, negara saja punya hutang, masak aku gak boleh ngutang.”

Dalam hati Dino menyahut, dasar gendeng.

DDaftar nama di samsak semakin panjang. Daftar itu suatu hari ditanyakan Emak. Kata Emak, “Itu nama-nama siapa yang ada di samsak Nak?”

“Itu nama-nama orang-orang yang menyakiti hati aku Mak, juga nama-nama yang pada ngutang, tapi gak bayar Mak,” jawab Dino.

Kata Emak lagi, “Ooooh, untuk kamu pukul dan gasak Nak? Apa gunanya? Itu hanya akan merusakmu Nak.”

“Tapi aku kesal Mak,” timpal Dino.

Lalu Emak menjawab, “Percaya Emak Nak, itu tidak ada gunanya, malah merusak dirimu sendiri.”

Emak lalu meneruskan dengan cerita tentang dirinya sendiri, “Emak ini ditinggal Bapakmu entah kemana dan entah karena apa, Emak tidak tahu. Kamu pikir Emak tidak sakit hati Nak? Sakit sekali. Tapi itu sudah Emak kubur dalam-dalam. Emak sejak itu hanya berpikir untuk membesarkan kamu Nak.”

Emak masih meneruskan, “Emak sudah merasakan sendiri, sakit hati hanya merusak ketenangan dan mengganggu kesehatan, salah-salah Emak bisa gila sendiri Nak.”

Dino menarik nafas dalam-dalam dan mendengarkan dengan seksama. Dia melihat Emak ngomong penuh perasaan, matanya memerah dan beberapa tetes air mata sudah membasahi pipinya.

“Dengarkan, Emak tidak mau kehilangan kamu karena rusak akibat penyakit yang kamu bikin sendiri Nak. Emak tidak mau kehilangan anak lelaki hanya karena suka menyimpan dendam,” kata Emak terbata-bata.

“Paham kan Nak?” Tanya Emak.

“Paham Mak,” jawab Dino.

“Mulai besok, belajar menjalani hidup yang nyata. Silahkan kamu urus toko kita ini Nak, urus dengan baik dan besarkan toko kita ini,” kata Emak, “Emak yakin kalau toko kita ini tumbuh, ejekan dan hinaan akan hilang. Cewek-cewek juga akan berbaris ingin jadi pendamping hidupmu Nak.”

“Iya Mak,” jawab Dino dengan nada ragu akankemampuannya.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan pertama Nak.?” Tanya Emak.

“Menghapus nama-nama di samsak Mak,” jawab Dino.

“Itu tidak cukup Nak,” kata Emak tegas, “Turunkan samsaknya dan bakar sampai jadi abu, seolah membakar sakit hatimu.”

“Haaah…, mahal itu Mak,” kata Dino.

“Emak gak peduli, kamu bisa olahraga dengan mengangkat karung beras, karung gula, galon-galon, minyak goreng dan lain-lain. Itu akan membuatmu berkeringat,” kata Emak dengan nada sangat serius.

“Ya Mak,” jawab Dino. 

Esok harinya, sepanjang hari Dino sibuk bukan main mengurus tokonya. Dia bahkan tidak sempat minum kopi kesukaannya. Malam harinya dia sibuk menghitung penghasilan toko hari itu.

Hari-hari berikutnya Dino tidak kurang sibuknya. Emaknya suka sekali dengan perubahan anaknya. Dino memang terbakar dendam kesumat tetapi tidak sampai jadi abu. Masih ada semangat hidup yang menyala.

***

Judul: Dino Nyaris Terbakar Dendam Kesumat

Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko

Editor: Jumari Haryadi

Tentang Penulis/Pengarang:

Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Sarkoro Doso Budiatmoko
Pengarang/Penulis: Sarkoro Doso Budiatmoko – (Sumber: koleksi pribadi)

Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.

Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.

Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.

Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.

***