BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Jumat (29/05/2026) – Artikel berjudul “Buruh Jadi Garda Terdepan Cegah Bencana” ini ditulis oleh Suryani, seorang ibu rumah tangga kelahiran Jakarta yang kini menetap di Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Sebagai langkah nyata mengatasi banjir bandang, Bupati Dadang Supriatna mengerahkan 90 ribu pekerja di Kabupaten Bandung untuk menanam masing-masing minimal dua bibit pohon. Aksi pelestarian lingkungan yang digerakkan bersama serikat buruh ini nantinya diawasi secara langsung di area tempat tinggal serta kawasan industri oleh koordinator masing-masing. (tribun.news.com, 13/05/2026).
Fakta penyebab yang melatar belakangi permasalahan
Pertama, pembangunan yang hanya mencari keuntungan semata. Tanah kosong yang harusnya menyerap air hujan malah ditutup semen untuk perumahan, pabrik, atau ruko karena sistem kapitalisme cuma mengejar keuntungan komersial. Akibatnya, air kehilangan resapan alami dan langsung berubah menjadi banjir bandang.

Kedua, penghuni kota terlalu padat. Semua pusat lowongan kerja menumpuk di kota besar. Warga desa pun ramai-ramai pindah, tetapi karena harga tanah mahal, kelas pekerja terpaksa mendirikan permukiman padat di sepanjang bantaran sungai yang mempersempit ruang gerak air.
Ketiga, banyaknya sampah yang membuat sungai menyempit. Kepadatan di pinggir sungai yang tidak punya sistem kelola limbah membuat sampah dan limbah industri dibuang sembarangan. Sungai jadi dangkal dan menyempit, sehingga saat hujan deras, air langsung meluap ke rumah warga
Keempat, menanam pohon saja bukan solusi. Aksi menanam pohon tidak akan mempan selama akar masalahnya dibiarkan. Menanam bibit baru tidak bisa membongkar hutan beton di kota atau memperlebar sungai yang telanjur sempit, sehingga banjir tetap akan datang lagi.
Kelima, pemerintah mengalihkan fungsi lahan atas nama aksi sosial. Mewajibkan buruh menanam pohon adalah cara halus pemerintah untuk lepas tangan. Mengatur tata ruang kota dan menghentikan pengusaha perusak alam adalah tugas mutlak negara, bukan beban yang harus digeser ke pundak pekerja.
Kesimpulannya:
Kapitalisme yang menjadi latar belakang masalah. Banjir musiman ini adalah buah dari sistem kapitalisme yang mendewakan uang dan mengizinkan eksploitasi alam demi segelintir pemilik modal. Selama kesuksesan kota cuma diukur dari nilai investasi, rakyat kecil akan terus menjadi korban tahunan. Lahan adalah Amanah, Bukan Ladang mencari keuntungan semata
Solusi Islam
Dalam sistem Islam, tanah dan alam tidak boleh dikuasai pengusaha secara serakah hanya demi mencari untung. Lahan dianggap sebagai amanah dari Allah yang harus dikelola demi keselamatan bersama. Negara tidak akan mengizinkan kawasan resapan air atau hutan lindung disulap menjadi ruko atau pabrik. Pembangunan kota wajib diatur secara ketat agar fungsi alami tanah sebagai penyerap air tetap terjaga dengan baik.
Negara Bertanggung Jawab Penuh Beresin Infrastruktur. Negara tidak akan melempar tanggung jawab penanggulangan banjir kepada buruh atau rakyat kecil. Pemimpin wajib turun tangan langsung membangun sarana pencegah banjir secara gratis menggunakan dana negara.
Aksi nyatanya meliputi:
- Normalisasi Sungai: Mengeruk sungai yang dangkal dan memperlebar alirannya secara berkala.
- Waduk & Kanal: Membuat danau buatan dan saluran air (kanal) raksasa untuk menampung luapan air hujan.
- Drainase Bagus: Membangun selokan yang raksasa dan saling terhubung di perkotaan agar air cepat mengalir.
- Aturan Tegas: Melarang keras pembuangan sampah ke sungai dan menyediakan sistem pembuangan sampah yang modern serta merata untuk warga.
***
Judul: Buruh Jadi Garda Terdepan Cegah Bencana
Penulis: Suryani, Ibu Rumah Tangga
Editor: JHK