BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Rabu (04/11/2026) ─ Artikel berjudul “Jejak Kesejahteraan yang Menetas dari Telur Ayam” ini ditulis oleh Ina Agustiani, S.Pd., yang sehari-hari bekerja sebagai aktivis pendidikan dan pegiat literasi.
Sebutir telur terdiam dalam cangkang rapuh,
menyimpan janji bagi dapur yang lama menunggu asap mengepul.
Ia kecil di mata banyak orang,
tetapi besar bagi mereka yang menggantungkan masa depan pada usaha dan ketekunan.
Barangkali kesejahteraan tidak selalu datang dengan gemuruh,
kadang ia hadir dalam langkah-langkah sederhana yang nyaris tak terdengar.
Menetas dari kandang rakyat, tumbuh bersama harapan,
lalu meninggalkan jejak-jejak kebaikan yang panjang.
Telur ayam menyimpan potensi ekonomi yang lebih besar dari sekedar bahan pangan harian dan bisa menjadi komoditas yang menjanjikan kesejahteraan. Oleh karena itu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama beberapa lembaga perbankan nasional menginisiasi ekosistem kemitraan terpadu (closed-loop) pada sektor peternakan ayam petelur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
Darwisman selaku kepala OJK Provinsi Jawa Barat menyampaikan rencana penguatan ekonomi daerah yang jadi pondasi penting untuk mendukung visi besar Indonesia Emas 2045, targetnya mencapai pertumbuhan ekonomi tembus 8 persen. Wujud nyata dari program ini adalah “ENDOG: Jabar Go Global, Ti Lembur ka Global, Ngawangun Ekonomi Jabar” yang berarti membangun ekonomi Jawa Barat dari kampung hingga menembus pasar mancanegara. Program ini melibatkan sekitar 4.665 pelaku usaha peternak ayam petelur, dari individu ataupun perseroan, tersebar di 21 sentra peternakan wilayah Jabar.
Darwisman menjelaskan mengenai rencana strategis dari penguatan ekonomi ini yaitu menjaga stabilitas pangan dengan peningkatan produksi, meningkatkan kesejahteraan peternak, mendukung efisiensi MBG melalui pasokan langsung peternak ke SPG sehingga terjadi penghematan biaya, dan mendorong penyaluran kredit usaha raktyat (KUR) dengan proyeksi mencapai Rp456,5 miliar melalui skema KUR mikro tanpa agunan tambahan.

OJK Jabar meresmikan pelepasan ekspor 7.000 ekor bibit anak ayam serta 6,3 ton produk olahan unggas senilai 22.000 dollar AS ke Timor Leste, serta target perluasan pasar berikutnya ke Brunei, Malaysia, dan Myanmar. Nota kesepahaman dilakukan antara Bank BJB, BNI, Mandiri dengan mitra peternak, hal dilakukan karena para peternak dihadapkan pada tantangan operasional dan permodalam kompleks. Mulai dari pengadaan bibit dan pakan, fluktuasi harga, dan kepastian pasar.
Kapitalisme dan Kedaulatan Pangan
Penguasa ekonomi dalam sistem saat ini adalah kapitalisme yang semua transaksi berbasis keuntungan dan manfaat bagi pemilik kekuasaan. Kebutuhan rakyat dikesampingkan padahal ada andil dalam tugas jajaran kekuasaan.
Naik turunnya harga telur bisa dijadikan contoh mekanisme produksi dan distribusi yang tidak seimbang. Di sisi produksi, peternak menghasilkan telur dalam jumlah besar, sementara daya serap pasar (konsumen, industri, program pemerintah) tidak sebanding dengan itu. Akhirnya menjadikan stok menumpuk di kandang maupun gudang. Kondisi ini diperparah oleh tingginya biaya pakan yang membuat margin keuntungan makin tipis.
Dari sisi distribusi, rantai pemasaran yang panjang menyebabkan telur sulit diserap merata ke berbagai daerah. Selain itu kendala logistik dan hadirnya tengkulak membuat harga telur sampai di konsumen tidak selalu turun dan ada perbedaan harga di tingkat peternak bisa jatuh drastis.
Jadi terkadang harga telur bukan hanya fenomena pasar, tetapi dari kelebihan produksi yang tidak terkendali dan distribusi tidak mampu seimbang dari jalur produksi ke konsumen. Dalam hal ini saja sudah menjadi masalah akibat ketidakadilan sistem.
Program kemitraan pun hanya memberikan manfaat jangka pendek dan menengah bagi peternak, karena fluktuasi harga, ketergantungan bahan baku tertentu, dan lemahnya posisi tawar peternak di hadapan pelaku usaha yang punya modal besar.
Sementara di sisi lain, biaya pakan tinggi menjadi tekanan untuk pelaku usaha, menunjukkan peningkatan produksi tidak otomatis menjamin kesejahteraan peternak jika tata kelola distribusi, harga dan skema pasar belum berpihak pada rakyat. Terutama yang lebih penting adalah apakah peternak kecil semakin mandiri, apakah angka kemiskinan berkurang secara nyata, dan apakah ketergantungan mereka terhadap berbagai risiko pasar dapat diminimalkan.
Kedaulatan Pangan Ala Islam
Mekanisme yang dibangun menunjukkan bahwa semua yang dilakukan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat. Pemimpin berfungsi sebagai raa’in (pengurus) mempunyai kewajiban syara untuk menangani langsung guna menjaga stabilitas harga komoditas strategis (pangan). Semua dilakukan untuk kesejahteraan rakyat mencegah permainan spekulan dan ketergantungan impor, maka stabilitas harga menjadi pondasi kemakmuran karena pangan adalah kebutuhan primer yang menyangkut keberlangsungan hidup.
Sistem Islam Kaffah tidak menjadikan impor sebagai kebijakan, negara akan memaksimalkan SDA dalam negeri, potensi lahan dilihat secara optimal, selain itu riset dan inovasi menjadi hal penting agar produksi pangan ternak lokal mampu memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan. Ketahanan pangan tidak bergantung pada pasokan luar negeri, tetapi berdiri kuat dan mandiri di atas kekuatan produksi domestik.
Teknis utama yang harus dihilangkan adalah rantai pasokan panjang dan berbelit yang menambah biaya distribusi dan memicu kenaikan harga. Dalam Islam negara memastikan kelancaran ini, setiap jalur distribusi tanpa hambatan. Mekanisme yang mudah dan lancarnya birokrasi, menjamin harga tetap stabil.
Dalam kitab Ajhizatu ad-Daulah al-Khilâfah (hlm. 222) dijelaskan bahwa strategi mengatur kepentingan masyarakat harus dilandasi kesederhanaan aturan, kecepatan pelayanan, dan profesionalitas pengurus. Prinsip ini diambil dari realitas pelayanan kepentingan itu sendiri
Peternak juga harus mendapat perlindungan terhadap risiko usaha maka negara membantu pembiayaan aksesnya dengan mudah diberikan jaminan keberlangsungan pasar dan ikut menjaga stabilitas harga, dengan demikian kesejahteraan bukan sifatnya sesaat tetapi mampu bertahan dalam jangka yang panjang.
Ini relevan dengan yang disampaikan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab An-Nizham al-Iqtishadi fi al-Islam, Islam memisahkan dengan tegas antara problem produksi dan distribusi. Krisis pangan terjadi bukan hanya kurangnya produksi ayam dan telur, melainkan lambatnnya jalur distribusi akibat motif laba sepihak.
Islam bisa memetakan volume produksi dan menggerakkan armada negara untuk memindahkan kelebihan pasokan dari daerah surplus ke daerah defisit pangan secara langsung, bukan mencari keuntungan tertinggi, tapi demi mewujudkan keadilan pemenuhan pangan harian rakyat.

Pada akhirnya, program telur ayam sebagai alat pengentasan kemiskinan di Jawa Barat merupakan langkah yang layak diapresiasi karena membuka peluang ekonomi bagi masyarakat dan memperkuat sektor peternakan daerah. Namun, kemiskinan merupakan persoalan yang lebih kompleks daripada sekadar persoalan produksi dan akses modal. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan yang lebih mendasar dan berorientasi pada pengurusan rakyat secara menyeluruh.
Dalam pandangan Islam, kesejahteraan tidak lahir semata dari tumbuhnya aktivitas bisnis, tetapi dari hadirnya tata kelola ekonomi yang adil, melindungi masyarakat, dan memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi secara berkelanjutan. Dengan pendekatan semacam inilah pengentasan kemiskinan tidak hanya menjadi program, melainkan menjadi kenyataan yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Wallahu A’lam.
***
Judul: Jejak Kesejahteraan yang Menetas dari Telur Ayam
Penulis: Ina Agustiani, S.Pd.
Editor: JHK
Sekilas Penulis
Ina Agustiani, S.Pd. adalah seorang penulis wanita yang aktif sebagai pendidik dan pegiat literasi di Jawa Barat. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa online, di antaranya tulisan berjudul “Putus Sekolah Putus Harapan: Jabar Tertinggi” yang dimuat di media online inijabar.com pada Rabu, 11 Oktober 2023.
Tulisan Ina Agustiani, S.Pd. lainnya berjudul “Derita Keluarga dan Pendidikan di Masa Pandemi” yang terbit di media online radarindonesianews.com pada 29 Desember 2020. Tulisan ini dibuat saat wabah Pandemi Covid-19 sedang melanda Indonesia.
Kemudian tulisan berjudul “Merdeka Belajar, Tapi Tak Merdeka Kritik” yang terbit pada 10 November 2020 di media yang sama.Kemudian tulisan tentang pendidikan berjudul “Saat Kisruh Zonasi Masih Mendominasi” terbit di Suara Muslimah Jabar pada 29 Juli 2023 dan tulisan berjudul “Sawang Sinawang Turunnya Kemiskinan di Jawa Barat” yang terbit di media online terasjabar.co pada 2 Agustus 2023.