BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Kamis (10/09/2026) ─ Artikel berjudul “Menjaga Bumi: Merawat Alam dan Adil pada Insan” ini ditulis oleh Ina Agustiani, S.Pd., yang sehari-hari bekerja sebagai aktivis pendidikan dan pegiat literasi.
Bumi bukan sekadar tanah,
ia amanah,
titipan Allah.
Ari sungai,
udara,
pepohonan,
semua menanti tangan manusia menjaga.
Hak sesama bukan sekadar perkataan semata,
ia cahaya keadilan yang harus ditegakkan,
Islam mengajarkan adab dan kasih,
agar tiada yang terzalimi, tiada yang tersisih.
Pendidikan bukan hanya teori,
ia jalan membentuk akhlak sejati,
mengajarkan anak menjaga bumi,
menghormati hak,
menolak aniaya.
Untuk memperkuat koneksi pendidikan dan menjaga alam, Dinas Pendidikan bersama River Cleanup Indonesia dan River Cleanup Belgia memperkuat pendidikan lingkungan melalui program berkelanjutan di tiap satuan pendidikan. Programnya bernama Plastic Clever School yaitu pengembangan sekolah percontohan, ke depannya rencana penyusunan nota kesepahaman.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto berpendapat program lingkungan di sekolah harus berlandaskan tiga nilai yaitu: ekologi, sosial, dan spiritual. Gerakan lingkungan tidak hanya bersih-bersih, tetapi membangun karakter dan kepedulian melalui praktik nyata. Selain itu mendorong keterlibatan peserta SMA/SMK sebagai relawan komuitas River Cleanup Indonesia di setiap kabupaten.

Dengan kolaborasi ini para pelajar tidak hanya memahami persoalan sampah plastik, tetapi mampu melakukan aksi di sekolah dan komunitasnya, mewujudkan sungai bersih dan bebas sampah plastik, goalsnya menjadikan generasi muda sebagai penggerak perubahan aksi nyata menjaga lingkungan.
Fakta Lapangan
Program ini menegaskan contoh kolaboratif dalam memperkuat pendidikan lingkungan berkelanjutan di sekolah, serta penanaman nilai Hak Asasi Manusia (HAM) sejak dini agar setiap orang mempunyai hak untuk mencegah perundungan dan diskriminasi dengan menekankan bahwa pendidikan tak hanya soal akademik tetapi juga pembentukan karakter dan kepedulian sosial. Namun, sayangnya kebijakan yang ada hanya terhenti pada program teknis yang dibebankan kepada sekolah, lembaga swasta, dan murid. Seolah negara lepas tangan, tanpa menyentuh akar masalah yang lebih dalam.
Pendidikan lingkungan yang berkelanjutan di satu sisi memang penting, tetapi jika hanya sebagai program tambahan maka akan kehilangan daya dorong. Dunia pendidikan kadung tertanam bahwa terpisah dengan keagamaan yang akan membawa keselamatan, itu juga tidak relevan, padahal seharusnya dengan fokus pada lingkungan, anak dapat melihat begitu besarnya ciptaan Allah dan tanggung jawab di bumi untuk menjaga sebaik-baiknya karena itu amanah.
Inilah pendidikan pragmatis yang melihat persoalan hanya satu sudut saja, apalagi dalam hal hal tataran sektor administratif negara, pendidikan dilihat sebagai pelayanan publik yang keberhasilannya dari administrasi dan serapan anggaran. Pendidikan bukan hanya sekedar proyek pembangunan atau investasi ekonomi, tetapi adalah hak dasar dalam menentukan kualitas generasi di masa depan.
Jadi, jika ada pendidikan lingkungan berkelanjutan dengan tujuan menegaskan pendidikan anti bully dan semacamnya, merata untuk semua pelajar. Pengadaannya oleh negara, tidak dengan kerja sama pihak asing.
Para ahli yang kritis terhadap sekularisme dan kapitalisme menilai bahwa kedua sistem tersebut gagal memberikan solusi menyeluruh. Menurut Dr. Anis Malik Thoha, sekularisme memisahkan agama dari kehidupan, sehingga nilai moral dan spiritual terpinggirkan. Sementara kapitalisme menempatkan keuntungan materi sebagai tujuan utama, yang pada akhirnya mengabaikan aspek kemanusiaan dan keberlanjutan lingkungan. Pandangan ini memperkuat hujjah bahwa pendidikan harus kembali pada nilai-nilai yang integral, bukan sekadar teknis.
Perspektif Islam
Islam punya sejumlah aturan yang memiliki tujuan tinggi untuk pembentukan akhlak dan perdaban serta menyiapkan generasi yang unggul untuk mencetak manusia yang bervisi dunia dan akhirat yang sejalan dengan kehidupan karena baginya hidup itu untuk investasi di yaumul hisab. Pendidikan dipandang membentuk manusia sebagai khalifah di bumi dan diberi amanah menjaga alam seperti dalam Q.S. Al Baqarah ayat 30.
Pendidikan lingkungan bukan hanya program yang kemudian menjadi bias lalu memuai tanpa makna, melainkan bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral yang menekankan penghormatan terhadap hak-hak manusia. Rasulullah SAW bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya disakiti.” (H.R. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa penghormatan terhadap HAM sejatinya sudah menjadi bagian dari ajaran Islam.
Cara yang ditempuh Islam bersifat komprehensif yaitu dengan pendidikan yang orientasinya pada pembentukan akhlak, jadi lingkungan dan HAM tidak bisa dipisahkan dari itu karena akhlak yang mengarahkan manusia untuk menjaga alam dan menghormati sesama. Selain itu, pendidikan Islam harus memasukkan nilai substansif bukan hanya formalitas. Ada aksi nyata menjaga amanah lingkungan dan konsep adil menghormati hak orang lain (terutama dalam fasilitas bersama).
Selanjutnya negara harus hadir sebagai pengatur utama bukan hanya fasilitator. Negara bertanggungjawab memastikan pendidikan sejalan dengan tujuan syariat, dengan kolaborasi lintas sektor karena akan saling berkaitan dengan yang lainnya. Semua dilakukan sesuai dengan tujuan pendidikan Islam, bukan menggantikan perannya dengan mengajak negara lain untuk menanggung beban yang sama.
Jadi pendidikan lingkungan berkelanjutan dan HAM dalam kebutuhan yang urgensitasnya harus dirasakan bersama dan penanamannya harus dilakukan sejak dini. Segala upaya menunjukkan bahwa akar masalahnya belum tersentuh. Oleh karena itu Islam menawarkan solusi dengan begitu pendidikan tidak hanya melahirkan generasi cerdas tetapi juga bertanggung jawab menjaga alam dan menghormati hak sesama manusia.
Dengan sistem Islam, negara hadir dalam sektor pendidikan sehingga dalam sejarah peradabannya bisa membangun banyak madrasah, sekolah, perpustakaan hingga pusat penelitian. Para ilmuwan memperoleh dukungan sehingga mampu menghasilkan berbagai karya yang menjadi rujukan dunia selama berabad-abad. Ini menunjukkan bahwa negara benar-benar memandang bahwa pendidikan adalah investasi peradaban yang cara pandangnya bersifat universal. Wallahu A’lam.
***
Judul: Menjaga Bumi: Merawat Alam dan Adil pada Insan
Penulis: Ina Agustiani, S.Pd.
Editor: JHK
Sekilas Penulis

Ina Agustiani, S.Pd. adalah seorang penulis wanita yang aktif sebagai pendidik dan pegiat literasi di Jawa Barat. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa online, di antaranya tulisan berjudul “Putus Sekolah Putus Harapan: Jabar Tertinggi” yang dimuat di media online inijabar.com pada Rabu, 11 Oktober 2023.
Tulisan Ina Agustiani, S.Pd. lainnya berjudul “Derita Keluarga dan Pendidikan di Masa Pandemi” yang terbit di media online radarindonesianews.com pada 29 Desember 2020. Tulisan ini dibuat saat wabah Pandemi Covid-19 sedang melanda Indonesia. Kemudian tulisan berjudul “Merdeka Belajar, Tapi Tak Merdeka Kritik” yang terbit pada 10 November 2020 di media yang sama.
Kemudian tulisan tentang pendidikan berjudul “Saat Kisruh Zonasi Masih Mendominasi” terbit di Suara Muslimah Jabar pada 29 Juli 2023 dan tulisan berjudul “Sawang Sinawang Turunnya Kemiskinan di Jawa Barat” yang terbit di media online terasjabar.co pada 2 Agustus 2023.