Janji Apresiasi dan Realita yang Tertinggal: Kisah Guru Honorer di Balik Program Makan Bergizi Gratis

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Sabtu (29/08/2026)  Artikel berjudul “Janji Apresiasi dan Realita yang Tertinggal: Kisah Guru Honorer di Balik Program Makan Bergizi Gratis” merupakan karya Neneng Salbiah, seorang tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika yang juga merupakan seorang ibu rumah tangga –  ibu dari satu orang putri dan satu orang putra. 

Di tengah upaya besar negara untuk memastikan setiap anak bangsa mendapatkan asupan gizi yang layak, sebuah kebijakan baru lahir membawa harapan sekaligus pertanyaan. Surat Edaran Nomor 5 Tahun 2025 yang diterbitkan Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan satu hal penting: guru honorer/ Karyawan diprioritaskan untuk memegang peran sebagai penanggung jawab Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah-sekolah penerima manfaat. Sebagai wujud penghargaan atas tambahan tugas dan tanggung jawab yang berat, mereka berhak menerima insentif yang nilainya disesuaikan dengan beban kerja.

Dikutif dari media online Detik News, Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang menjelaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar aturan administratif semata.

Neneng Salbiah
Neneng Salbiah, penulis – (Sumber: Kompasiana)

“Pemberian insentif ini bukan sekadar kompensasi finansial, melainkan bentuk pengakuan tulus atas dedikasi dan kontribusi guru / karyawan dalam mendukung keberhasilan program yang menyasar anak sekolah, santri pondok pesantren, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita,” ujar Nanik dalam keterangan resmi yang disampaikan pada Selasa, 30 September 2025.

Besarnya insentif yang dijanjikan berkisar antara Rp50.000, Rp60.000, hingga mencapai Rp100.000 per hari penugasan. Penentuannya didasarkan pada jumlah makanan yang dikirim dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke sekolah masing-masing. Dana tersebut bersumber dari anggaran operasional SPPG dan diatur agar dicairkan setiap sepuluh hari sekali. Mekanisme pelaksanaan serta pertanggungjawabannya pun ditegaskan harus berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kepada seluruh pihak yang mengelola SPPG agar melaksanakan dan mengawasi pemberian insentif kepada setiap guru atau karyawan yang telah ditunjuk sebagai penanggung jawab. Jangan sampai ada yang terlewat, apalagi disengaja tidak disalurkan,” tegas Nanik kembali mengingatkan.

Setiap sekolah/instansi yang menerima manfaat MBG wajib menunjuk 1-3 orang guru honorer/ Karyawan sebagai penanggung jawab distribusi makanan, melalui kebijakan tersebut, BGN berharap motivasia guru honorer/karyawan semakin meningkat, sehingga peran mereka dalam memastikan kelancaran distribusi MBG serta peningkatan status gizi anak bangsa dapat berjalan secara optimal.

Sangat disayangkan, harapan yang dibangun di atas niat baik negara kerap kali berbenturan dengan kenyataan pahit di lapangan. Masih ada saja sekolah atau instansi terkait yang seolah menutup mata dan telinga terhadap aturan yang sudah ditetapkan. Janji yang tertulis rapi di atas kertas, perlahan menguap tak berbekas saat menyentuh realita pelaksanaan.

Banyak guru honorer/Karyawan yang akhirnya hanya memikul beban tugas penuh tanpa pernah merasakan setitik pun apresiasi yang dijanjikan. Mereka menunggu untuk memastikan makanan datang tepat waktu, memeriksa kebersihan, membagikan porsi dengan teliti, hingga mencatat setiap detail penerima manfaat.

Ternyata,  angka yang tertulis dalam aturan itu tak pernah sampai ke tangan mereka. Seringkali alasan yang diberikan berputar-putar: “belum ada anggaran turun”, “sedang diproses”, atau “diatur oleh manajemen”, padahal kenyataannya dana itu sudah ada, namun tertahan di tangan pihak yang tidak berhak.

Lebih memilukan lagi, ketika insentif tak kunjung datang, semangat yang awalnya berkobar perlahan meredup. Tugas-tugas pendukung yang tak kalah penting—seperti pendataan detail kondisi kesehatan anak, pemantauan perkembangan asupan gizi hingga penilaian keragaman dan kecocokan menu makanan—mulai terabaikan. Bagaimana mungkin seseorang bisa bekerja dengan sepenuh hati dan pikiran yang tenang, jika keringat dan waktu yang ia curahkan seolah tidak dihargai sama sekali?

Guru honorer/karyawan PIC adalah mereka yang setiap hari hadir dengan pengabdian sederhana namun mendalam. Mereka adalah bagian dari fondasi yang sering kali terlupakan, tetapi tak pernah berhenti berjuang.

Ketika negara berjanji untuk memuliakan peran mereka lewat program ini, harapan itu tumbuh besar. Namun, ketika janji itu dikhianati oleh kelicikan segelintir orang maka bukan hanya uang yang hilang. Rasa percaya juga ikut hilang, termasuk semangat pengabdian, dan kepercayaan bahwa kebaikan akan selalu dibalas dengan keadilan.

Program Makan Bergizi Gratis hadir untuk memberi harapan bagi masa depan generasi penerus. Namun, program ini tak akan pernah tegak kokoh jika mereka yang memegang peran paling depan, yang bersentuhan langsung dengan anak-anak setiap harinya, justru dibiarkan berjuang sendirian tanpa dukungan yang layak.

Semoga kebijakan mulia ini benar-benar sampai ke tangan yang berhak, tanpa terpotong, tanpa ditunda, dan tanpa dikhianati lagi. Karena penghargaan yang tepat waktu dan adil bukan hanya soal materi, melainkan bukti bahwa pengabdian mereka dilihat, dihargai, dan dijunjung tinggi sebagaimana mestinya. Semua ini dilakukan agar niat baik ini utuh sampai ke tujuan: perut yang kenyang, gizi yang terpenuhi, dan pengabdi yang dihargai dengan benar. 

***

Judul: Janji Apresiasi dan Realita yang Tertinggal: Kisah Guru Honorer di Balik Program Makan Bergizi Gratis

Penulis: Neneng Salbiah

Editor: JHK

Sekilas tentang pengarangWanita kelahiran Bogor, 02 Juni 1978 bernama lengkap Neneng Salbiah ini aktif menulis artikel dan novel di berbagai platform. Tenaga pendidik non formal, kreator digital, dan aktivis sosial di bidang psikotropika ini juga merupakan seorang ibu rumah tangga,  ibu dari satu orang putri dan satu orang putra.