Dr. Edy Panjaitan Presentasikan Musik Piano Indonesia di Konferensi Musik Klasik di New York

BERITA JABAR NEWS (BJN), Jakarta, Rabu  (13/05/2026) – Dr. Edy Panjaitan adalah seorang pianis dan ahli musik yang baru-baru ini meraih gelar Ph.D. dalam Seni Interdisipliner (Jalur Artist – Scholar), dengan fokus Musikologi/Etnomusikologi dan Piano Performance dari Ohio University. Ia mendalami piano di bawah bimbingan Prof. Christopher Fisher dan melakukan penelitiannya di bawah supervisi Prof. Garret Field.

Karya ilmiah dan artistik Dr. Edy Panjaitan menjembatani dunia pertunjukan dan penelitian dengan minat musikologi yang berpusat pada repertoar piano oleh komponis Indonesia terkemuka, Ananda Sukarlan, serta lanskap musik klasik Indonesia yang berkembang dan seni global. Pendekatan interdisiplinernya mencerminkan komitmen yang kuat untuk mengintegrasikan praktik pertunjukan dengan penyelidikan budaya dan etnomusikologi.

Pada Sabtu (9/05/2026) lalu Dr. Edy Panjaitan diundang oleh American Musicological Society (AMS) ─ sebuah organisasi nirlaba yang didirikan tahun 1934 dan kini beranggotakan sekitar 3000 tokoh musik dari 40 negara ─ di New York University, New York City untuk memaparkan karya-karya piano terpenting Ananda Sukarlan.  

Dr. Edy Panjaitan saat mempresentasikan Musik Piano Indonesia di Konferensi Musik Klasik di New York pada Sabtu (09/05/2026) – (Sumber: Lasman Simanjuntak/BJN)

“Ananda Sukarlan diakui sebagai salah satu pianis-komposer paling berpengaruh di Indonesia, yang kontribusinya telah secara signifikan membentuk musik klasik kontemporer dan pendidikan musik baik secara nasional maupun internasional. Di antara karya-karya terpentingnya adalah rangkaian lengkap Rapsodia Nusantara, kumpulan 44 komposisi piano yang menunjukkan sintesis luar biasa antara idiom musik Indonesia dan tradisi klasik Barat,” ungkap Dr. Edy Panjaitan saat membuka presentasinya.

Salah satu materi presentasi Dr. Edy Panjaitan – (Sumber: Lasman Simanjuntak/BJN)

Tokoh Asia Paling Berpengaruh

Ananda Sukarlan telah didaftar sebagai salah satu “100 Asian Most Influential” atau 100 Tokoh Asia paling berpengaruh dalam bidang seni oleh majalah Tatler Asia (Hong Kong). Selain dianugerahi penghargaan tertinggi untuk warga sipil dari Kerajaan Spanyol “Real Orden de Isabel la Católica”, Ananda Sukarlan juga pernah dianugerahi gelar kesatriaan “Cavaliere Ordine della Stella d’Italia” oleh Presiden Italia Sergio Mattarella pada 2020.

Ananda Sukarlan juga merupakan seniman Indonesia pertama yang diundang Portugal tepat setelah hubungan diplomatik Indonesia dan Portugal pada tahun 2000. Studi ini meneliti Rapsodia Nusantara secara keseluruhan dengan perhatian khusus pada tuntutan teknik virtuoso dan artistiknya.

“Saya berpendapat bahwa Rapsodia Nusantara mewakili bentuk nasionalisme pianistik di mana teknik virtuoso dan desain komposisi berfungsi sebagai strategi estetika untuk mengubah repertoar musik Indonesia menjadi literatur piano klasik global,” papar Dr. Edy Panjaitan pada ajang prestisius ini.

Menurut Dr. Edy Panjaitan, dengan menganalisis bagaimana unsur-unsur musik tradisional Indonesia diubah dalam kerangka pianistik Barat, studi ini menyoroti kemampuan komposer untuk membangun identitas musik yang unik yang berakar secara budaya dan beresonansi secara global. Penelitian ini berfokus pada pendekatan estetika Sukarlan, mengeksplorasi baik teknik pianistik maupun dimensi komposisi yang mendefinisikan siklus tersebut.

Melalui lensa kritis dan interpretatif, tesis ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang repertoar klasik Indonesia sekaligus menawarkan wawasan tentang keahlian komposisi Sukarlan.

“Tesis ini mengusulkan kerangka interpretatif yang dapat bermanfaat bagi pianis, komposer, dan pendidik dalam mendekati karya penting ini,”  lanjut Dr. Edy Panjaitan.

Leluhur Masyarakat Batak Toba

Dr. Panjaitan menerima Penghargaan Peningkatan Mahasiswa (Student Enhancement Award) untuk melakukan penelitian etnografi tentang ritual penggalian tulang leluhur masyarakat Batak Toba dengan fokus khusus pada musik gondang sabangunan. Penelitian etnografi hibrida yang dilakukannya berlangsung di Sianjur Mulamula, sebuah situs leluhur yang memiliki makna budaya dan sejarah yang mendalam. Ia juga memperoleh sertifikat sebagai konduktor (dirigen) pascasarjana di bawah bimbingan Profesor Jose Rocha.

Dr. Edy Panjaitan menampilkan perdana album debutnya, Odyssey, dalam resital piano solo dan mempersembahkan pemutaran perdana dunia komposisi instrumental etnik orisinalnya, Bonapasogit, di Festival New Music Pellegrini dan Konferensi dan Festival Seni Global Internasional. Ia telah menerima kelas master dan bimbingan dari pianis dan pendidik ternama internasional, termasuk Lilya Zilberstein, Ewa Pobłocka, Rena Shereshevskaya, Elena Margolina-Hait, Michal Tal, Sondra Tammam, Fei-Fei Dong, dan Ananda Sukarlan.

Dalam akun Instagramnya Dr. Edy Panjaitan menulis, “I am deeply honored and excited to present my newest research, the complete set of 44 piano works from Rapsodia Nusantara, the monumental masterpiece by Indonesian Maestro, Ananda Sukarlan at this conference. The American Musicological Society Greater New York Chapter has been an inspiring and supportive community for both scholars and artists.

Para intelektual musik yang berpartisipasi menampilkan presentasi mereka selain Dr. Panjaitan adalah Tristan Wilson (pemain viola, komponis dan musikolog dari Detroit, Michigan), Joseph S. Kaminski (College of Staten Island), Dr. Juliet Pascal Glazer (Boston College), MyungJin Oh  (Rutgers University) dan Carol Kitzes Baron (SUNY Stonybrook). (Lasman Simanjuntak).

***

Judul: Dr. Edy Panjaitan Presentasikan Musik Piano Indonesia di Konferensi Musik Klasik di New York

Kontributor: Lasman Simanjuntak

Editor: Jumari Haryadi