BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom SASTRA, Selasa (29/09/2026) – Cerita pendek (cerpen) berjudul “Tentang Dua Orang Lelaki Tua” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
Hanya tinggal sejengkal lagi tangan Cipto meraih dan membuka pintu masuk ke kantor bank. Namun dalam hitungan detik, dari dalam seorang Satpam sudah lebih dulu membukakan pintu. Petugas keamanan kantor berbadan kekar dan berpakaian seragam rapi itu menyambutnya dengan ucapan hangat, ”Selamat pagi, selamat datang di kantor kami.”
Setiap awal bulan Cipto ke kantor ini untuk mengambil uang pensiun. Jumlah uangnya tidak banyak, tetapi dia mensyukuri dan menggunakannya dengan hati-hati untuk hidup sebulan, itupun kadang tidak cukup terutama saat banyak kebutuhan.

“Selamat pagi,” jawab Cipto.
“Ada yang bisa kami bantu pak?”
“Ya, saya mau ke Teller.”
“Oh baik,” kata Satpam yang kemudian mengambilkan nomor antrian untuk Cipto.
“Wah., nomor 154, bakal menunggu lama nih,” kata Cipto.
“Jangan khawatir Pak, ruang tunggunya nyaman, mudah-mudahan tidak bosan,” Satpam menimpali.
“Wah, alhamdulillah, terimamkasih,” kata Cipto.
“Sama-sama Pak. Tadi Pak Yudo juga datang dan sudah menunggu di dalam,” kata Satpam dengan ramah, lalu mendampinginya berjalan menuju tempat Yudo duduk. Cipto dan Yudo belum lama saling kenal di kantor ini karena sama-sama mengambil uang pensiun.
Tidak sampai 15 langkah menuju Yudo, tetapi berjalan didampingi Satam berbadan kekar membuat Cipto merasa seperti pejabat dikawal ajudan, apalagi langkah-langkah sepatu Satpam berbunyi “teplak-teplak-teplak” berwibawa.
Dua lelaki itu, Cipto dan Yuda, pun bertemu. Keduanya, lelaki yang sudah beranak-cucu dan sangat layak disebut tua. Keduanya terlihat kegirangan. Mereka berjabat tangan sambil mengguncangkan tangan tanda kehangatan. Siapa yang tidak girang bersua kawan akrab yang hanya terjadi satu kali dalam satu bulan.
Kegirangan mereka berdua menular ke Satpam. Begitulah, rasa girang, senang dan bahagia memang gampang menular. Sambil melangkah berbalik badan, Satpam berpamitan dengan sumringah, berucap, “Silahkan Bapak-bapak, semoga hari ini menyenangkan.”
Dua lelaki itu serentak menjawab, tidak dengan kata-kata, tetapi dengan bahasa tubuh masing-masing. Cipto memberi senyuman lebar, sedangkan Yudo memberi acungan dua jempol tangan ke atas.
Satpam sumringah, gestur sederhana dari dua lelaki senior itu membuatnya, merasa dihargai. Bahasa tubuh memang sering jauh lebih bisa mewakili rasa dari pada sekeranjang rangkaian kata-kata, apalagi kata-kata yang berbusa-busa, tetapi kosong makna.
Dua lelaki tua itu pun kemudian larut dalam obrolan hangat yang nyaris membuat keduanya tak peduli pada kehadiran sesama pengantri di sekelilingnya. Suara mereka kadang naik, kadang turun, kadang diselani bisik-bisik, kadang tertawa terbahak-bahak.
Tangan mereka juga tidak diam, tapi mengepal, melambai atau meninju angkasa. Satu atau dua kali kepala mereka menggeleng atau mengangguk. Kadang bibir mengulum senyum atau manyun. Obrolan penuh ekspresi layaknya dua sahabat yang hanya ketemu saat mudik lebaran.
Sampai pada topik tentang komentar Yudo terhadap Satpam, “Sekarang ini sungguh tidak mudah ketemu orang seramah Satpam tadi, apalagi dia juga gampang kenal dan mudah mengingat nama nasabah. Sekarang ini kan orang cenderung semakin tidak peduli nama orang, nama sendiri pun kadang lupa.”
“Ha …ha…ha, betul itu,” kata Cipto setuju, lalu dilanjut, “Saya baru ketemu dia sebulan yang lalu, tetapi sudah hafal nama saya.“
“Sebenarnya dia Satpam lama, baru dua bulan ini dia ditugaskan di bagian depan,” jawab Yudo.
“Terus Satpam lama yang dulu kita biasa ketemu ke mana, dipecat?” Kembali Cipto bertanya.
Yudo menyahut, “Dia dipindah. Gara-gara terlalu asik minum kopi dan makan mendoan.“
“Hanya karena kesalahan kecil seperti itu dipindah?” Ujar Cipto merasa heran.
“He..he…he, kesalahannya sih karena dia terlalu asik sampai lupa membukakan pintu untuk Bos yang mau masuk kantor,” kata Yudo.
“Ouuwwh, Bos gila hormat tuh, sekarang si Satpam lama itu di mana?” Desak Cipto seperti polisi bertanya pada tersangka.
“Dia dipindah ke dapur,” kata Yudo.
“Laah, mengamankan apa di dapur?” Lagi, Cipto bertanya heran.
“Mengamankan kopi dan mendoan,” ujar Yudo sambil tersenyum lebar disusul ngakak bareng:.
Yudo meneruskan, “Awalnya sebetulnya mau dipecat, tapi untungnya dia punya ordal (orang dalam).”
Mendengar kata-kata ordal, Cipto terdiam. Dia ingat, semasa aktif bekerja dulu dia pernah menjadi korban permainan para ordal. Kerja cerdas dan kerja kerasnya dikerdilkan lalu dinihilkan oleh mulut manis nan berbisa komplotan ordal. Itu pengalaman hidup yang menyakitkan dan sulit dilupakan.
Kini rasa itu menjadi dendam yang tersimpan rapi di dalam hati. Cipto masih terdiam mengenang rasa kesal di hati: Untuk setingkat Satpam saja punya ordal, pasti mengabaikan kinerja unggul, pantesan dipindah ke dapur.
Rasa kesalnya tidak tertahan dan keluar dalam celetukan, “Bisa jadi Bos yang gila hormat itu juga hasil permainan ordal.”
“Waduuh, mungkin juga tuh. Sebenarnya apa susahnya membuka pintu sendiri, dasar gila hormat tuh orang,” timpal Yudo berbisik.
Cipto menyambung, “Ah, kapan majunya negeri ini kalau begini, dipenuhi orang gila hormat dan orang tidak profesional, disuruh jaga keamanan malah minum kopi dan makan mendoan.”
Lalu Yudo mencoba mengalihkan obrolan, “Tapi pak Cipto, di dapur sini gorengan dan kopinya memang enak.”
“Harusnya, seenak apapun kopi dan mendoannya, jangan lupa tugas utama, he..he…he,” ujar Cipto.
Belum puas, Cipto lanjutkan dengan mimik muka serius, “Orang lain sudah maju sampai bulan, eh kita masih gila hormat.” Rasa kesalnya tak tertahan, lanjutnya, “Hebohnya kayak menari Maumere, ke kanan-kiri, ke depan-belakang, berputar, tapi gak kemana-mana, mandeg di situ-situ juga.”
Cipto melirik ke Yudo, yang tampak diam entah memikirkan apa. Dicoleknya tangan kawannya itu, “Iya kan Pak Yudo?”
Pak Yudo agak kaget dan ngomong, “Eeh iya, betul sekali Pak”
Sahut Cipto, “Kapan ya cara-cara ordal itu hilang? Kasihan orang yang tidak punya siapa-siapa kayak anak-anak saya…he…he…he.”
“Tapi bukankah masuk lewat ordal tidak selalu jelek?” Ujar Yudo.
“Selalu ada sisi baik maupun sisi buruk dari segala hal, termasuk dari ordal ini Pak,” kata Cipto, lalu lanjutnya, “Tapi menurut saya, ordal ini lebih banyak sisi buruknya, kecuali bagi yang menikmatinya.”
“Ah, betul juga Pak,” timpal Yudo.
“Salah satu sisi buruknya, dia akan bekerja dibebani hutang budi, paling tidak harus siap punya banyak stok ucapan terima kasih seumur hidupnya,” kata Cipto
“He ..he..he, iya juga ya. Hapus ordal baiknya sih dimulai dari keluarga kita masing-masing,” ujar Yudo.
Lalu Cipto bercerita ke Yudo dengan nada serius bahwa dia sudah memulainya. Dia sudah memberi pesan kepada anak-anaknya sebagai bekal menghadapi kerasnya kehidupanbahwa hidup dan kerja pasti penuh persaingan, hanya sayangnya tidak semua persaingan berjalan sehat, bahkan banyak yang menggunakan cara-cara kotor.
Mendengar cerita Cipto, Yudo menimpali, “Ah, itu seribu persen benar Pak. Bahkan, tidak sedikit yang main belakang.”
Cipto agak gemetar terbawa emosi, meneruskan, “Iya benar Pak ke anak-anak pun saya sampaikan, waspadalah, permainan kotor itu termasuk menyikut, menginjak dan menjilat. Juga memfitnah.”
Yudo mengangguk-enggukan kepala.
Cipto menghela napas panjang, lalu meneruskan, “Maka tidak usah heran kalau yang menang bersaing itu tidak selalu yang terbaik.”
Sambil menatap mata pak Yudo pak Cipto meneruskan, “Saya juga minta ke anak-anak saya agar tidak usah ikut-ikut main kotor. Tetaplah di jalan lurus.”
Ditambahkan oleh Cipto bahwa salah satu nasehatnya kepada anak-anaknya adalah, jika menghadapi persaingan, tetapi merasa kalah pintar, tutuplah dengan rajin belajar, banyak orang pintar kalah oleh orang biasa tapi tidak pernah berhenti belajar.
“Bagus itu pak Cipto, terus?” Kata Yudo penasaran.
Cipto menarik napas dalam-dalam dan lalu melepaskan pelan-pelan seperti melepas beban berat, kemudian meneruskan, “Lalu saya beri semangat, meski tidak ada ordal, tidak usah risau, tidak usah galau, tidak usah khawatir, yang penting jagalah perilakumu.”
“Perilaku yang seperti apa Pak?” Tanya Yudo.
Cipto menjawab, “Kepada anak-anak, saya ajarkan agar selalu jujur, rajin, rendah hati, sopan dan santun, dijamin akan banyak kawan, banyak jaringan, banyak…..”
Omongan Cipto terpotong pengumuman, “Nomor antrian 149 silahkan ke konter lima.”
Ternyata itu nomor Yudo. Sebelum ke konter, dia pesan akan kembali dan minta ditunggu, “Tunggu yaa, semoga sebentar beres.”
Ternyata urusan Yudo di teller memang tidak lama. Cipto agak takjub, urusan Yudo bisa selesai cepat. Lalu tanya, “Kok bisa cepat Pak?“
Yudo yang masih berdiri berbisik ke telinga Cipto, “Pakai ordal Pak.”
“Ha …ha…ha,” Cipto ngakak.
Lalu Yudo kembali duduk di samping Cipto. Begitu pantatnya mendarat, dia langsung nodong, “Terus bagaimana lanjutannya Pak?”
Cipto merasa sudah banyak omong menjawab, “Ah, saya sudah panjang lebar bicara, silahkan gantian Pak Yudo, sekarang giliran saya mendengarkan”
“Okay Pak, sebenarnya saya lebih suka mendengarkan daripada ngomong. Mendengarkan pun tidak mudah kan?” Kata Yudo.
“Iya, betul sekali Pak,” sahut Cipto, lalu dilanjut, “Karena biasanya orang memang lebih suka didengarkan dari pada mendengarkan.”
“Ya Pak, saya suka dengan isi pesan untuk anak-anak tadi,” Timpal Yudo, lalu, “Kini di masa tua, saatnya kita saling mengingatkan kan.”
Sebenarnya kedua laki-laki itu belum tua benar, banyak orang yang lebih tua, tetapi masih ngotot memburu dunia dan berperilaku aneh. Mereka yang harusnya bisa jadi teladan malah pada pamer kemaksiatan
“Saya punya bahan peringatan Pak,” ujar Cipto.
“Apa itu Pak?” Sahut Yudo.
“Saya punya teman yang biasa senam lansia bersama, dua pekan tidak ketemu, ternyata dia wafat,” jawab Cipto.
“Oh maaf, saya ikut sedih,” timpal Yudo.
“Dan sedihnya lagi, dia gak ngabari dulu,” tambah Cipto
Yudo memotong, “Maksudnya teman itu tidak ngabari bahwa dia akan wafat?”
“He..he..he, iya tidak memberi tanda-tanda atau isyarat bahwa dia mau wafat. Dia tuh sehat dan segar-segar saja,” kata Cipto, lalu menambahkan, “Tapi menurut dokter, saat jenazah teman saya itu ditemukan, dia sudah meninggal delapan jam sebelumnya.”
“Oh, kasihan,” kata Yudo, “Itupun setelah pintu rumah dan pintu kamar didongkel, dibuka paksa, ” imbuh Cipto.
“Loh, istrinya di mana? Atau dia memang hidup sendiri?” Tanya Yudo agak mendesak.
“Dia hidup sendiri, istrinya sudah mendahului, anak ada dua tapi jauuuuh,” tambah Cipto.
“Ah, sungguh tragis, memang ajal tidak ada yang tahu,” ujar Yudo, “Padahal sudah diingatkan, jangan pernah mengunci pintu rumah, apalagi pintu kamar,” timpal Cipto, disambung, “Tapi dia tidak mau mendengarkan, lebih suka didengarkan.”
Dua lelaki itu kemudian terdiam, sama-sama merenung sambil agak was-was. Mereka memiliki rasa khawatir yang sama, bernasib sama dengan kawan Cipto. Mereka berdua masing-masing juga hidup sendiri.
Dua lelaki tua itu merenung sambil menunggu Cipto dipanggil Teller.
“Ah, sudahlah,” tiba-tiba Yuda setengah menyergah.
“Kenapa Pak Yudo?” Tanya Cipto pelan.
“Maksud saya, eh.. eh, ya sudahlah,” Yudo seperti orang yang kelepasan omong, diteruskan, “Kita ini pada dasarnya sedang menunggu panggilan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, persis seperti kita sekarang ini menunggu panggilan Teller.”
“He…he …he,” mereka nyengir kuda bersama.
Tiba-tiba nomor antrian 154 yang dipegang Cipto dipanggil. Bergegas dia melangkah ke Teller di konter tiga. Urusan di Teller agak sedikit lebih lama dibanding Yudo sebelumnya. Setelah beberapa waktu, Cipto kembali duduk di sebelah Yudo dengan membawa segepok uang.
Wajah dua orang lelaki berumur ini berubah cerah, ceria, dan hati bungah. Mereka kemudian berdiri bareng-bareng bersiap untuk keluar kantor kembali ke urusan hidup masing-masing.
Baru beberapa langkah keluar pintu, Yudo mengajak, “Kali ini giliran saya mentraktir, ayo ke kantin, minum kopi dan makan mendoan panas, siapa tahu ketemu Satpam lama.”
“Ayo,” sahut Cipto girang.
Benar saja, di depan kantin mereka disambut Satpam yang lama dengan ucapan, “Apa kabar Pak Cipto, semoga sehat selalu.”
Lalu ke Yudo, Satpam lama menyalami sambil ngomong, “Terima kasih Om Yudo, untung ada Om, saya cuma dipindah ke sini.”
***
Judul: Tentang Dua Orang Lelaki Tua
Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: Jumari Haryadi
Tentang Penulis/Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.
Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.
Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.
Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.
***