Ariyo Bimmo Membahas Bandung dari Sisi Pekerja sambil Ngopi Sore di BMC Bandung

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (17/10/2026) — Bandung terkenal dengan industri dan pekerjanya yang kreatif serta berpengalaman. Namun, bagaimana jika cerita tentang kehidupan dan pekerjaan di Bandung dibahas langsung bersama masyarakat dan praktisi hukum serta ahli kebijakan reformasi, Ariyo Bimmo, S.H., LL.M., C.L.D., yang banyak bekerja di  Jakarta?

Peluncuran buku perdana Ariyo Bimmo “Bagaimana Mencari Uang di Bandung?” yang merupakan bagian dari lima serial “Apa Kata Rakyat” berlangsung menarik pada Jumat, 16 Oktober 2026, di Bandoengsche Melk Centrale (BMC) 1928, Bandung. Isu lapangan kerja dan meningkatnya jumlah pengangguran muda di Bandung Raya menjadi salah satu persoalan yang banyak dibicarakan dalam diskusi tersebut.

Buku setebal 182 halaman ini berangkat dari satu pertanyaan sederhana: Kalau hidup di Bandung, sebenarnya mencari uangnya bagaimana? atau  Bagaimana mendapatkan perhasilan yang cukup di Bandung?

Pertanyaan itu membawa Ariyo pada percakapan dengan warga dari berbagai usia, latar pendidikan, pekerjaan, dan pengalaman ekonomi. Ada guru, pencari kerja, pekerja harian, freelancer, pelaku usaha, mahasiswa, hingga pekerja kreatif yang harus menggabungkan beberapa sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pengalaman warga tersebut kemudian dipertemukan dengan data ketenagakerjaan, kondisi ekonomi kota, regulasi, dokumen perencanaan pembangunan, program pemerintah, serta anggaran Kota Bandung.

“Buku ini bukan buku motivasi dan bukan pula buku yang dibuat untuk sekadar mengkritik pemerintah. Saya ingin memulai dari pengalaman orang yang benar-benar hidup, bekerja, dan mencari penghidupan di Bandung,” kata Ariyo.

Menurut Ariyo, buku ini menjadi salah satu cara untuk menyampaikan suara rakyat Bandung melalui pengalaman langsung masyarakat. Bersama editornya, Mariska Lubis, gagasan tersebut dikembangkan menjadi sebuah buku dalam waktu sekitar dua pekan. 

Suasana diskusi yang menarik dalam rangka peluncuran buku perdana Ariyo Bimmo “Bagaimana Mencari Uang di Bandung?” yang berlangsung pada Jumat (16/10/2026) di Bandoengsche Melk Centrale (BMC) 1928, Kota Bandung – (Sumber: BJN)

Ariyo melihat bahwa data memang penting untuk menjelaskan besarnya persoalan. Namun, angka tidak selalu mampu menggambarkan apa yang benar-benar dirasakan masyarakat.

“Saya di Bappenas bekerja dengan data, statistik, dan surat negara yang menjelaskan skala. Cerita menjelaskan rasa. Kita membutuhkan keduanya kalau ingin memahami sebuah kota,” ujar Ariyo.

Ariyo melihat Bandung dengan sejuta potensi anak mudanya kehilangan lapangan kerjanya. Demikian, anak muda Bandung memilih bekerja di Jakarta atau di Luar Negeri. Oleh karena itu ia menjelaskan bahwa Bandung bukan hanya dari bentuk bendungan, tapi ngabandungan (bahasa Sunda: mendengarkan).

Dari Kerja, Upah, sampai Jaringan

Bagaimana Mencari Uang di Bandung? membahas berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan warga, mulai dari ketersediaan pekerjaan, kualitas penghasilan, hubungan pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja, hingga pentingnya keterampilan dan jaringan dalam memperoleh kesempatan.

Buku ini juga mengangkat pengalaman masyarakat yang mempunyai lebih dari satu sumber pendapatan. Ada pekerja yang memiliki pekerjaan tambahan, pegawai yang juga berjualan, freelancer dengan beberapa klien, hingga orang yang meninggalkan pekerjaan tetap untuk membuka usaha, tetapi kemudian merindukan kepastian penghasilan bulanan. Ini dinyatakan oleh responden Wahyu, Lia, Fako, Zaky, dan lainnya.

“Realitas ekonomi warga ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar bekerja atau menganggur. Ada juga yang mengambil banyak pekerjaan sampai harus keluar dari Kota Bandung,” kata Ariyo.

Perubahan teknologi turut menjadi perhatian. Kini, pekerjaan tidak hanya berbentuk kerja kantoran. Pekerjaan di bidang konten digital, marketplace, media sosial, KOL, live streaming, hingga artificial intelligence mulai membuka cara baru bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan.

Sejumlah responden yang hadir juga menyampaikan pandangan mereka tentang perubahan Bandung dan tantangan yang dihadapi anak muda. Bandung dinilai memiliki banyak potensi, tetapi perlu terus berkembang agar warganya memiliki lebih banyak kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan yang layak.

Lima responden yang hadir turut mengomentari bahwa ada kondisi Bandung akan menjadi begitu saja jika tidak berubah. Seperti ulas Guru Tutor bernama Diki.

Responden Nuning juga melihat bahwa Bandung  memang beberapa kali mengalami perubahan yang sangat berbeda dibandingkan Kota Besar lain contohnya di Amerika dalam perbedaan pendapatan daerahnya yang berpengaruh dengan cara bertahan hidup di Bandung. Ada juga responden yang menyampaikan ini tidak sama dengan Amerika, tapi bisa di ibaratkan pusat ekonomi kita di Kota Jakarta adalah Tokyo, sedangkan Bandung adalah Kyoto.

Menurut Ariyo, seseorang tidak harus bekerja di dalam batas administratif kotanya sendiri. Warga Bandung tetap bisa tinggal di Bandung sambil bekerja untuk perusahaan atau klien di Jakarta dan kota lain. Bahkan, kota-kota di  luar negeri.

Kota yang Maju Dimulai dengan Mendengar

Peluncuran buku dikemas melalui acara “Ngopi Sore — Apa Kata Rakyat”, dengan suasana santai ditemani sajian rebus-rebusan, teh, dan kopi. Diskusi melibatkan Ariyo, editor Mariska Lubis, serta responden dari kalangan pelajar, mahasiswa, pekerja lepas, jurnalis senior, dan masyarakat dari berbagai wilayah Bandung.

Melalui serial “Apa Kata Rakyat”, Ariyo ingin menunjukkan bahwa sebelum menentukan jawaban atas persoalan publik, masyarakat perlu didengarkan terlebih dahulu. Baginya, mendengarkan bukan berarti seluruh keluhan harus dianggap benar atau semua keinginan harus dipenuhi. Namun, memahami pengalaman masyarakat merupakan langkah awal sebelum mengambil keputusan.

Banyak harapan yang disampaikan penulis, editor, responden dengan kunci mendengar. Siapakah yang mendengar? Kita semua yang berkiprah di Bandung ini, tidak hanya pemerintahan daerah dan jajarannya. Gagasan tersebut menjadi benang merah buku ini: “Saat rakyat sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, yang mereka butuhkan adalah DIDENGAR”.

Bandung yang kini dikenal sebagai Melting Pot dari berbagai daerah besar hendaknya ngabandungan (mendengarkan).

***

Tentang Buku

Judul: Bagaimana Mencari Uang di Bandung?
Serial: Apa Kata Rakyat
Penulis: Ariyo Bimmo
Editor: Mariska Lubis
Jumlah halaman: 182 halaman (x + 172), cetakan 1, 2026
Ukuran: A5
Harga: Rp75.00

PENERBIT PIMEDIA, Order PO Contact Ziva (+62 896-0270-8181)

Bandung sering disebut kota kreatif, kota pendidikan, kota wisata, dan kota peluang, tetapi bagi warganya, pertanyaan yang paling sederhana sering justru yang paling penting: bagaimana mencari uang dan hidup layak di Bandung?

Melalui wawancara dengan warga dari berbagai usia, latar pendidikan, dan jenis pekerjaan, buku ini merekam pengalaman nyata tentang pekerjaan, penghasilan, usaha kecil, pendidikan, jaringan, teknologi, dan biaya hidup di Kota Bandung. Data, cerita, dan kebijakan dibaca bersama agar Bandung tidak hanya dipahami dari angka, tetapi juga dari suara orang-orang yang menjalaninya setiap hari.

Cover buku “Bagaimana Mencari Uang di Bandung?” karya Ariyo Bimmo – (Sumber: BJN)

Buku ini ditujukan untuk pelajar, mahasiswa, pencari kerja, pelaku usaha, pembuat kebijakan, politisi, dan siapa pun yang ingin memahami Bandung dengan lebih jujur, membumi, dan manusiawi.

Buku ini berisi 12 Kumpulan Hasil Responden sejumlah hampir 50 orang mencangkup pertanyaan berikut :

Apakah Bandung menyediakan cukup peluang bagi orang untuk memperoleh penghasilan yang layak?

Apakah masalah utamanya kekurangan pekerjaan, atau kekurangan pekerjaan yang memungkinkan orang hidup secara layak?

Apa yang paling menentukan keberhasilan seseorang mencari penghasilan: pendidikan, keterampilan, modal, jaringan, teknologi, lokasi, atau faktor lain?

Mengapa sebagian orang mampu menemukan peluang sementara yang lain terus tertahan?

Apa yang berubah dalam lima tahun terakhir dalam cara warga Bandung mencari uang?

Apa hambatan yang sebenarnya dapat dipengaruhi oleh pemerintah kota, dunia usaha, kampus, komunitas, atau kebijakan yang lebih luas?

Ditemukan bahwa isi buku ini bukannya mencela, tapi sebagai evaluasi kita bersama. Jawaban perasalahan cari uang di Bandung tidak akan bisa tunggal juga menurut Ariyo Bimmo. Itulah yang membuat buku ini menarik dan layak di baca.

***

Judul: Ariyo Bimmo Membahas Bandung dari Sisi Pekerja sambil Ngopi Sore di BMC Bandung

Jurnalis: Rose Mariadewi/BJN

Editor: JHK